07 November 2018

Hati-Hati Gigitan Kutu Bisa Sebabkan Penyakit Lyme

Hati-Hati Gigitan Kutu Bisa Sebabkan Penyakit Lyme

Halodoc, Jakarta - Menjaga kebersihan lingkungan dan tubuh adalah hal yang wajib dilakukan karena penyakit bisa datang dari mana saja. Salah satu penyakit yang datang dari tempat yang tidak kamu duga adalah penyakit lyme. Penyakit ini menyerang manusia melalui gigitan kutu, yang mana di dalam gigitan kutu tersebut terdapat bakteri genus Borrelia sp dan mengganggu sistem organ tubuh.

Penyakit ini tergolong parah dan cukup sulit didiagnosis. Avril Lavigne, penyanyi internasional ini mengidap penyakit lyme yang kemungkinan menyerangnya karena kebiasaan bepergian ke luar negeri. Sekitar 15 persen kasus penularan penyakit Lyme dilaporkan terjadi ketika ia bepergian ke Inggris dan Wales. Sementara itu, orang Indonesia dapat terserang penyakit lyme dan jenis bakteri yang menjadi penyebabnya adalah Borrelia burgdorferi.

Gejala Penyakit Lyme

Saat seseorang terkena gigitan kutu yang membawa bakteri penyakit lyme tidak menimbulkan ruam atau gejala lain yang perlu diwaspadai. Namun secara perlahan beberapa gejala akan dirasakan secara bertahap. Penyakit ini memiliki 3 stadium yang  dengan gejala yang berbeda dan semakin parah pada tiap stadium. Berikut penjelasan dari setiap stadium:

a. Stadium 1

Beberapa gejala muncul sekitar 1 hingga 2 minggu setelah terjadi gigitan kutu seperti munculnya ruam yang berbentuk seperti gambar target panahan. Ruam ini adalah pertanda bakteri telah berkembang biak di dalam pembuluh darah. Corak ruam yang terbentuk umumnya adalah kemerahan di daerah bekas gigitan kutu, dikelilingi daerah kulit normal dan dikelilingi lagi oleh daerah kemerahan di bagian luarnya. Ruam jenis ini dikenal dengan nama erythema migrans. Sayangnya, tidak semua pengidap mengalami gejala ini sehingga akan sulit mengenalinya.

b. Stadium 2

Pada stadium 2, bakteri menyebar ke seluruh tubuh dan menimbulkan gejala yang mirip flu. Hal ini dapat menimbulkan komplikasi seperti meningitis, gangguan saraf, atau penyakit jantung. Beberapa gejala yang dapat terjadi antara lain:

  • Demam.

  • Menggigil.

  • Sakit kepala.

  • Nyeri otot.

  • Pembesaran kelenjar getah bening.

  • Kelelahan.

  • Sakit tenggorokan.

  • Gangguan penglihatan.

c. Stadium 3

Pada stadium 3 terjadi saat pengidap tidak melakukan pengobatan pada stadium 1 dan 2. Stadium ini dapat terjadi beberapa bulan hingga tahun setelah terjadi gigitan kutu. Gejalanya antara lain:

  • Artritis atau peradangan sendi, terutama sendi besar seperti lutut.

  • Mati rasa pada tungkai dan lengan.

  • Aritmia atau detak jantung yang tidak normal, seperti tidak beraturan, terlalu cepat, atau terlalu lambat.

  • Gangguan ingatan jangka pendek.

  • Gangguan mental seperti sulit diajak berkomunikasi dan sulit berkonsentrasi.

  • Sakit kepala berat.

  • Ensefalopati.

Pengobatan Penyakit Lyme

Apabila seseorang sudah terdiagnosis terserang penyakit lyme, pengobatan yang dilakukan mengandalkan beberapa jenis obat antibiotik. Konsumsi obat antibiotik ini akan disesuaikan pada seberapa parah bakteri sudah menyebar. Mereka yang masih masuk dalam stadium awal akan diberikan obat antibiotik tablet dengan lama pengobatan adalah 2 hingga 3 pekan. Sementara untuk pengidap stadium lanjut, antibiotik jenis suntik akan direkomendasikan. Lama pengobatannya dapat berlangsung 2 minggu hingga 1 bulan. Beberapa jenis antibiotik yang dapat diberikan yaitu tetracylin, penisilin, makrolid, dan sefalosporin.

Pencegahan Penyakit Lyme

Beberapa cara dapat diterapkan sebagai pencegahan dari penyakit lyme, yaitu:

  • Menggunakan pakaian tertutup, terutama saat beraktivitas di tempat yang berumput.

  • Menjaga kebersihan keluarga, hewan peliharaan, dan lingkungan sekitar. Saat terkena gigitan kuku, segera gunakan antiseptik pada daerah yang dihinggapi kutu setelah kutu dibuang dari kulit.

  • Menggunakan krim antiserangga saat beraktivitas di area penuh rumput.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak tentang penyakit lyme serta gejala dan penanganannya, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Hubungi Dokter, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Baca juga: