Stres Dapat Dipicu Kurangnya Interaksi Sosial

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
stres karena kurang interaksi sosial

Halodoc, Jakarta - Stres merupakan reaksi tubuh yang dapat terjadi ketika seseorang menghadapi ancaman, perubahan, atau tekanan. Selain itu, stres dapat terjadi karena situasi atau pikiran yang membuat seseorang menjadi marah, gugup, atau putus asa. Ketika mengalami hal tersebut, tak hanya fisik yang akan mengalami masalah, tetapi juga mental. 

Baca juga: 4 Cara Menjaga Kesehatan Mental Meski Sedang Stres

Stres Dapat Dipicu Kurangnya Interaksi Sosial, Benarkah?

Meskipun memiliki banyak manfaat, gadget juga memiliki sejumlah dampak negatif. Apalagi ditambah dengan hadirnya media sosial yang membuat segelintir orang lebih nyaman berinteraksi dengan gadget ketimbang langsung bertatap muka. Dengan tidak berinteraksi sosial dan bertemu orang lain, seseorang tidak akan bisa bertatap muka langsung dan menceritakan keluh kesah yang dirasakan.

Ketika beban masalah yang dihadapi ditanggung seorang diri, stres dapat muncul. Bukan hanya kurangnya interaksi sosial saja, sejumlah kondisi berikut juga dapat menjadi memicu terjadinya stres:

  • Tekanan Pekerjaan

Stres dapat terjadi ketika adanya tuntutan kesempurnaan hasil kerja dari atasan, serta kesulitan dalam mengimplementasikan rencana kerja. Deadline yang menumpuk dan waktu yang sangat singkat merupakan bentuk pola pikir yang dapat memicu terjadinya stres karena pekerjaan. 

  • Masalah Finansial

Pengeluaran yang melambung tinggi dengan pemasukan yang tidak sesuai merupakan salah satu pemicu stres. Ketika ekonomi yang tidak mencukupi, muncullah ide untuk berperilaku destruktif yang merugikan orang lain untuk mendapatkan sejumlah uang. Seseorang dengan tipe seperti ini bisa saja melakukan pencurian, penodongan, atau perampokan.

Baca juga: 4 Tanda yang Muncul di Tubuh Saat Mengalami Stres

  • Hubungan Pribadi

Pada kasus ini, banyak orang yang mengalami stres karena hubungan pribadinya dengan pasangannya. Ketika hati telah disentuh oleh rasa, maka akan susah membedakan mana yang baik dan buruk bagi dirinya sendiri. Akibatnya, banyak orang yang terus larut dengan kesedihan akibat tekanan psikologis yang dirasakan karena kegagalan dalam percintaan. 

  • Mengidap Sejumlah Penyakit Berbahaya

Ketika kamu mengidap suatu penyakit, stres yang kamu alami akan memperparah kondisi penyakitmu. Pun sebaliknya, penyakit yang dialami juga dapat menyebabkan stres pada pengidapnya. Hal ini terjadi karena penyakit yang tidak kunjung sembuh, biaya pengobatan yang mahal, serta pikiran karena telah merepotkan orang-orang sekitar.

  • Menghadapi Kegagalan

Kegagalan merupakan langkah yang harus dilewati ketika ingin menjajaki jenjang yang lebih tinggi. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi sebagian orang. Orang-orang jenis ini akan berlarut-larut dengan kegagalannya, yang akhirnya memicu terjadinya stres. 

  • Kondisi Mental

Mengidap sejumlah masalah mental dapat menjadi pemicu stres. Apalagi, jika seseorang memiliki sifat yang sangat pemalu dan tidak memiliki kepercayaan diri. Orang jenis ini akan lebih sering mengalami stres jika ingin bertatap muka dengan orang lain.

  • Kematian Orang Tersayang

Dalam hal ini, kamu dapat mengalami kesedihan yang luar biasa. Mengikhlaskan kepergian orang tersayang memang bukan perkara mudah. Diperlukan kelapangan hati untuk terus melanjutkan hidup. Jika terus berlarut dalam kesedihan, stres bisa saja datang.

Baca juga: Ini Fakta, Mendengarkan Musik Bisa Meredakan Stres

Jika mengalami sejumlah faktor risiko tersebut, perlu metode penanganan yang mencakup perubahan gaya hidup, seperti olahraga teratur, menerapkan pola makan sehat bergizi seimbang, membatasi konsumsi alkohol dan kafein, tidur dengan cukup, serta melakukan hobi untuk mengalihkan pikiran.

Jika sudah melakukan langkah mandiri tersebut, tetapi stres yang dirasakan tak kunjung membaik, ini saatnya kamu melakukan psikoterapi. Dengan aplikasi Halodoc kamu bisa langsung membuat janji dengan psikolog di rumah sakit terdekat untuk membantu meredakan masalah psikologis yang tengah kamu alami.

Referensi:
Rethink Mental Illness. Diakses pada 2019. Stress - How to Cope
WebMD. Diakses pada 2019. Causes of Stress.