4 Mitos Tentang Vaginismus yang Tak Perlu Dipercaya

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
4 Mitos Tentang Vaginismus yang Tak Perlu Dipercaya

Halodoc, Jakarta – Vaginismus merupakan gangguan seksual di mana otot-otot vagina mengencang ketika terjadi penetrasi saat berhubungan intim maupun memakai tampon. Kondisi ini menyakitkan bagi seorang wanita, bahkan bisa memengaruhi hubungan intim dengan pasangan. Terjadinya vaginismus sering dikaitkan dengan kondisi kecemasan, stres, atau memiliki kekhawatiran tentang hubungan intim dengan pasangan.

Baca Juga: Inilah 6 Cara yang Tepat Jaga Kebersihan Miss V

Selain masalah psikologis, vaginismus juga bisa disebabkan oleh infeksi akibat hubungan intim yang menyakitkan. Oleh sebab itu, sebaiknya bertemu dengan dokter untuk mengetahui yang menyebabkan vaginismus. Ini karena, penyebab vaginismus bisa bervariasi tergantung masalah apa yang sedang dihadapi. Selama ini, banyak beredar mitos vaginismus yang sebenarnya tidak benar. Biar tidak keliru, yuk ketahui mitos vaginismus di bawah ini

1. Bisa Sembuh Tanpa Perlu Diobati

Mitos yang paling sering beredar adalah vaginismus bisa sembuh sendiri tanpa perlu diobati. Anggapan ini tentunya salah besar, bahkan berisiko membuat pengidapnya tidak segera mengobati kondisi yang ada. Padahal, vaginismus sering dipicu oleh masalah psikologis maupun fisiologis pengidapnya, sehingga sulit menikmati hubungan intim. Vaginismus yang mendapat perawatan, bahkan menurunkan peluang besar penyakit ini kambuh kembali.

2. Vaginismus Terjadi Jika Mr P Pasangan Terlalu Besar

Mitos kedua menyebutkan bahwa vaginismus sering terjadi pada wanita yang memiliki pasangan dengan Mr P terlalu besar. Padahal, ukuran Mr P tidak tidak ada hubungannya dengan gejala vaginismus. Vaginismus terjadi ketika otot-otot vagina menegang, sehingga tidak ada ruang untuk penetrasi meski pasangan memiliki ukuran Mr P yang tidak terlalu besar. 

3. Rasa Sakit Saat Penetrasi merupakan Hal yang Normal

Ini adalah anggapan yang salah. Pasangan yang berhubungan intim bertujuan untuk mencari kesenangan dan kepuasan, bukan rasa sakit. Apabila kamu mengalami rasa sakit saat penetrasi meski sudah melakukan foreplay atau relaksasi lainnya, sebaiknya segera bicara dengan dokter atau seksolog.

Biar enggak repot, tanya soal masalah seks ke dokter Halodoc aja. Mudah, klik Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!

4. Pengidap Vaginismus Pasti Libidonya Rendah

Tidak semua wanita yang mengidap vaginismus pasti memiliki libido rendah. Faktanya, sebagian besar pengidap vaginismus  masih sangat responsif secara seksual dan memiliki keinginan yang mendalam untuk berhubungan intim. 

Baca Juga: Alami Vaginismus, Ini Cara agar Tetap Mesra dengan Pasangan

Bagaimana Mengobati Vaginismus?

Karena bisa disebabkan oleh masalah fisik maupun psikologis, vaginismus bisa diobati melalui terapi pendidikan, konseling, dan latihan.

1. Konseling

Melalui konseling, pengidap vaginismus dan pasangan akan mempelajari anatomi terkait gairah seksual dan hubungan intim. Pengidap juga akan mendapatkan informasi tentang otot yang terlibat dalam vaginismus juga. Ini bertujuan agar pengidap memahami bagaimana bagian-bagian tubuh bekerja dan bagaimana tubuh merespons.

2. Teknik Relaksasi

Jika vaginismus disebabkan oleh kecemasan atau stres, teknik relaksasi membantu tubuh agar terasa lebih rileks. Ketika tubuh sudah lebih rileks, diharapkan pengidap bisa lebih nyaman saat berhubungan intim.

3. Dilator

Penggunaan dilator vagina harus disetujui oleh dokter terlebih dahulu. Hindari menggunakan dilator jika dokter tidak merekomendasikannya. Penggunaan dilator juga perlu dipantau dokter. Untuk menggunakannya, tempatkan dilator di area vagina. Setelah diletakkan maka dilator akan semakin besar dan membantu otot-otot vagina meregang serta menjadi fleksibel. 

Baca Juga: 3 Tips Mengharumkan Miss V

4. Senam Kegel

Senam kegel bertujuan untuk mengencangkan otot-otot panggul yang berfungsi mengendalikan vagina, rektum, dan kandung kemih. Otot-otot ini dapat dideteksi ketika seseorang buang air kecil. Seat buang air kecil coba hentikan alirannya dengan mengendalikan otot panggul. Kamu mungkin akan merasakan panggul terasa kencang dan bergerak.