• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ibu Mengidap Hepatitis, Bolehkah Menyusui?

Ibu Mengidap Hepatitis, Bolehkah Menyusui?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Selama dua tahun pertama usia bayi, pemberian ASI menjadi faktor yang penting dan wajib dilakukan oleh ibu. Bukan tanpa alasan, ASI mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan dalam tumbuh kembang bayi. Pun kandungan antibodinya membantu melindungi sang buah hati dari beragam penyakit yang terjadi karena infeksi. Namun, bagaimana jika ibu ternyata mengidap penyakit hepatitis?

Ibu perlu tahu bahwa hepatitis termasuk penyakit yang menular. Masalah kesehatan ini terjadi karena infeksi yang dikenal dengan istilah penyakit kuning. Pasalnya, penyakit ini memang membuat kulit dan mata berubah warnanya menjadi kekuningan. Ada banyak jenis hepatitis, mulai dari hepatitis A hingga E, di mana masing-masing memiliki cara penularannya sendiri. Dari kelima jenis tersebut, hepatitis yang mungkin ditularkan dari ibu ke anak adalah A, B, dan C.

Lalu, Amankah Ibu Pengidap Hepatitis Menyusui?

Ya, ibu yang mengidap hepatitis sangat bisa menularkan penyakit ini pada sang buah hati, salah satunya adalah melalui ASI yang diberikan ibu pada anak. Namun, apakah ibu yang sedang menyusui dan mengidap hepatitis lantas tidak boleh menyusui Si Kecil? Ternyata, kembali lagi, ini bergantung pada jenis hepatitis yang diidap ibu. 

Baca juga: Fakta tentang Penyakit Hepatitis

Hepatitis A merupakan jenis hepatitis yang paling sering terjadi. Penularannya bisa melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi, juga dari kontak langsung. Jika ibu mengidap hepatitis A, tidak masalah untuk tetap memberikan ASI pada sang buah hati. Pasalnya, hepatitis A tidak menular melalui ASI, bahkan tidak ditemukan adanya virus penyakit ini di dalam ASI. 

Sementara penularan hepatitis B terjadi melalui kontak seksual seperti halnya penularan penyakit HIV/AIDS. Virus ini bisa saja ditularkan pada bayi yang baru dilahirkan. Sayangnya, virus hepatitis B pun ditemukan pada ASI. Namun, sang buah hati bisa terlindung dari penyakit ini jika diberikan vaksin setidaknya pada 12 jam pertama setelah ia lahir. Lanjutkan vaksin pada usia 1 atau 2 bulan dan 6 bulan. 

Baca juga: Mitos & Fakta tentang Menyusui

Lalu, pada rentang usia 9 hingga 18 bulan, periksakan bayi untuk mengetahui apakah ia ternyata mengidap hepatitis ataukah tidak. Agar lebih mudah dan tidak perlu mengantre, gunakan aplikasi Halodoc untuk membuat janji dengan dokter ahli anak di rumah sakit terdekat. Seharusnya, vaksin akan mencegah anak tertular penyakit hepatitis B ini. 

Terakhir adalah hepatitis C, yang penularannya terjadi melalui kontak cairan, hubungan seksual, pemakaian jarum secara bergantian, hingga penggunaan narkotika dan obat terlarang. Sama halnya dengan hepatitis A, virus hepatitis C tidak ditemukan di dalam ASI. Namun, ibu disarankan untuk tidak memberikan ASI pada sang buah hati apabila mengalami luka atau berdarah di area puting. Pasalnya, akan dikhawatirkan virus hepatitis C yang ada pada ibu menular pada sang buah hati melalui darah. 

Hepatitis memang menjadi penyakit yang perlu ibu waspadai selama kehamilan. Oleh karena itulah, ibu perlu secara rutin memeriksakan kondisi kehamilan dan jangan lupa untuk rutin melakukan cek darah untuk mengetahui apakah ibu memiliki penyakit yang bisa berisiko ditularkan pada anak. Alangkah lebih baik jika ibu melakukannya sebelum merencanakan kehamilan, sehingga kehamilan ibu tetap aman dan sehat. 

Baca juga: 4 Gangguan Kesehatan yang Sering Dialami Ibu Menyusui

Referensi: 
IDAI. Diakses pada 2019. Menyusui pada Ibu Penderita Hepatitis B.
Baby Center. Diakses pada 2019. Breastfeeding and Hepatitis.
Everyday Health. Diakses pada 2019. Mother to Baby Hepatitis C Transmission: A Mother’s Day Message.