Sulit Menahan Tawa, Bisa Jadi Efek Pseudobulbar

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Sulit Menahan Tawa, Bisa Jadi Efek Pseudobulbar

Halodoc, Jakarta - Film Joker yang tayang belum lama ini berhasil merebut perhatian penikmat film dunia, termasuk Indonesia. Film ini menceritakan tentang Arthur Fleck, seorang penjahat dari film Batman yang terkenal kejam. Film ini menceritakan tokoh utamanya, Arthur alias Joker adalah pria yang memiliki gangguan mental yang membuat dirinya tidak mampu menahan tawa.

Memang, kelainan ini tidak disebutkan secara spesifik di dalam film, tetapi kemungkinan didasarkan pada gangguan nyata yang disebut efek pseudobulbar. Sebenarnya, apa itu efek pseudobulbar? Bagaimana hal ini bisa terjadi pada seseorang dan bagaimana cara mengatasinya?

Mengenal Efek Pseudobulbar, Kesulitan untuk Menahan Tawa dan Tangis

Efek pseudobulbar adalah kondisi yang menyebabkan terjadinya episode menangis atau tertawa secara mendadak, tidak terkendali, dan tidak sesuai kondisi. Hal ini sering terlihat pada kelainan yang menyebabkan cedera otak atau degenerasi. Episode bisa terjadi di mana saja dari beberapa detik hingga beberapa menit. 

Baca juga: 2 Gangguan Mental yang Mirip dengan Kepribadian Joker

Efek pseudobulbar biasanya terjadi pada orang-orang dengan kondisi neurologis tertentu atau cedera yang memengaruhi cara otak mengendalikan emosi, dan ini lebih umum terjadi pada pengidap stroke, demensia, multiple sclerosis, dan cedera otak traumatis. Tentu saja, ini sangat mengganggu kehidupan sehari-hari dan memicu timbulnya masalah seperti rasa malu, isolasi sosial, dan ketidakmampuan untuk bekerja dan beraktivitas pada beberapa kasus. 

Bagaimana Efek Pseudobulbar Diobati?

Biasanya, dokter merekomendasikan penggunaan obat antidepresan atau kombinasi obat untuk mengatasi efek pseudobulbar. Konseling diperlukan untuk membantu pengidap menangani episode ketika efek ini terjadi. Pengobatan tidak harus selalu menghilangkan gejalanya, tetapi bisa bekerja untuk mengurangi seberapa sering gejala muncul dan seberapa parah kondisinya. 

Baca juga: Terlalu Sering Mengeluh Tanda Gangguan Mental?

Kamu perlu tahu bahwa efek pseudobulbar disebabkan oleh masalah mendasar, sehingga obat dan modifikasi perilaku dapat membantu mengurangi terjadinya kejadian dan tingkat keparahannya, tetapi semua perawatan tidak sepenuhnya menghilangkan kelainan ini. Tidak kalah pentingnya adalah pendekatan dan dukungan dari orang-orang terdekat, termasuk keluarga, pasangan, dan sahabat. 

Menjalani hari dengan efek pseudobulbar memang bisa membuat kamu merasa malu dan meningkatkan stres serta memicu depresi. Sederhananya, kamu hanya perlu menceritakan apa yang terjadi padamu kepada keluarga dan orang-orang terdekat, sehingga tidak terjadi salah paham ketika kamu mengalami salah satu episode dari efek ini. Tidak ada salahnya pula berkomunikasi dengan orang-orang yang turut mengalami kelainan ini, sehingga kamu bisa belajar bagaimana menanganinya ketika gejala muncul. 

Tindakan pertolongan pertama yang bisa dilakukan ketika kamu merasa mengalami episode adalah alihkan perhatian kamu dari semua hal yang memicu terjadinya gejala. Lalu, ambil napas perlahan dan dalam, hembuskan, dan ulangi hingga kamu merasa lebih tenang. Pastikan tubuh kamu berada dalam kondisi relaks, kamu bisa melakukannya dengan mencari posisi tubuh yang tepat.

Baca juga: Ramai Cross-Hijabers, Tanda Transvestisme?

Tidak kalah pentingnya, bicarakan pada dokter ahli semua masalah yang kamu alami, jika kamu merasa orang terdekat sulit mempercayai apa yang sedang terjadi. Kamu bisa menggunakan aplikasi Halodoc dan bertanya langsung kepada dokter, kamu bisa chat kapan saja dan di mana saja. Mudah, bukan?

Referensi: 
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Pseudobulbar Affect.
Prevention. Diakses pada 2019. The Joker’s Laugh is Based on a Real Condition Called the Pseudobulbar Affect. 
WebMD. Diakses pada 2019. Pseudobulbar Affect.