17 October 2018

Ini 4 yang Terjadi Pada Tubuh saat Patah Hati

Ini 4 yang Terjadi Pada Tubuh saat Patah Hati

Halodoc, Jakarta -  Christie Brinkley, seorang model dan artis asal Amerika Serikat (AS), pernah berkata “I'd rather have a broken arm than a broken heart.” Hmm, pernah mengalami patah hati? Kalau belum, mungkin penjelasan di bawah ini bisa membantu dirimu untuk mendapatkan gambarannya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) patah arti berarti: kecewa karena putus percintaan. Artinya, tak berbeda jauh dengan Cambridge Dictionary, yaitu: perasaan sangat sedih, terutama ketika seseorang yang kamu cintai meninggal atau tidak mencintaimu.

Memang banyak perasaan yang muncul ketika kita kehilangan orang yang dicintai. Hal itu adalah perasaan yang dipahami secara universal. Rasanya seperti sakit yang membutuhkan waktu berminggu-minggu, bulan, bahkan tahun untuk pulih. Pertanyaannya, apakah ini bisa menimbulkan gangguan psikis dan fisik? Jawabannya tegas, IYA! Kata ahli, efek fisiologis dari patah hati bisa berdampak buruk untuk tubuhmu.

Menurut ahli terapis individu dan pasangan dari AS, pikiran merupakan organ yang sangat kuat dan patah hati merupakan emosi yang amat kuat pula. Singkat kata, kondisi bisa menimbulkan sederet perubahan bagi tubuh dan pikiranmu.

1. Kecemasan Kronis

Respon “fight or flight response” atau “respons lawan atau lari” merupakan respons bawaan tubuh kita untuk menghadapi ancaman atau serangan terhadap kelangsungan hidup kita. Reaksi ini tidak hanya dipicu oleh keadaan fisik, tapi juga dengan trauma emosional dan mental.

Menurut ahli, sebuah perpisahan atau patah hati bisa membuat respon ini aktif dalam tubuh. Namun, tubuh tak bisa membedakan apakah penekanan respons itu datang dalam bentuk patah hati atau ada seekor singa yang mengejar dirimu. Sebabnya, tubuh akan merespons keduanya dengan cara yang sama. Responsnya bisa berupa gemetar, konsentrasi yang buruk, hingga pikiran yang mengganggu.

Namun, tekanan dari ancaman yang ditimbulkan oleh seekor singa adalah sementara. Sedangkan tekanan atau “ancaman” yang ditimbulkan oleh stres, yang disebabkan karena perpisahan bisa berlangsung lama. Bahkan, bisa menyebabkan kecemasan kronis. Nah, menurut ahli hal inilah yang bisa berujung ada depresi bila dibiarkan terus-menerus.

2. Menurunnya Kualitas Sistem Imun

Mungkin orang-orang di sekelilingmu pernah menggambarkan bahwa patah hati rasanya seperti “tertabrak truk”. Bila dirimu berpikir bahwa putus cinta terkait dengan masalah fisik, jawabannya tepat. Permasalahan hati ini memang bisa menimbulkan masalah fisik seperti mengganggu sistem kekebalan tubuh untuk memerangi virus.

Menurut psikolog dan ahli terapis pasangan dari AS, ketika putus cinta tubuh akan melepaskan hormon stres yang bisa menurunkan fungsi kekebalan tubuh. Nah, hal inilah yang bisa menimbulkan masalah kesehatan lainnya.

Kata ahli di atas, tubuhmu pada dasarnya akan lebih lemah setelah putus cinta, bahkan lebih sensitif terhadap rasa sakit yang berkaitan dengan fisik.

3. Meningkatnya Hormon Kortisol

Kortisol merupakan hormon stres yang dilepaskan tubuh ketika seseorang berada dalam situasi yang “menekan” dirinya. Setelah hubungan romantismu dan pasangan berakhir, tubuh secara otomatis akan melepaskan kortisol, yang salah satunya tandanya seperti meningkatnya denyut jantung.

Kata ahli, putus cinta adalah stres jangka panjang yang bisa membuat hormon kortisol juga bertahan lebih lama dalam tubuhmu. Namun yang bikin resah, hal ini bisa menyebabkan kecemasan, rasa takut, khawatir, kelelahan fisik, dan gejala lainnya.

4. Kematian

Ini bukan candaan, lho. Bahkan, ada istilah medis untuk menggambarkannya, yaitu takotsubo cardiomyopathy. Takotsubo cardiomyopathy merupakan kondisi di mana otot-otot jantung melemah atau tertegun yang dampaknya bisa menyebabkan serangan jantung maupun kematian. Menurut ahli dari British Heart Foundation, pemicunya bisa karena orang tersebut mengalami tekanan emosional atau fisik yang signifikan. Kabar baiknya, kerusakan pada jantung ini dapat dipulihkan kok.

Mau tahu lebih jauh mengenai hal di atas? Kamu bisa lho bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Baca juga: