
Ilmuwan Temukan Protein SORLA yang Berpotensi Melindungi Otak dari Penyakit Alzheimer
Penelitian terbaru menemukan bahwa protein SORLA berpotensi menjadi pelindung alami otak dari kerusakan akibat protein tau, salah satu penyebab utama penyakit Alzheimer

DAFTAR ISI
- Apa Itu Protein Tau?
- Apa Itu Protein SORLA?
- Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?
- Hasil Penelitian
- Apa yang Terjadi Jika SORLA Tidak Ada?
- Pengaruh terhadap Sel Pendukung Otak
- Apakah Temuan Ini Bisa Menjadi Obat Alzheimer?
- Mengapa Penelitian Ini Penting?
- Cara Menjaga Kesehatan Otak
- Hubungi Dokter Ini untuk Konsultasikan Kesehatan Otak
Penyakit Alzheimer merupakan penyebab demensia yang paling umum di dunia. Hingga kini, para peneliti terus mencari cara untuk memperlambat kerusakan otak yang terjadi akibat penyakit ini. Kabar baiknya, sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa protein bernama SORLA berpotensi menjadi pelindung alami otak dari kerusakan yang dipicu oleh protein tau, salah satu penyebab utama perkembangan Alzheimer.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini membuka peluang baru untuk mengembangkan terapi yang tidak hanya mengurangi gejala, tetapi juga memperlambat proses kerusakan sel saraf.
Apa Itu Protein Tau?
Protein tau sebenarnya memiliki fungsi penting dalam otak. Protein ini membantu menjaga struktur dan stabilitas neuron (sel saraf), sehingga sinyal antar sel otak dapat berjalan dengan baik.
Namun, pada penyakit Alzheimer dan beberapa penyakit neurodegeneratif lainnya, protein tau mengalami perubahan bentuk. Protein tersebut saling menempel dan membentuk gumpalan yang dikenal sebagai tau tangles atau kusut tau.
Akumulasi tau tangles dapat:
- Mengganggu komunikasi antar sel saraf,
- Meru/sak jaringan otak,
- Menyebabkan kematian neuron,
- Memicu penurunan daya ingat dan kemampuan berpikir.
Selain plak beta-amiloid, tau tangles merupakan salah satu ciri khas penyakit Alzheimer.
Catat, Ini Pilihan Dokter yang Paham Perawatan Alzheimer.
Apa Itu Protein SORLA?
SORLA (Sorting-related receptor with A-type repeats) adalah protein yang membantu mengatur pergerakan berbagai protein di dalam sel.
Selama dua dekade terakhir, berbagai penelitian menunjukkan bahwa SORLA berperan dalam mengurangi pembentukan beta-amiloid, protein lain yang berkontribusi terhadap penyakit Alzheimer.
Namun, hingga kini belum banyak diketahui apakah SORLA juga dapat memengaruhi protein tau.
Penelitian terbaru mencoba menjawab pertanyaan tersebut.
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?
Peneliti dari Sanford Burnham Prebys menggunakan tikus yang mengalami penumpukan protein tau seperti yang terjadi pada Alzheimer.
Sebagian tikus dimodifikasi agar menghasilkan protein SORLA dalam jumlah lebih tinggi, sedangkan kelompok lain dibuat tidak memiliki protein SORLA sama sekali.
Peneliti kemudian membandingkan perubahan yang terjadi pada kedua kelompok tersebut.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar SORLA memberikan berbagai efek perlindungan terhadap otak.
1. Mengurangi pembentukan tau abnormal
SORLA mampu menghambat proses hiperfosforilasi, yaitu penambahan gugus fosfat berlebihan pada protein tau.
Proses ini merupakan langkah awal terbentuknya tau tangles.
Dengan berkurangnya hiperfosforilasi, pembentukan gumpalan tau juga menjadi lebih sedikit.
2. Menghambat penyebaran tau
Protein tau yang telah rusak dapat bertindak seperti “benih” yang mengajak protein tau lain ikut menggumpal.
Peneliti menemukan bahwa SORLA mengurangi kemampuan tau abnormal untuk membentuk gumpalan yang lebih besar.
3. Melindungi hubungan antar sel saraf
SORLA juga membantu mempertahankan kesehatan sinapsis, yaitu titik komunikasi antar neuron.
Semakin sehat sinapsis, semakin baik kemampuan otak menyimpan informasi dan membentuk memori baru.
4. Mengurangi penyusutan otak
Tikus dengan kadar SORLA tinggi mengalami penyusutan jaringan otak yang jauh lebih sedikit dibandingkan tikus tanpa peningkatan protein tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa SORLA tidak hanya memengaruhi protein tau, tetapi juga membantu menjaga struktur otak secara keseluruhan.
Supaya terhindar dari kondisi ini, ketahui 5 Faktor Penyebab Alzheimer Pada Seseorang.
Apa yang Terjadi Jika SORLA Tidak Ada?
Peneliti juga mengamati tikus yang tidak mampu memproduksi protein SORLA akibat penghapusan gen SORL1.
Hasilnya justru berkebalikan.
Pada kelompok ini ditemukan:
- Penumpukan protein tau lebih banyak,
- Kerusakan sel saraf lebih berat,
- Penyusutan otak lebih cepat,
- Gangguan fungsi otak yang lebih parah.
Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa SORLA memang memiliki fungsi protektif terhadap penyakit neurodegeneratif.
Pengaruh terhadap Sel Pendukung Otak
Selain neuron, peneliti juga menemukan bahwa SORLA memengaruhi aktivitas sel glia.
Sel glia berfungsi membantu menjaga lingkungan otak tetap sehat, memberikan nutrisi pada neuron, serta mengatur respons peradangan.
Pada penyakit Alzheimer, sel glia sering menjadi terlalu aktif sehingga justru memperburuk kerusakan otak.
Penelitian menunjukkan bahwa kadar SORLA yang tinggi dapat mengurangi aktivasi berlebihan pada sel glia tersebut.
Hal ini menjadi salah satu mekanisme yang diduga membantu memperlambat perkembangan penyakit.
Apakah Temuan Ini Bisa Menjadi Obat Alzheimer?
Meski hasil penelitian cukup menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap praklinis dan dilakukan pada hewan percobaan.
Artinya, efektivitas dan keamanan terapi yang menargetkan SORLA masih perlu dibuktikan melalui penelitian pada manusia.
Namun, temuan ini membuka beberapa kemungkinan baru, seperti:
- Mengembangkan obat yang dapat meningkatkan kadar SORLA,
- Memanfaatkan obat yang sudah ada untuk menargetkan jalur biologis yang dipengaruhi SORLA,
- Memperlambat pembentukan tau tangles sebelum kerusakan otak menjadi berat.
Peneliti juga berencana menggunakan sel otak manusia yang ditanam pada model hewan agar hasil penelitian lebih mendekati kondisi sebenarnya.
Mengapa Penelitian Ini Penting?
Sebagian besar terapi Alzheimer saat ini masih berfokus pada protein beta-amiloid.
Padahal, banyak penelitian menunjukkan bahwa tingkat keparahan gangguan memori lebih erat berkaitan dengan penumpukan protein tau.
Karena itu, menemukan protein yang mampu mengurangi pembentukan tau tangles menjadi langkah penting dalam pengembangan terapi Alzheimer generasi berikutnya.
Jika penelitian lanjutan berhasil membuktikan manfaat SORLA pada manusia, protein ini berpotensi menjadi target pengobatan baru untuk:
- Penyakit Alzheimer,
- Demensia frontotemporal,
- Progressive supranuclear palsy (PSP),
- Serta berbagai penyakit lain yang disebabkan oleh penumpukan protein tau.
Cara Menjaga Kesehatan Otak
Meski belum ada cara pasti untuk mencegah Alzheimer, beberapa kebiasaan berikut diketahui dapat membantu menjaga kesehatan otak:
- Mengontrol tekanan darah, gula darah, dan kolesterol,
- Rutin berolahraga,
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang seperti pola makan Mediterania,
- Tidur yang cukup,
- Berhenti merokok,
- Tetap aktif secara sosial,
- Melatih fungsi otak melalui membaca, belajar, atau bermain teka-teki.
Hubungi Dokter Ini untuk Konsultasikan Kesehatan Otak
Untuk mengevaluasi kondisi kesehatan otak dan saraf, kamu bisa berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis penyakit dalam (Sp.PD) atau dokter umum.
Berikut adalah rekomendasi dokter di Halodoc yang bisa kamu hubungi:
- dr. Muhammad Giovanni Abdillah, Sp.PD: Ia adalah dokter spesialis penyakit dalam dengan pengalaman 11 tahun, berhasil lulus dari Universitas Sriwijaya pada 2014. Ia kini praktik di Bekasi, Jawa Barat, tercatat sebagai anggota PAPDI, dan tersedia untuk konsultasi di Halodoc.
- dr. Puguh Krisnadi Sandjojo, Sp.PD: Ia adalah dokter spesialis penyakit dalam dengan pengalaman 12 tahun, berhasil lulus dari Universitas Hang Tuah Surabaya pada 2012 dan Universitas Sam Ratulangi pada 2020. Ia kini praktik di Cikarang, Jawa Barat, tercatat sebagai anggota PAPDI, dan tersedia untuk konsultasi di Halodoc.
- dr. Maya Puspita Sari, Sp.PD, AIFO-K: Ia adalah dokter spesialis penyakit dalam dengan pengalaman 9 tahun, berhasil lulus dari Universitas Sriwijaya pada 2015 dan Universitas Hasanuddin pada 2023. Ia kini praktik di Lampung Tengah, Lampung, tercatat sebagai anggota PAPDI, dan tersedia untuk konsultasi di Halodoc.
Dokter tersebut tersedia selama 24 jam di Halodoc sehingga kamu bisa lakukan konsultasi dari mana saja dan kapan saja.
Namun, jika dokter sedang tidak tersedia atau offline, kamu tetap bisa membuat janji konsultasi melalui aplikasi Halodoc.
Tunggu apalagi? Ayo, pakai Halodoc sekarang juga




