Awas, Ayah Juga Bisa Alami Dad Shaming. Ini Faktanya

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
awas-ayah-juga-bisa-alami-dad-shaming-ini-faktanya-halodoc

Halodoc, Jakarta – Setiap orang tua tentunya ingin memberikan yang terbaik untuk Sang Buah Hati, termasuk dalam soal mengasuh dan mengurus anak. Namun, caranya mungkin saja bisa berbeda, karena pandangan tiap orangtua mengenai pola asuh terbaik bisa saja tidak sama. Sayangnya, perbedaan pola asuh orangtua kadang-kadang memancing komentar “miring” dari orang-orang di sekitar, seperti keluarga, kerabat, dan teman-teman. 

Mereka tanpa sadar sering memberikan komentar yang mengejek, membanding-bandingkan atau merendahkan mengenai cara mengasuh anak yang dilakukan. Kondisi ini biasanya lebih sering dialami oleh para ibu. Itulah mengapa mom shaming menjadi istilah yang sedang tren belakangan ini. Namun, ternyata bukan cuma para ibu saja lho yang bisa mendapatkan kritik terkait pola asuh, tetapi para ayah juga. Yuk, kenali fakta dad shaming lebih jauh di sini.

Baca juga: Mengenal Dampak Pola Asuh Orangtua ke Anak Lewat Film Shazam!

Bila pada kasus mom shaming, komentar-komentar pedas yang diterima biasanya menyangkut banyak hal, mulai dari metode persalinan yang dipilih, pola pengasuhan anak, masalah menyusui, penggunaan susu formula, atau apapun yang berhubungan dengan anak. Namun, pada kasus dad shaming, kritik yang diterima ayah biasanya lebih menyasar pada gaya pengasuhan dan pendisiplinan yang si ayah terapkan ke anak. 

Niatnya bisa jadi hanya mengingatkan. Namun, perilaku tersebut sering tidak diimbangi dengan gaya komunikasi yang baik, serta berangkat dari sedikitnya pemahaman terhadap latar belakang ayah dan anak. Akhirnya, keluarlah komentar negatif dan cenderung merendahkan kepada sang ayah. Misalnya,“Pantes anaknya bandel. Si ayah jarang pulang sih, jadi enggak ada waktu buat ketemu dan mendidik anaknya.” Contoh lain dad shaming yang juga sering terjadi, berkaitan dengan penampilan anak, misalnya “Anaknya kurus banget sih. Pasti ayahnya gak pernah beliin makanan enak deh buat anaknya.”

Pada beberapa kasus, penyebab dad shaming terjadi juga turut dipengaruhi oleh peran gender historis. Di mana, ibu dipandang sebagai pengasuh yang lebih alami, sedangkan ayah memiliki kemampuan pengasuhan terbatas yang membutuhkan pengawasan atau koreksi.

Melansir dari WebMD, sebuah survei terbaru menemukan bahwa lebih dari sebagian ayah di Amerika Serikat mengaku sering mendapatkan kritik terkait gaya pengasuhan yang dilakukan. Cara para ayah tersebut dalam mendisiplinkan anak menempati urutan teratas dalam hal-hal yang dikomentari orang lain. Menariknya, 44 persen dari kritik yang dilontarkan datang dari anggota keluarga sendiri, bahkan pasangan yang selalu mendampinginya.

Hal lainnya yang juga bisa menjadi pemicu dad shaming adalah jenis makanan yang diberikan para ayah kepada anak-anak mereka. Studi mengungkapkan bahwa 43 persen kasus dad shaming terkait dengan diet makanan anak, diikuti dengan masalah-masalah lain, seperti pertengkaran, dan gaya pengasuhan ayah yang berdampak pada kebiasaan tidur, keamanan atau penampilan anak secara keseluruhan.

Baca juga: Alami Baby Shaming Seperti Tasya Kamila? Ini Cara Hadapinya

Dampak Negatif Dad Shaming 

Sebagian kasus dad shaming bisa memberi dampak baik pada sang ayah yang akhirnya jadi mengubah pola asuh mereka menjadi lebih baik. Beberapa ayah mengaku terdorong untuk mencari informasi lebih lanjut tentang praktik pengasuhan yang baik setelah mendapatkan kritikan. Namun, dalam kasus lain, terlalu banyak “penghinaan” dalam kasus dad shaming juga bisa menyebabkan sebagian ayah menjadi tidak semangat untuk tetap berperan sebagai orangtua. Menurut survei, lebih dari seperempat ayah yang mengalami dad shaming jadi merasa tidak percaya diri sebagai orang tua dan merasa tidak bisa memberikan kesejahteraan bagi anak mereka masing-masing.

Jadi, mom shaming maupun dad shaming adalah hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan, apapun alasannya. Hal ini karena setiap orang tua memiliki cara pengasuhan yang tidak sama, tergantung kemampuan, situasi dan kondisi keluarga masing-masing. Jadi, jangan jadikan pandangan pribadi sebagai panduan pola asuh untuk keluarga yang berbeda ya.

Baca juga: Stop Mom Shaming, Perbedaan Pandangan Setiap Ibu Perlu Dihargai

Bila ibu ingin berdiskusi seputar pola asuh anak, gunakan saja aplikasi Halodoc. Ibu bisa menghubungi psikolog anak di Halodoc melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:

WebMD (Dilansir pada 2019). 'Dad Shaming' Is Real, Survey Shows

Parents (Dilansir pada 2019). Dad Shaming is a Thing: More Than Half of Fathers Say They Face Criticism of Their Parenting