17 October 2018

Ini Alasan Pria Selingkuh Menurut Sains

Ini Alasan Pria Selingkuh Menurut Sains

Halodoc, Jakarta - Semua orang yang telah berkomitmen sehidup semati pasti ingin pasangannya selalu setia. Mereka ingin pasangannya hanya menjadi miliknya hingga akhir hayat. Walau begitu, perselingkuhan bisa saja terjadi meski telah berikrar untuk bersama seumur hidup. Pada umumnya, orang-orang akan mengatakan selingkuh itu salah. Namun, kenapa tetap saja ada orang yang berselingkuh?

Perselingkuhan ternyata dapat menjadi pengalaman yang buruk secara mental dan emosional. Baik itu untuk orang yang melakukannya, atau pun bagi pasangan yang diselingkuhinya. Lalu, kenapa masih saja ada orang yang ingin berselingkuh? Ternyata terdapat beberapa alasan kenapa pria berselingkuh secara ilmiah, yaitu:

  1. Manusia Tidak Secara Alami Bersifat Monogami

Menurut sains, manusia secara alami tidak bisa menjalani hubungan monogami. Bagi sebagian manusia, mungkin saja gagasan monogami sudah tertanam dalam dirinya. Namun ternyata, kondisi tersebut tidak berlaku bagi sebagian lainnya. Selain itu, banyak budaya yang menganggap poligami bisa diterima dan dipraktekkan. Meski begitu, seseorang bisa saja secara tidak alami mempunyai niat berkomitmen pada satu orang, tetapi dapat menjadikannya sebagai prioritas.

Sebuah penelitian mengatakan bahwa sebagian orang dengan tipe tertentu dari gen reseptor dopamin lebih banyak melakukan hubungan intim dan 50 persen cenderung akan mengkhianati pasangan. Para ilmuwan dari Finlandia juga menilai bahwa gen tersebutlah yang bertanggung jawab pada reseptor vasopresin (hormon yang berkaitan dengan ikatan pada pasangan). Jika seseorang mempunyai banyak reseptor vasopresin, maka akan berbanding lurus dengan perselingkuhan.

  1. Selingkuh Ada Dalam Gen

Hal lainnya yang membuat pria rentan selingkuh adalah karena selingkuh ada di dalam gennya. Gen dapat memengaruhi banyak hal, termasuk kemungkinan seseorang untuk selingkuh. Kamu harus mengetahui DRD4-mu, yaitu gen yang membantu untuk memproduksi hormon dopamin yang diproduksi otak ketika mendapatkan stimulasi oleh hal yang menyenangkan seperti makanan, intimasi, dan sebagainya.

Semua orang memiliki gen DRD4 dan seseorang dengan alel DRD4 yang panjang memerlukan stimulasi yang lebih banyak untuk melepas dopamin. Individu dengan alel yang panjangnya dua kali lipat mempunyai kecenderungan melakukan hubungan bebas dan perselingkuhan dibandingkan seseorang dengan alel yang pendek.

Lalu, gen lainnya yang dapat memengaruhi seseorang adalah AVPR1A. Gen tersebut berfungsi untuk memproduksi arginine vasopressin yang berhubungan dengan kemampuan empati, percaya, dan ikatan seksual. Berdasarkan sebuah studi, 40 persen wanita yang memiliki gen ini mempunyai kecenderungan untuk berselingkuh.

  1. Sistem Otak Berpengaruh pada Perselingkuhan

Ternyata sistem otak dapat memengaruhi seseorang untuk berselingkuh. Setiap orang mempunyai tiga sistem otak yang berbeda terkait pernikahan, yaitu perasaan cinta romantis, dorongan seksual, dan perasaan keterikatan yang dalam. Ketiganya belum tentu saling berhubungan satu sama lain.

Ketika bersama dengan seseorang, mungkin kamu merasa "nyambung" dengan orang tersebut dan sebagian otak yang mempunyai pengaruh terhadap dorongan seksual membuat fokus pada orang lain. Lalu, bagian otak yang lain yang fungsinya mengontrol perasaan cinta romantis membuat obsesi dengan orang lainnya lagi. Hal tersebutlah yang membuat seseorang berselingkuh.

Hal tersebut menjawab pernyataan bahwa seseorang dapat berselingkuh karena adanya pengaruh banyak hal pada dirinya. Teori-teori itu dapat menjadi alasan ketika seseorang mengatakan orang yang berselingkuh kurang mempunyai moral.

Faktor biologis mampu menjadi pertimbangan kenapa seseorang berselingkuh. Walau begitu, tidak dibenarkan juga hal ini dapat menjadi dasar alasan kamu berselingkuh. Tetaplah berusaha setia pada pasangan kamu, karena hal tersebut adalah pilihan yang kamu buat.

Itulah alasan pria berselingkuh secara sains. Jika kamu menginginkan saran profesional perihal hubungan, dokter, psikiater, dan psikolog dari Halodoc siap membantu. Caranya dengan download aplikasi Halodoc di Apps Store atau Play Store. Kamu juga bisa membeli obat di Halodoc. Pesananmu akan sampai dalam waktu kurang dari satu jam.

Baca juga: