• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hati-Hati Bahaya Bulu Kucing pada Kesehatan

Hati-Hati Bahaya Bulu Kucing pada Kesehatan

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Halodoc, Jakarta - Kucing menjadi hewan yang lucu dan menggemaskan, ya. Sifatnya yang manja itu sering membuat hati luluh untuk selalu membelainya. Apalagi kalau sudah terlelap di sisi kamu, pasti rasanya hangat dan ingin mengganggu. Namun, sama halnya seperti manusia, hewan berbulu satu ini harus dijaga kebersihannya, karena kucing erat dengan risiko beragam penyakit. 

Terjadinya penularan penyakit ini tidak menjadikan kucing sebagai penyebab utamanya. Adanya bakteri dan parasit ini yang memiliki peran utama penularan penyakit dari kucing ke manusia. Parasit dan bakteri ini menempel pada bulu kucing ketika hewan satu ini bermain di lingkungan yang terbilang kurang terjaga kebersihannya. Inilah mengapa ibu hamil dan beberapa orang yang memiliki risiko terhadap penyakit autoimun memang lebih rentan. 

Bahaya Bulu Kucing pada Kesehatan

Di balik kelucuan dan menggemaskannya kucing, ada beberapa risiko penyakit yang bisa ditularkan oleh hewan kecil ini:

  • Kurap

Siapa sangka, kurap dapat terjadi pada manusia dan ditularkan melalui perantara kucing. Penularan kurap bisa terjadi jika kamu membelai kucing, karena jamur yang bersarang pada bulu kucing ini berpindah dan menginfeksi kulit kamu. Apalagi jika kucing kamu sering bermain di luar dan lingkungan sekitar kamu terbilang kurang terjaga kebersihannya. 

Baca juga: Hati-Hati, Ini Bahaya Bulu Kucing untuk Ibu Hamil

  • Reaksi Alergi

Bahaya bulu kucing juga bisa membuat kamu mengalami reaksi alergi. Namun, bukan bulunya yang secara spesifik menyebabkan terjadinya reaksi ini, melainkan air ludah, urine, dan serpihan kulit. Ketika kucing membersihkan tubuh dengan menjilati bulunya, makan kuman yang terdapat pada air liur ini lantas berpindah ke bulu kucing. Reaksi alergi yang terjadi seperti rhinitis alergi dengan gejala yang memang mirip dengan gejala flu. Bulu kucing dapat meningkatkan risiko serangan asma sebagai dampak dari reaksi alergi yang terjadi. 

  • Toksoplasmosis

Penyakit satu ini menjadi jenis yang paling ditakuti. Toxoplasma gondii, nama parasit yang menjadi penyebab toksoplasmosis, banyak ditemukan pada kotoran kucing yang sudah terkontaminasi. Sekitar 2 hingga 3 minggu setelah terjadi paparan dan infeksi, parasit akan keluar dari tubuh kucing melalui kotorannya. Ketika kucing menjilati bulunya, parasit bisa berpindah pada manusia ketika kamu mengelusnya. 

Baca juga: Bolehkah Memelihara Kucing saat Hamil? Temukan Jawabannya di Sini!

Namun, deteksi dini bisa membuat penyakit ini disembuhkan. Kamu hanya perlu mengenali gejalanya, dan melakukan pemeriksaan kesehatan khusus untuk mendeteksi adanya keberadaan virus tokso di dalam darah. Kalau kamu tidak sempat ke laboratorium, kamu bisa pakai aplikasi Halodoc untuk melakukan cek lab. Atau kamu mau bertanya pada dokter asli seputar masalah kesehatan apa saja, aplikasi Halodoc bisa dimanfaatkan. 

  • Penyakit Cakar Kucing

Adanya risiko penyakit cakar kucing membuat kamu harus waspada pada bahaya bulu kucing. Penyakit yang terjadi karena bakteri jenis Bartonella henselae ini tidak menunjukkan tanda tertentu. Biasanya, perpindahan bakteri ini dari hewan ke manusia terjadi melalui gigitan atau cakaran kucing, tetapi tidak menutup kemungkinan bakteri ini berpindah melalui bulu kucing. Sama dengan reaksi alergi, penularannya melalui bulu kucing terjadi ketika hewan ini membersihkan tubuhnya, dan kamu membelainya. 

Baca juga: Jangan Sepelekan Cakaran Kucing, Ini Dampaknya

Tentu saja, risiko bahaya bulu kucing ini bisa dikurangi. Kamu hanya perlu menjaga kebersihan kucing dengan rutin memandikannya dan memberikan vaksin. Selepas kamu memegang atau mengelus kucing, selalu cuci tangan pakai sabun sebelum menyentuh makanan. Terakhir, kamu tidak dianjurkan untuk membersihkan kotoran kucing jika sedang hamil, dan mengonsumsi makanan, terutama daging dan sayuran yang bersih dan matang. 

Referensi: 
NHS Choices UK. Diakses pada 2020. Asthma.
MedicineNet. Ddiakses pada 2020. What Is Scratch Disease?
NHS Choices. Diakses pada 2020. Toxoplasmosis.