Sering Dianiaya saat Masih Anak-Anak, Waspada Gangguan Ini

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Sering Dianiaya saat Masih Anak-Anak, Waspada Gangguan Ini

Halodoc, Jakarta - Lingkungan tempat anak tinggal dan bertumbuh turut menyumbang dampak terhadap sisi psikologisnya. Beberapa anak dibesarkan di lingkungan yang mendukung dengan fasilitas yang memadai, tetangga yang turut mengayomi, dan terutama, orangtua yang mengasihi. Sementara, ada pula anak yang bertumbuh di lingkungan yang tidak mendukung dan cenderung mengutamakan kekerasan dalam bergaul. 

Sayangnya, seringnya dianiaya atau mengalami kekerasan ketika anak-anak menimbulkan dampak yang cukup signifikan ketika dewasa. Anak mengalami gangguan psikologi akibat kekerasan atau penganiayaan yang diterimanya. Trauma, menjadi salah satu yang paling sering terjadi sebagai dampaknya. Tidak hanya itu, masih ada lagi gangguan mental yang menghantui akibat dari kekerasan yang diterima sang buah hati. 

Berbagai Dampak yang Terjadi Akibat Kekerasan pada Anak

Setiap anak yang mengalami pelecehan atau penganiayaan memiliki respons mereka sendiri terhadap trauma. Beberapa anak memiliki efek jangka panjang, sementara lainnya bisa pulih lebih cepat dan lebih mudah. Penting untuk diketahui, tidak ada cara yang benar maupun salah bagi anak untuk mengelola dampak dari pelecehan dan penganiayaan yang mereka alami. 

Baca juga: Ini Risiko Kesehatan Mental yang Dialami Oleh Korban Kekerasan Seksual

Lalu, apa saja faktor yang berpengaruh terhadap respons anak pada trauma yang mereka alami? Beberapa hal ini termasuk usia, jenis penganiayaan atau pelecehan yang mereka terima, seberapa sering dan durasi mereka mengalaminya, bagaimana tingkat keparahan pelecehan tersebut, dan hubungan antara anak dengan pelaku penganiayaan. Semakin parah tingkat penganiayaan yang diterima, bisa jadi mereka semakin sulit untuk terus berjuang agar bisa keluar dari jurang trauma. 

Pasalnya, anak mendapatkan dampak yang terbilang signifikan akibat dari penganiayaan yang mereka terima. Ini termasuk luka memar, luka goresan, luka bakar, trauma pada kepala akibat benturan, perkembangan otak yang melemah, terkilir atau patah tulang, kesulitan duduk atau berjalan, nyeri atau gatal pada area intim, kebersihan yang tidak terjaga, kesehatan fisik yang tidak terpelihara, bahkan bisa jadi mereka mengidap penyakit menular seksual. 

Baca juga: 6 Trauma Akibat Kekerasan Seksual

Lalu, apa saja efek psikologis dan mental dari pelecehan atau penganiayaan yang diterima anak? Tentunya, depresi, tingkat percaya diri yang rendah, disosiasi, antisosial, kecemasan berlebihan, sulitnya berhubungan atau mempertahankan hubungan dengan orang lain, ketakutan yang terus-menerus, dan selalu gelisah. Tidak hanya itu, anak juga mengalami gangguan perilaku seperti menyakiti diri sendiri, mengalami gangguan makan, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, kesulitan tidur, dan sering bertindak kriminal. 

Dampak yang Terjadi pada Anak yang Melihat Kekerasan dalam Rumah Tangga

Apakah anak menyaksikan atau mengalami pelecehan bisa sama-sama menimbulkan dampak serius pada tumbuh kembang mereka. Korban kekerasan dalam rumah tangga sering kali adalah anak-anak, dan ini akan membuat mereka sering gelisah, depresi, ketakutan berlebihan, hingga masalah akademik. 

Jadi, ibu dan ayah tidak harus menunggu anak untuk menunjukkan gejala serius. Kalau anak sudah menunjukkan tanda-tandanya, ibu bisa langsung buat janji dengan dokter ahli kejiwaan atau ahli anak di rumah sakit terdekat dengan tempat tinggal. Ibu pun bisa memanfaatkan fitur Tanya Dokter di aplikasi Halodoc untuk bertanya seputar masalah kesehatan anak. 

Baca juga: Ini Alasan Anak Jadi Pelaku Bullying



Referensi: 
Joyful Heart Foundation. Diakses pada 2019. Effects of Child Abuse and Neglect.
Womenshealth. Diakses pada 2019. Effects of Domestic Violence on Children.
Science Daily. Diakses pada 2019. Psychological Impact of Child Abuse.