Ad Placeholder Image

Kenapa Pengidap Rabies Takut Air? Ini Penjelasannya

7 menit
Ditinjau oleh  dr. Fauzan Azhari SpPD   05 Desember 2025

Pengidap rabies takut air karena hal tersebut merupakan manifestasi neurologis akibat infeksi virus rabies pada otak.

Kenapa Pengidap Rabies Takut Air? Ini PenjelasannyaKenapa Pengidap Rabies Takut Air? Ini Penjelasannya

DAFTAR ISI


Rabies dikenal sebagai penyakit mematikan yang ditularkan melalui gigitan hewan, seperti anjing atau kucing yang terinfeksi.

Namun, ada satu gejala khas yang sering membuat banyak orang bertanya-tanya: mengapa pengidap rabies justru takut air, bahkan hanya dengan melihat atau mendengarnya?

Kondisi ini disebut hydrophobia, dan bukan sekadar rasa takut biasa, melainkan reaksi tubuh yang terjadi akibat gangguan pada sistem saraf.

Untuk memahami fenomena ini, penting mengetahui bagaimana virus rabies bekerja dan apa yang terjadi di dalam tubuh pengidapnya. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Apa Itu Rabies?

Rabies adalah penyakit infeksi virus akut yang menyerang sistem saraf pusat pada manusia dan hewan berdarah panas.

Penyakit ini disebabkan oleh virus rabies yang umumnya ditularkan melalui gigitan hewan yang terinfeksi, air liur, atau cakaran. Rabies sangat berbahaya dan hampir selalu berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi pada hewan peliharaan dan pemberian vaksin rabies (VAR) serta serum anti rabies (SAR) pada manusia setelah terpapar virus.

Kenapa Rabies Takut Air (Hidrofobia)?

Salah satu gejala klasik rabies adalah hidrofobia, atau ketakutan terhadap air. Kondisi ini bukan sekadar rasa takut biasa, tetapi merupakan manifestasi neurologis akibat infeksi virus rabies pada otak.

Berikut adalah penjelasan kenapa rabies menyebabkan hidrofobia:

1. Kejang otot tenggorokan

Virus rabies menyerang sistem saraf, termasuk saraf yang mengontrol otot-otot yang terlibat dalam proses menelan.

Ketika orang yang terinfeksi rabies mencoba menelan air atau bahkan air liur, otot-otot di tenggorokan mereka dapat mengalami kejang yang menyakitkan.

Rasa sakit ini memicu rasa takut dan penolakan terhadap air.

2. Sensitivitas berlebihan

Rabies dapat menyebabkan peningkatan sensitivitas terhadap rangsangan eksternal, seperti cahaya, suara, dan sentuhan.

Sensitivitas ini juga berlaku pada saraf yang berhubungan dengan air dan proses menelan, sehingga membuat penderita merasa tidak nyaman dan takut saat berdekatan dengan air.

3. Disfungsi otak

Infeksi rabies menyebabkan peradangan dan kerusakan pada otak, terutama pada area yang mengatur emosi dan perilaku.

Disfungsi ini dapat menyebabkan perubahan perilaku yang drastis, termasuk munculnya rasa takut yang irasional terhadap air.

Ketakutan terhadap air pada rabies bukanlah ketakutan psikologis, melainkan respons fisiologis terhadap disfungsi neurologis yang disebabkan oleh virus.

Hidrofobia adalah salah satu tanda klinis yang membantu dokter dalam mendiagnosis rabies, meskipun tidak semua pasien rabies mengalami gejala ini.

Selain hidrofobia, aerofobia (takut terhadap udara) juga dapat terjadi karena mekanisme serupa, di mana hembusan udara dapat memicu kejang otot pada wajah dan leher.

Gejala Rabies pada Manusia

Masa inkubasi rabies (waktu antara paparan dan munculnya gejala) bervariasi, tetapi umumnya berkisar antara 2 hingga 12 minggu.

Namun, pada beberapa kasus, bisa lebih pendek atau lebih panjang, tergantung pada faktor-faktor seperti lokasi gigitan, jumlah virus yang masuk, dan kekebalan tubuh.

Gejala awal rabies seringkali tidak spesifik dan mirip dengan penyakit virus lainnya, seperti:

Seiring perkembangan penyakit, gejala yang lebih khas akan muncul, yaitu:

  • Hidrofobia: Ketakutan ekstrem terhadap air, bahkan hanya saat melihat atau mendengarnya.
  • Aerofobia: Sensitivitas berlebih atau ketakutan terhadap udara, termasuk tiupan angin di wajah.
  • Kelemahan otot: Lemahnya otot yang biasanya mulai muncul di area sekitar luka gigitan, lalu menyebar ke bagian tubuh lain.
  • Kebingungan dan agitasi: Kondisi di mana pengidap tampak bingung, gelisah, sulit tenang, dan mengalami perubahan perilaku.
  • Halusinasi: Mengalami persepsi atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
  • Produksi air liur berlebihan: Air liur menjadi sangat banyak karena kesulitan menelan.
  • Kejang: Munculnya kontraksi otot yang tidak terkontrol.
  • Paralisis: Lumpuh sebagian atau seluruh tubuh seiring virus menyerang sistem saraf pusat.

Rabies pada manusia memiliki dua bentuk utama:

  • Rabies ganas (furious rabies): Ditandai dengan hiperaktivitas, agitasi, hidrofobia, aerofobia, dan kejang.
  • Rabies paralitik (paralytic rabies): Ditandai dengan kelemahan otot yang secara bertahap berkembang menjadi paralisis. Bentuk ini seringkali kurang dramatis dan dapat lebih sulit didiagnosis.

Kamu Curiga Terinfeksi Rabies? Dokter Spesialis Ini Bisa Beri Solusi.

Penyebab Rabies

Penyebab utama rabies adalah virus rabies, yang termasuk dalam genus Lyssavirus dan famili Rhabdoviridae. Virus ini biasanya ditularkan ke manusia melalui gigitan hewan yang terinfeksi.

Hewan yang paling sering menjadi sumber penularan rabies antara lain:

  • Anjing
  • Kucing
  • Kera
  • Rakun
  • Kelelawar
  • Rubah
  • Serigala

Penularan rabies juga dapat terjadi melalui luka atau selaput lendir yang terpapar air liur atau jaringan saraf hewan yang terinfeksi, meskipun kasus seperti ini jarang terjadi.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anjing adalah sumber utama penularan rabies pada manusia, terutama di daerah-daerah di mana vaksinasi anjing tidak dilakukan secara luas.

Penting untuk dicatat bahwa semua mamalia berpotensi terinfeksi rabies dan menularkannya ke manusia. Oleh karena itu, penting untuk berhati-hati saat berinteraksi dengan hewan liar atau hewan peliharaan yang tidak divaksinasi.

Diagnosis Rabies

Diagnosis rabies pada manusia bisa sulit dilakukan, terutama pada tahap awal penyakit. Tidak ada tes tunggal yang dapat mengonfirmasi diagnosis rabies dengan pasti sebelum munculnya gejala klinis.

Beberapa tes yang dapat digunakan untuk membantu mendiagnosis rabies antara lain:

  • Deteksi antibodi rabies dalam serum atau cairan serebrospinal: Tes ini dapat mendeteksi antibodi yang diproduksi oleh tubuh sebagai respons terhadap infeksi virus rabies.
  • Deteksi antigen rabies dalam sampel biopsi kulit atau air liur: Tes ini dapat mendeteksi keberadaan virus rabies dalam sampel jaringan atau cairan tubuh.
  • Reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR): Tes ini dapat mendeteksi materi genetik virus rabies dalam sampel jaringan atau cairan tubuh.
  • Uji fluorescent antibody (FAT): Tes ini dilakukan pada sampel jaringan otak yang diambil setelah kematian untuk mendeteksi keberadaan virus rabies.

Karena rabies sangat berbahaya dan seringkali berakibat fatal, diagnosis dini dan pengobatan yang cepat sangat penting. Jika seseorang dicurigai terinfeksi rabies, dokter akan segera memberikan vaksin rabies dan immunoglobulin rabies (RIG) sebagai tindakan profilaksis pasca pajanan (PEP).

Cari tahu lebih jauh tentang Rabies: Infection, Symptoms, Treatment, and Prevention.

Pertolongan Pertama dan Pengobatan Rabies

Jika seseorang digigit oleh hewan yang dicurigai rabies, langkah-langkah pertolongan pertama yang harus dilakukan adalah:

  • Cuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 10-15 menit.
  • Oleskan antiseptik pada luka, seperti iodin atau alkohol.
  • Segera cari pertolongan medis untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Pengobatan rabies pada manusia meliputi:

  • Profilaksis pasca pajanan (PEP): PEP terdiri dari serangkaian suntikan vaksin rabies dan immunoglobulin rabies (RIG). Vaksin rabies merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap virus rabies, sementara RIG memberikan antibodi pasif yang memberikan perlindungan segera.
  • Perawatan suportif: Perawatan suportif meliputi pemberian obat-obatan untuk mengurangi gejala seperti demam, sakit kepala, dan kejang.

Sayangnya, setelah gejala rabies muncul, penyakit ini hampir selalu berakibat fatal. Oleh karena itu, pencegahan dan pengobatan dini sangat penting untuk mencegah kematian akibat rabies.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, pemberian VAR dan SAR harus dilakukan sesegera mungkin setelah terpapar virus rabies untuk mencegah perkembangan penyakit.

Vaksin Rabies

Vaksin rabies adalah cara paling efektif untuk mencegah rabies pada manusia dan hewan. Vaksin rabies bekerja dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap virus rabies.

Ada dua jenis utama vaksin rabies yang tersedia:

  • Vaksin rabies untuk manusia: Vaksin ini diberikan kepada orang-orang yang berisiko tinggi terpapar virus rabies, seperti dokter hewan, petugas pengendalian hewan, dan orang-orang yang tinggal atau bepergian ke daerah di mana rabies umum terjadi. Vaksin ini juga diberikan sebagai bagian dari PEP setelah seseorang terpapar virus rabies.
  • Vaksin rabies untuk hewan: Vaksin ini diberikan kepada hewan peliharaan, seperti anjing dan kucing, untuk melindungi mereka dari rabies. Vaksinasi hewan peliharaan adalah cara penting untuk mengendalikan penyebaran rabies pada manusia.

Vaksin rabies umumnya aman dan efektif. Efek samping yang paling umum adalah nyeri, kemerahan, atau bengkak di tempat suntikan.

Pencegahan Rabies

Pencegahan rabies melibatkan beberapa langkah, termasuk:

  • Vaksinasi hewan peliharaan secara teratur.
  • Menghindari kontak dengan hewan liar atau hewan yang tidak dikenal.
  • Melaporkan gigitan hewan kepada pihak berwenang.
  • Mencari pertolongan medis segera setelah digigit oleh hewan yang dicurigai rabies.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera cari pertolongan medis jika:

  • Digigit oleh hewan yang dicurigai rabies, terutama jika hewan tersebut adalah hewan liar atau hewan peliharaan yang tidak divaksinasi.
  • Terpapar air liur atau jaringan saraf hewan yang dicurigai rabies.
  • Mengalami gejala rabies, seperti demam, sakit kepala, kelelahan, hidrofobia, atau kelemahan otot.

Konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam kini lebih mudah dan praktis melalui Halodoc.

Kamu bisa beli obat online atau produk kesehatan lainnya dengan praktis dan mudah di Apotek Online Halodoc. 

Toko Kesehatan Halodoc Produknya 100% asli dan tepercaya. Tanpa perlu antre, obat bisa diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat dari lokasi kamu berada. 

Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga dan dapatkan obat dari apotek 24 jam terdekat! 

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2025. What is Rabies?
Mayo Clinic. Diakses pada 2025. Rabies.
National Health Service UK. Diakses pada 2025. Rabies.
Healthline. Diakses pada 2025. How to Treat a Dog Bite.