Benarkah Lansia Berisiko Alami Sindrom Cauda Equina?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
sindrom cauda equina, inkontinensia urine dan tinja

Halodoc, Jakarta - Meski tergolong kondisi medis yang langka, sindrom cauda equina yang tidak ditangani dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, inkontinensia urine dan tinja, hingga disfungsi seksual. Benarkah sindrom ini memiliki risiko tinggi untuk terjadi pada lansia?

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa sindrom cauda equina adalah kondisi ketika sekumpulan akar saraf di bagian bawah saraf tulang belakang mengalami tekanan. Sindrom ini disebabkan oleh berbagai kondisi yang mengakibatkan peradangan atau terjepitnya saraf di bagian bawah tulang belakang. 

Baca juga: Kenali 4 Penyakit yang Bisa Serang Saraf

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena sindrom cauda equina, salah satunya adalah faktor usia. Orang lanjut usia alias lansia memang memiliki risiko lebih tinggi terhadap sindrom ini ketimbang yang berusia muda. Namun, selain usia, beberapa faktor lain yang juga turut meningkatkan risiko adalah:

  • Atlet.

  • Memiliki berat badan berlebih atau obesitas.

  • Sering mengangkat atau mendorong benda berat.

  • Cedera punggung akibat jatuh atau kecelakaan.

Selain beberapa faktor tadi, sindrom cauda equina juga dapat disebabkan oleh kondisi medis tertentu. Salah satu kondisi medis yang cukup umum menyebabkan sindrom ini adalah herniasi diskus atau hernia nukleus pulposus. Herniasi diskus adalah kondisi ketika bantalan tulang belakang mengalami pergeseran. 

Selain itu, ada beberapa kondisi yang juga dapat menyebabkan sindrom cauda equina, yaitu:

  • Infeksi atau peradangan pada tulang belakang.

  • Stenosis spinal.

  • Cedera tulang belakang bagian bawah.

  • Cacat lahir.

  • Malformasi arteri vena.

  • Tumor pada tulang belakang.

  • Perdarahan tulang belakang (subarachnoid, subdural, epidural).

  • Komplikasi pasca operasi tulang belakang.

Seperti Gejala Sindrom Cauda Equina?

Di awal telah dijelaskan bahwa sindrom cauda equina terjadi ketika sekumpulan akar saraf di bagian bawah saraf tulang belakang mengalami tekanan. Akar saraf ini memiliki peran sebagai penghubung antara otak dan organ tubuh bagian bawah, dalam mengirim dan menerima sinyal sensorik dan motorik, dari dan menuju tungkai, kaki, dan organ panggul. 

Ketika akar saraf tertekan, sinyal akan terputus, memengaruhi fungsi bagian tubuh tertentu, dan menimbulkan berbagai gejala. Namun, gejala sindrom cauda equina dapat bervariasi, berkembang secara bertahap, dan terkadang menyerupai gejala penyakit lainnya, sehingga sulit terdiagnosis. 

Baca juga: 5 Gejala Penyakit Saraf yang Perlu Diketahui

Gejala yang dapat muncul adalah:

  • Nyeri hebat di punggung bagian bawah.

  • Nyeri di sepanjang saraf panggul (skiatika), baik pada satu atau kedua tungkai.

  • Mati rasa di area pangkal paha.

  • Gangguan buang air besar dan buang air kecil.

  • Berkurang atau hilangnya refleks anggota tubuh bagian bawah.

  • Otot tungkai melemah.

Jika kamu mengalami berbagai gejala tersebut, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter, agar penanganan bisa dilakukan sesegera mungkin. Sekarang, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan juga bisa dilakukan di aplikasi Halodoc, lho. Lewat fitur Talk to a Doctor, kamu bisa obrolkan langsung gejalamu melalui Chat atau Voice/Video Call.

Ini Cara Memastikan Diagnosis Sindrom Cauda Equina

Untuk memastikan diagnosis sindrom cauda equina, dokter dapat mencurigainya dengan melihat gejala-gejalanya, yang tentunya diperkuat oleh pemeriksaan fisik. Untuk melakukan pemeriksaan, kini kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc, lho. Jadi, pastikan kamu sudah download aplikasinya di ponselmu, ya.

Nah, selama pemeriksaan fisik berlangsung, dokter akan menguji keseimbangan, kekuatan, koordinasi, dan refleks pada tungkai dan kaki pasien. Caranya adalah dengan menginstruksikan pasien untuk:

  • Duduk.

  • Berdiri.

  • Berjalan dengan tumit dan jari kaki.

  • Mengangkat kaki dalam posisi berbaring.

  • Membungkukkan tubuh ke depan, belakang, dan samping.

Baca juga: Sebelum Bertemu Dokter Spesialis Neurologi, Ini Persiapannya

Selain itu, tes pencitraan juga dilakukan untuk memastikan diagnosis pasien, seperti:

  • Mielografi, yaitu prosedur pemeriksaan tulang belakang dengan menggunakan sinar-X dan cairan kontras yang disuntikkan ke dalam jaringan sekitar tulang belakang. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan tekanan yang terjadi pada saraf tulang belakang.

  • CT scan, untuk menghasilkan gambar kondisi sumsum tulang belakang dan jaringan sekitarnya dari berbagai sudut.

  • MRI, untuk menghasilkan gambar detail sumsum tulang belakang, akar saraf, dan area sekitar tulang belakang.

Elektromiografi, untuk mengevaluasi dan merekam aktivitas elektrik yang dihasilkan oleh otot dan sel saraf. Hasil elektromiografi dapat melihat gangguan fungsi saraf dan otot.

Referensi:
WebMD (Diakses pada 2019). Cauda Equina Syndrome Overview
Emedicine Health (Diakses pada 2019). Cauda Equina Syndrome
Healthline (Diakses pada 2019). What Is Cauda Equina Syndrome (CES) and How Is It Treated?