Benarkah Operasi Mata Bisa Sebabkan Hifema?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
hifema

Halodoc, Jakarta - Hifema merupakan kondisi yang terjadi jika terkumpulnya darah di bilik depan mata yang terletak diantara kornea dan iris. Penyakit yang satu ini biasanya terjadi karena adanya cedera atau trauma yang menyebabkan robeknya kornea atau iris. Hifema biasanya muncul disertai dengan rasa nyeri pada mata yang terasa sangat parah.

Sekumpulan darah yang berada di bilik depan mata ini akan menghalangi sebagian atau seluruh penglihatan. Hifema merupakan kondisi yang perlu mendapat pertolongan medis dengan segera. Pasalnya, jika gejala yang muncul dibiarkan begitu saja, kerusakan penglihatan secara permanen bisa saja terjadi. Apa yang menjadi penyebab dan faktor risiko terjadinya hifema?

Baca juga: Penanganan Pertama untuk Redakan Gejala Hifema

Operasi Mata Bisa Sebabkan Hifema, Benarkah?

Hifema dapat muncul sebagai komplikasi pasca operasi mata yang dilakukan karena adanya cedera mata yang dialami sebelumnya. Tak hanya itu, berikut ini beberapa kondisi yang dapat menjadi pemicu terjadinya hifema:

  • Infeksi mata yang terjadi karena virus herpes.

  • Pembuluh darah yang tidak normal pada permukaan iris mata.

  • Mengidap gangguan pembekuan darah.

  • Mengalami kelainan pembuluh darah atau pembentukan pembuluh darah baru.

Penanganan dilakukan dengan menanyakan adanya riwayat cedera mata pada pengidap. Tak hanya itu, pemeriksaan fisik mata juga diperlukan dengan memeriksa tekanan pada bola mata, serta ketajaman penglihatan pengidap. Jika pengidap pernah mengalami cedera mata sebelumnya, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan lanjut, berupa CT scan mata.

Baca juga: Bisakah Mata Kembali Normal Jika Terkena Hifema?

Gejala yang Muncul pada Pengidap Hifema

Gejala utama pada pengidap hifema dapat dilihat dari pendarahan yang dialami pada bagian bilik mata depan. Hifema belum dapat terlihat jika pengidap hanya mengalami sedikit pendarahan. Tak hanya adanya pendarahan yang terlihat, gejala dapat diikuti dengan:

  • Rasa nyeri parah pada mata.

  • Pandangan menjadi kabur atau terhalang.

  • Mata menjadi lebih sensitif terhadap cahaya.

Gejala-gejala yang muncul pada pengidap hifema akan membuat mereka berisiko tinggi mengalami peningkatan tekanan bola mata yang menyebabkan terjadinya glaukoma. Glaukoma sendiri merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan adanya kerusakan saraf mata yang menyebabkan gangguan penglihatan, bahkan kebutaan.

Baca juga: Mengejan saat Persalinan Bisa Sebabkan Hifema?

Pengobatan yang Dilakukan

Pengobatan yang dilakukan akan tergantung pada usia dan kondisi kesehatan masing-masing pengidap. Dalam kasus yang ringan, hifema dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu seminggu. Dalam hal ini, untuk mencegah agar hifema tidak bertambah parah, kamu dapat melakukan beberapa langkah berikut ini:

  • Batasi pergerakan mata.

  • Kurangi kegiatan fisik berat.

  • Banyak beristirahat.

  • Gunakan pelindung mata ketika beraktivitas, seperti kacamata.

Jika hifema muncul dengan rasa nyeri, biasanya dokter akan meresepkan obat pereda rasa nyeri.  Sementara untuk mengurangi peradangan, dokter biasanya akan meresepkan obat tetes mata. Dalam hal ini, diskusikan langsung dengan dokter di aplikasi Halodoc, ya! Jangan sembarangan mengonsumsi obat, karena bisa saja hifema yang kamu alami semakin bertambah parah.

Selama perawatan dilakukan, pengidap harus selalu memantau kondisi tekanan pada mata. Jika tekanan pada mata kembali meningkat dan pendarahan kembali terjadi, maka kamu harus segera mendapat penanganan yang tepat untuk mencegah terjadinya pendarahan yang lebih parah dan mengganggu penglihatanmu. Cegah kondisi ini dengan menggunakan kacamata pelindung saat melakukan aktivitas di luar ruangan, ya!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. What is a Hyphema? 
WebMD. Diakses pada 2019. Hyphema (Bleeding in Eye).