26 October 2018

Terjadi Bila Ibu Hamil Minum Minuman Beralkohol

minum alkohol,hamil

Halodoc, Jakarta - Ibu hamil boleh-boleh saja ke pesta merayakan malam tahun baru yang meriah bersama pasangan, keluarga, dan sahabat. Namun, jika di pesta itu tersedia minuman yang mengandung alkohol, sebaiknya ibu tetap menghindarinya.

Pastinya ibu mengetahui bahwa selama masa kehamilan sebisa mungkin harus menjauhi alkohol. Mungkin bagi ibu yang sebelum hamil terbiasa dengan minum alkohol, agak sulit untuk menghindarinya. Walau sulit, sebaiknya jauhilah alkohol saat kamu hamil. Bahkan, saat ibu sedang merencanakan kehamilan pun sebaiknya hindari minuman beralkohol, karena ini dapat berdampak buruk bagi bayi kamu.

Alkohol Dapat Menembus Plasenta

Jika ibu tetap meminum alkohol saat hamil, alkohol akan mengalir bersama darah di tubuh dengan cepat. Alkohol dapat menembus plasenta, sehingga dapat mencapai bayi dalam kandungan. Saat alkohol terdapat di dalam tubuh bayi, maka alkohol akan dipecah di hati. Namun, hati bayi sedang dalam tahap perkembangan dan masih belum matang untuk dapat memecah alkohol. Akibatnya, di dalam tubuh bayi terdapat kadar alkohol yang tinggi dalam darah.

Karena adanya kadar alkohol yang tinggi dalam tubuh bayi kamu, hal ini dapat membuat kehamilan kamu lebih berisiko mengalami:

  1. Kelahiran prematur.

  2. Bayi lahir mati (stillbirth).

  3. Bayi lahir dengan berat badan rendah.

  4. Cacat lahir.

  5. Fetal alcohol spectrum disorder (FASD) atau fetal alcohol syndrome (FAS). Kondisi ini dapat dialami anak seumur hidup. Kondisi ini ditandai dengan pertumbuhan yang buruk selama dalam kandungan, setelah lahir, atau keduanya. Bayi dapat mengalami kelainan bentuk wajah (kepala lebih kecil), kelainan pada jantung, dan kerusakan sistem saraf pusat. Kerusakan pada sistem saraf pusat dapat mencakup cacat intelektual, keterlambatan perkembangan fisik, penglihatan, dan masalah pada pendengaran, dan berbagai masalah perilaku.

Bayi Akan Kesulitan Berkembang

Saat bayi lahir dan tumbuh besar, bayi juga akan berisiko mengalami masalah kesulitan belajar, berbicara, perhatian, bahasan, dan hiperaktif. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa ibu yang setidaknya minum satu kali dalam seminggu saat hamil lebih mungkin untuk memiliki anak yang menunjukkan perilaku agresif dan nakal dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak minum alkohol.

Semakin banyak atau sering kamu minum alkohol saat hamil, akan lebih meningkatkan risiko bayi kamu terkena FAS atau FASD. Selain itu, kebiasaan itu juga dapat menimbulkan masalah mental, fisik, atau perilaku di kemudian hari. Semakin banyak alkohol dalam tubuh ibu, maka sel-sel bayi yang sedang berkembang akan rusak secara permanen. Sehingga, hal ini dapat memengaruhi pertumbuhan wajah, organ, dan otak bayi.

Meskipun belum ada penelitian yang dapat membuktikan bahwa sejumlah kecil alkohol berbahaya bagi janin, tapi akan lebih baik jika tidak mengambil risiko itu sama sekali. Menghindari minum alkohol saat hamil tetap menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan dengan risiko keguguran atau kecacatan yang dapat menimpa bayi kamu.

Jika kamu pernah meminum alkohol saat hamil baru-baru ini, sebaiknya segera diskusikan kehamilan kamu pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Ceritakan pada dokter bahwa kamu pernah minum alkohol. Dokter di aplikasi Halodoc mungkin akan mencari tahu tanda-tanda yang berhubungan dengan FASD pada bayi dalam kandungan kamu. Dokter akan memantau kesehatan kamu dan bayi baik sebelum maupun setelah lahir.

Semakin cepat kamu memberi tahu dokter tentang masalah kamu, maka semakin baik pula untuk bayi kamu. Setelah itu, sebaiknya kamu berhenti minum alkohol saat kamu sedang hamil dan saat sedang merencanakan kehamilan bagi kamu. Diskusi dengan dokter melalui aplikasi Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana pun. Saran dokter dapat kamu terima dengan praktis dengan download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.

Baca juga: