• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Adakah Komplikasi Akibat Sindrom Insensitivitas Androgen?

Adakah Komplikasi Akibat Sindrom Insensitivitas Androgen?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Tahukah kamu bahwa terdapat gangguan yang dapat menyebabkan bayi yang lahir dengan kelamin laki-laki, tetapi lahir dengan fisik menyerupai perempuan? Gangguan tersebut disebut juga dengan sindrom insensitivitas androgen. Penyakit ini termasuk penyakit yang langka terjadi.

Anak yang mengidap sindrom insensitivitas androgen kemungkinan besar butuh perawatan untuk mengubah tampilan pada alat vitalnya. Walau begitu, apakah gangguan ini dapat menyebabkan komplikasi pada pengidapnya? Berikut bahasan lengkap tentang hal tersebut!

Baca juga: Apa yang Menyebabkan Sindrom Insensitivitas Androgen?

Komplikasi yang Disebabkan Sindrom Insensitivitas Androgen

Sindrom insensitivitas androgen adalah kondisi yang dapat menyebabkan gangguan perkembangan seksual sebelum lahir dan selama masa pubertas. Pengidap gangguan ini secara genetik berjenis kelamin laki-laki, dengan satu kromosom X dan satu kromosom Y di setiap selnya.

Dikarenakan tubuhnya tidak mampu merespons hormon seks pria yang disebut androgen, maka sebagian besar tanda-tanda perkembangan seksual pria dan wanita terjadi. Seseorang yang tubuhnya tidak dapat menggunakan androgen sama sekali disebut dengan sindrom insensitivitas androgen lengkap.

Seseorang dengan gangguan tersebut memiliki tubuh perempuan, tetapi tidak memiliki rahim dan tidak mengalami menstruasi, serta tidak dapat mengandung anak. Umumnya, anak tersebut akan dibesarkan sebagai perempuan dan memiliki identitas sebagai wanita. Maka dari itu, testis yang ada akan diangkat dengan operasi.

Kamu bisa menanyakan lebih lanjut mengenai kondisi ini pada dokter dari Halodoc. Caranya, kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone kamu! Lalu, kamu juga dapat melakukan pemesanan online untuk pemeriksaan fisik terkait gangguan ini di beberapa rumah sakit terpilih dengan aplikasi tersebut.

Baca juga: Ini Cara Mengobati Sindrom Insensitivitas Androgen

Pada sindrom insensitivitas androgen sebagian, beberapa jaringan tubuhnya sensitif terhadap efek androgen. Seseorang dengan gangguan parsial ini dapat memiliki alat kelamin khas wanita dan/atau alat kelamin khas pria. Pengidap ini dapat dibesarkan sebagai laki-laki atau perempuan.

Lalu, apa saja komplikasi yang dapat terjadi pada pengidap sindrom insensitivitas androgen? Seseorang yang mengidap kelainan genetik tersebut tubuhnya tidak peka terhadap androgen. Hal tersebut dapat menyebabkan kelaminnya, baik pria atau wanita, tidak dapat subur. Hal tersebut disebabkan tidak adanya rahim jika pada wanita dan sperma yang lemah atau tidak dapat dihasilkan jika pada pria.

Komplikasi lainnya yang dapat terjadi pada seseorang yang mengidap kelainan ini adalah dampak pada sisi psikologi dan sosial. Seseorang yang mengidap kelainan ini umumnya akan mendapatkan sentimen tersendiri dari orang-orang di sekitarnya. Maka dari itu, dukungan dari keluarga sangat diperlukan.

Seseorang yang mengidap sindrom insensitivitas androgen juga dapat mengalami kanker testis. Hal tersebut disebabkan gangguan cryptorchidism yang menyebabkan testis tidak terletak di dalam skrotum. Jika dibiarkan akan menyebabkan kanker, maka bagian tersebut harus segera dihilangkan.

Baca juga: Kenali Gejala Sindrom Insensitivitas Androgen

Pengobatan Sindrom Insensitivitas Androgen

Seseorang yang mengalami gangguan pada kelainan genetik tersebut, umumnya pengobatan yang dilakukan tergantung dengan kondisi yang terjadi. Testis yang ada disarankan untuk diangkat ketika anak sudah melewati masa pertumbuhan atau masa puber. Setelah itu, testis akan diangkat agar tidak menyebabkan kanker.

Penanganan terapi pengganti untuk hormon estrogen juga dapat diberikan ketika pengidapnya sedang mengalami pubertas. Pun, penentuan jenis kelamin termasuk hal yang penting untuk kedepannya. Karena hal tersebut, proses dan langkah yang diambil harus dipikirkan matang-matang sebelum dilakukan.

Referensi:
Genetics Home Reference. Diakses pada 2019. Androgen insensitivity syndrome
Medline Plus. Diakses pada 2019. Androgen insensitivity syndrome