• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Difteri Bisa Muncul Tanpa Gejala?

Benarkah Difteri Bisa Muncul Tanpa Gejala?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Pernahkah kamu mengalami batuk dan sakit pada tenggorokan dalam waktu yang lama? Mungkin saja hal tersebut disebabkan oleh difteri yang menyerang. Memang sulit untuk menentukan penyakit tersebut karena gejala awalnya mirip dengan batuk dan flu biasa. Padahal, gangguan yang disebabkan oleh infeksi bakteri ini dapat menyebabkan kelainan berbahaya, lho.

Difteri juga disebut-sebut sebagai salah satu penyakit berbahaya karena penyebarannya yang terbilang cepat dan mudah terjadi. Kamu dapat mengidap penyakit tersebut karena seseorang yang mengidapnya batuk atau bersin. Namun, benarkah seseorang yang mengidap difteri dapat terjadi tanpa gejala? Berikut pembahasan lebih lengkapnya!

Bcca juga: Kenali Gejala dan Cara Pencegahan Difteri yang Dapat Mematikan

Difteri Dapat Menyerang Tanpa Gejala

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi dari bakteri dan umumnya memengaruhi selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Penyebaran dari penyakit ini terbilang sangat mudah, yaitu ketika seseorang yang mengidapnya batuk atau bersin. Bakteri yang berterbangan di udara dapat masuk ke tubuh seseorang yang sehat dan belum pernah mendapatkan vaksin penyakit tersebut sebelumnya.

Bakteri yang menyebabkan difteri adalah Corynebacterium diphteriae, yang juga dapat menyebar melalui kontak dengan benda-benda yang telah terkontaminasi. Selain itu, penting untuk mendapatkan pengobatan segera agar beberapa organ penting lainnya tidak mengalami gangguan, seperti jantung, otak, hingga ginjal. Hal tersebut karena dapat menyebabkan komplikasi berbahaya.

Penting untuk mengetahui beberapa gejala dari difteri agar tidak menyebarkan penyakit tersebut ke orang lain. Namun, hal yang lebih berbahaya adalah jika seseorang yang mengidapnya hanya mengalami gejala yang ringan dan bahkan tidak menimbulkan tanda-tanda sama sekali. Hal tersebut menjadikannya pembawa penyakit, yang dapat membuat orang lain mengidapnya tanpa sadar akan hal itu.

Kamu mungkin tidak mengalami gejala apa pun atau hanya batuk yang ringan hingga enam minggu awal saat infeksi terjadi pada tubuh. Jika hal tersebut terjadi, kejadian tersebut dapat membahayakan anak-anak yang usianya di bawah 5 tahun dan juga orang tua yang usianya sudah melebihi 60 tahun. Penting untuk menghindari hal tersebut karena risikonya yang parah jika benar terjadi.

Maka dari itu, vaksin difteri sebaiknya diberikan pada setiap anak bayi agar risiko terserang penyakit ini benar-benar menurun. Terkadang, beberapa orang yang akan berkunjung ke daerah rentan difteri harus mendapatkan vaksin penyakit tersebut terlebih dahulu agar tidak mudah terserang bakteri yang menginfeksi hidung dan tenggorokan tersebut.

Kamu juga dapat bertanya terkait pengidap difteri tanpa gejala pada dokter dari Halodoc. Caranya mudah sekali, kamu cukup download aplikasi Halodoc di smartphone yang digunakan sehari-hari untuk mendapatkan kemudahan akses kesehatan.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Difteri Mematikan

Pencegahan dari Penyakit Difteri

Secara umum, difteri sudah dapat dicegah dengan mendapatkan vaksin dari penyakit tersebut yang dikombinasikan dengan tetanus dan pertusis. Vaksin tersebut umumnya dikenal sebagai vaksin DTaP pada anak-anak dan vaksin Tdap saat diberikan pada remaja serta orang dewasa. Bahkan vaksin ini wajib diterima setiap anak yang belum lama dilahirkan.

Vaksin ini akan diberikan selama 5 kali selama hidup yang sangat penting untuk pencegahan difteri. Saat diberikan, mungkin anak ibu akan mengalami demam ringan dan kerap menangis setelah diberikan injeksi vaksin tersebut. Meski begitu, sangat jarang vaksin ini dapat menimbulkan komplikasi yang serius pada anak-anak sehingga sangat aman untuk diberikan.

Baca juga: Begini Proses Penularan dari Difteri

Maka dari itu, sebagai orangtua, perhatikan kesehatan anak dengan selalu mendapatkan vaksin dari segala penyakit yang fatal sesuai anjuran dokter. Jangan pernah melewatkan satu kali pun vaksin karena dapat sangat berpengaruh pada kekebalan tubuhnya terhadap suatu penyakit.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diphtheria.
Healthline. Diakses pada 2020. Diphtheria.