• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Trauma pada Anak Bisa Picu Mimpi Buruk?

Benarkah Trauma pada Anak Bisa Picu Mimpi Buruk?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Ternyata, tidak hanya orang dewasa, mimpi buruk bisa terjadi pada anak. Bahkan, frekuensinya lebih sering dibandingkan dengan mimpi buruk yang dialami orang dewasa. Data dari American Academy of Sleep (AASM) menyatakan, 10 hingga 50 persen anak berusia antara 5 hingga 12 tahun mengalami mimpi buruk yang terbilang cukup parah. Sudah pasti, hal ini membuat orangtua menjadi cemas. 

Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan seorang anak mengalami mimpi buruk? Pada dasarnya, mimpi adalah kelanjutan dari apa yang kamu pikirkan sebelum tidur. Ketika kamu memikirkan hal yang terbilang rumit atau membuat stres, pikiran ini akan berubah menjadi mimpi buruk saat tidur memasuki fase REM. Pada kasus anak, mimpi buruk paling sering terjadi pada anak usia 3 hingga 6 tahun. 

Benarkah Trauma Menjadi Penyebabnya?

Seringnya, mimpi buruk yang terjadi pada orang dewasa disebabkan karena masalah kesehatan tertentu. Beberapa orang lainnya mengutarakan bahwa stres menjadi pemicu terjadinya mimpi buruk. Lantas, bagaimana dengan anak? Apa penyebab anak sering mengalami mimpi buruk? Benarkah trauma pada anak menjadi salah satunya?

Baca juga: Pengaruh Mimpi Buruk terhadap Kondisi Psikologis

Ya, ternyata, mengalami hal yang menyeramkan, dalam hal ini trauma atau mendapatkan pengalaman buruk bisa menjadi penyebabnya. Beberapa trauma ini seperti bullying, melihat pertengkaran orangtua, mengalami kekerasan, perceraian, hingga mengalami kecelakaan bisa menjadi pemicu seorang anak mengalami mimpi buruk.

Selain itu, beberapa faktor berikut ini bisa menjadi penyebab anak mimpi buruk:

  • Kecemasan Berlebihan

Perubahan memang wajar terjadi dalam hidup, tetapi bagi beberapa anak, kondisi ini bisa menimbulkan kecemasan yang berlebihan. Ia mungkin memikirkan suatu hal yang belum terjadi secara berlebihan, dan ini yang membuat anak mengalami mimpi buruk. Biasanya, gangguan kecemasan ini terjadi ketika anak pindah rumah, Pindah sekolah, atau memiliki anggota baru dalam keluarganya. 

  • Kurang Tidur dan Kelelahan

Kelelahan bisa mengakibatkan mimpi buruk, terlebih jika anak turut mengalami kurang tidur. Jadi, pastikan anak cukup beristirahat, karena hal ini memengaruhi tumbuh kembangnya kelak. Jika anak merasa takut, tidak ada salahnya menemaninya sebentar hingga ia terlelap, atau membacakan cerita yang menyenangkan sehingga ia tidak memikirkan banyak hal sebelum tidur. 

Baca juga: Bagaimana Mendampingi Anak yang Mengalami Trauma atau Depresi

  • Genetika

Faktor genetika juga berpengaruh terhadap mimpi buruk yang terjadi pada anak. Setidaknya, sebanyak 7 persen anak yang mengalami mimpi buruk memiliki anggota keluarga yang turut mengalami kondisi yang sama. Bisa jadi orangtuanya, atau anggota keluarganya yang lain. 

  • Menjalani Pengobatan

Beberapa obat yang dikonsumsi anak ketika sedang menjalani perawatan ternyata bisa membuat mimpi buruk. Ini karena kandungan kimia yang terkandung dalam obat, seperti misalnya antidepresan. Tidak hanya itu, berhenti mengonsumsi obat secara tiba-tiba dinilai memberikan efek mimpi buruk yang sama. 

Baca juga: Susah Tidur? Ini Cara Mengatasi Insomnia

Mimpi buruk pada anak yang terjadi karena trauma yang sangat mendalami bisa membuat anak turut mengalami PTSD atau gangguan stres setelah trauma, atau sebagai tanda bahwa sang buah hati sedang mengalami depresi. Keduanya bisa menjadi kondisi yang membahayakan.

Jadi, sebaiknya segera periksakan anak ke rumah sakit agar ia bisa segera mendapatkan penanganan. Pastikan ibu pakai aplikasi Halodoc, agar tidak lagi mengantre di rumah sakit.

Referensi: 
Kids Health. Diakses pada 2020. Nightmare.
WebMD. Diakses pada 2020. Nightmares.
Medical Daily. Diakses pada 2020. A Bad dream is More Than Just a Dream: the Science of Nightmares.