Advertisement

Jenis-Jenis Antidotum: Kenali dan Cara Kerjanya

4 menit
Ditinjau oleh  dr. Fauzan Azhari SpPD   22 Agustus 2025

Dalam dunia medis, antidotum adalah zat yang dapat menetralkan efek racun di tubuh.

Jenis-Jenis Antidotum: Kenali dan Cara KerjanyaJenis-Jenis Antidotum: Kenali dan Cara Kerjanya

DAFTAR ISI

  1. Klasifikasi Antidotum
  2. Jenis-Jenis Antidotum dan Mekanisme Kerjanya
  3. Kapan Antidotum Dibutuhkan?
  4. Efek Samping dan Pertimbangan Penggunaan
  5. Pencegahan Keracunan
  6. Kapan Harus ke Dokter?


Antidotum adalah zat yang dapat menetralkan efek racun (toksin) di dalam tubuh. Kata antidotum berasal dari bahasa Yunani “antidotos,” yang berarti “diberikan melawan.”

Antidotum bekerja dengan berbagai cara, tergantung pada jenis racunnya.

Beberapa antidotum bekerja dengan menghambat penyerapan racun, sementara yang lain bekerja dengan mengubah struktur kimia racun menjadi bentuk yang tidak berbahaya atau mempercepat ekskresi racun dari tubuh.

Penting untuk diingat bahwa antidotum tidak selalu tersedia untuk semua jenis racun.

Selain itu, efektivitas antidotum sangat bergantung pada seberapa cepat antidotum diberikan setelah paparan racun.

Semakin cepat antidotum diberikan, semakin besar kemungkinan antidotum untuk mencegah kerusakan serius atau kematian.

Klasifikasi Antidotum

Antidotum dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori utama:

  • Antidotum spesifik
  • Antidotum non-spesifik

Antidotum Spesifik

Antidotum spesifik bekerja melawan racun tertentu dengan mekanisme yang unik untuk racun tersebut.

Contohnya, antivenom untuk bisa ular hanya efektif untuk bisa ular tertentu dan bekerja dengan mengikat dan menetralkan racun bisa ular tersebut.

Contoh lainnya adalah nalokson yang secara spesifik membalikkan efek overdosis opioid.

Pahami lebih dalam soal Keracunan Makanan agar kamu lebih mewaspadainya.

Antidotum Non-Spesifik

Antidotum non-spesifik bekerja dengan cara yang lebih umum untuk mengurangi efek berbagai racun.

Contohnya, arang aktif dapat mengikat berbagai racun di saluran pencernaan dan mencegah penyerapannya ke dalam tubuh.

Namun, arang aktif tidak efektif untuk semua jenis racun, seperti alkohol atau logam berat.

Jenis-Jenis Antidotum dan Mekanisme Kerjanya

Berikut adalah beberapa contoh antidotum yang umum digunakan:

  • N-Asetilsistein (NAC)
  • Atropin
  • Nalokson
  • Antivenom
  • Deferoksamin

N-Asetilsistein (NAC)

NAC digunakan untuk mengatasi overdosis parasetamol (acetaminophen).

NAC bekerja dengan meningkatkan kadar glutathione, antioksidan yang membantu menetralkan metabolit toksik parasetamol.

Pemberian NAC efektif jika diberikan dalam waktu 8-10 jam setelah overdosis parasetamol.

Atropin

Atropin adalah antidotum untuk keracunan organofosfat dan carbamate, yang sering ditemukan dalam pestisida.

Atropin bekerja dengan menghambat efek asetilkolin, neurotransmitter yang berlebihan akibat keracunan organofosfat.

Nalokson

Nalokson adalah antagonis opioid yang digunakan untuk membalikkan efek overdosis opioid seperti heroin, morfin, dan oxycodone.

Nalokson bekerja dengan cepat memblokir reseptor opioid di otak dan memulihkan pernapasan yang tertekan.

Antivenom

Antivenom adalah antidotum untuk bisa ular. Antivenom mengandung antibodi yang dapat menetralkan racun bisa ular.

Jenis antivenom yang dibutuhkan tergantung pada jenis ular yang menyebabkan gigitan.

Deferoksamin

Deferoksamin adalah agen pengkelat besi yang digunakan untuk mengobati keracunan besi.

Deferoksamin bekerja dengan mengikat besi dalam darah dan memungkinkan besi tersebut dikeluarkan dari tubuh melalui urine.

Nah, Ini 6 Ciri-Ciri Keracunan Makanan dan Cara Mengobatinya.

Kapan Antidotum Dibutuhkan?

Antidotum dibutuhkan ketika seseorang mengalami keracunan yang mengancam jiwa.

Beberapa situasi di mana antidotum mungkin diperlukan termasuk:

  • Overdosis obat-obatan
  • Keracunan pestisida
  • Gigitan atau sengatan hewan berbisa
  • Keracunan logam berat
  • Paparan bahan kimia beracun

Keputusan untuk memberikan antidotum harus dibuat oleh profesional medis berdasarkan penilaian kondisi pasien dan jenis racun yang terlibat.

Efek Samping dan Pertimbangan Penggunaan

Seperti semua obat, antidotum dapat menyebabkan efek samping. Efek samping yang umum termasuk reaksi alergi, demam, dan nyeri di tempat suntikan.

Efek samping yang lebih serius jarang terjadi tetapi mungkin termasuk kesulitan bernapas, tekanan darah rendah, dan gagal ginjal.

Penggunaan antidotum juga harus dipertimbangkan dengan hati-hati, karena beberapa antidotum dapat berinteraksi dengan obat lain atau memperburuk kondisi medis yang sudah ada.

Dokter akan mempertimbangkan manfaat dan risiko penggunaan antidotum sebelum membuat keputusan pengobatan.

Pencegahan Keracunan

Pencegahan adalah kunci untuk menghindari kebutuhan akan antidotum.

Beberapa langkah yang dapat diambil untuk mencegah keracunan meliputi:

  • Menyimpan obat-obatan dan bahan kimia di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan anak-anak.
  • Membaca dan mengikuti petunjuk penggunaan obat-obatan dan bahan kimia dengan hati-hati.
  • Tidak mencampur bahan kimia rumah tangga.
  • Mengenakan pakaian pelindung saat bekerja dengan pestisida atau bahan kimia berbahaya lainnya.
  • Menghindari kontak dengan hewan berbisa.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera cari pertolongan medis jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami gejala keracunan, seperti:

  • Kesulitan bernapas
  • Nyeri dada
  • Muntah
  • Diare
  • Kejang
  • Penurunan kesadaran

Jangan mencoba mengobati keracunan sendiri. Hubungi dokter di Halodoc atau segera pergi ke rumah sakit terdekat.

Selalu konsultasikan dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan informasi dan penanganan medis yang tepat jika terjadi keracunan dengan cara klik banner di bawah ini!

Referensi:
Indian Journal of Critical Care Medicine. Diakses pada 2025. Antidotes in Poisoning.