30 September 2018

Inilah 7 Jenis Delirium yang Perlu Diketahui

Inilah 7 Jenis Delirium yang Perlu Diketahui

Halodoc, Jakarta - Pernahkah kamu tiba-tiba mengalami kebingungan parah dan penurunan kesadaran terhadap lingkungan sekitar? Jika kamu sering mengalaminya, bisa jadi itu adalah tanda delirium. Delirium adalah sejenis gangguan mental serius yang membuat seseorang menjadi tidak sadar dengan lingkungan sekitarnya.

Kondisi ini disebabkan oleh adanya perubahan cepat dalam fungsi otak yang terjadi bersamaan dengan penyakit mental atau fisik lainnya. Delirium cukup mengganggu, karena akan membuat orang yang mengalaminya sulit berkonsentrasi, mengingat sesuatu, susah tidur, hingga gangguan kognitif lainnya seperti kesulitan berbicara dan memahami pembicaraan.

Selain gangguan kognitif, pengidap delirium akan mengalami gangguan emosional seperti mudah gelisah, takut, mudah tersinggung, depresi, apatis, dan perubahan mood mendadak. Gejala-gejala tersebut biasanya akan semakin memburuk saat malam hari, atau ketika suasana di sekitar menjadi gelap, sehingga membuat pengidap delirium merasa asing dengan lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan gejala yang ditunjukkan, delirium dibagi menjadi 3 jenis, sebagai berikut:

1. Delirium Hiperaktif

 

 

Seperti namanya, delirium jenis ini memiliki gejala yang berupa perubahan perilaku menjadi lebih aktif dari biasanya. Pengidap delirium jenis ini biasanya akan menunjukkan sikap gelisah yang berlebihan, perubahan mood yang begitu drastis, dan sering berhalusinasi. Delirium jenis ini sangat mudah dideteksi, karena gejalanya yang akan terlihat jelas.

2. Delirium Hipoaktif

 

 

Kebalikan dari jenis hiperaktif, delirium hipoaktif cenderung sulit untuk dideteksi, karena orang yang mengalaminya biasanya akan bersikap sangat tenang. Pengidap delirium jenis ini biasanya akan mengurangi berbagai aktivitasnya, tidak aktif, dan lebih banyak tidur atau menyendiri.

3. Delirium Campuran

 

 

Delirium jenis ini merupakan campuran atau gabungan antara delirium hiperaktif dan hipoaktif. Orang yang mengalami delirium jenis ini pada suatu waktu akan menunjukkan gejala-gejala delirium hiperaktif, lalu tak lama kemudian berubah menjadi hipoaktif.

Sementara itu, berdasarkan penyebabnya, delirium dibagi menjadi 4 jenis, sebagai berikut:

1. Delirium yang Disebabkan Konsumsi Obat

 

 

Konsumsi obat secara berlebihan dapat berpotensi menyebabkan seseorang terkena delirium. Beberapa jenis obat yang memicu delirium adalah obat pereda nyeri, obat parkinson, obat tidur, obat asma, obat anti-alergi, dan anti-depresan.

2. Delirium Tremens (DT)

 

 

Delirium jenis ini merupakan delirium yang disebabkan oleh penghentian konsumsi alkohol, yang biasanya dialami oleh para pecandu minuman beralkohol. Orang yang mengalami delirium tremens biasanya akan mengalami halusinasi pendengaran. Pada beberapa kasus, sering kali pengidap bertindak sesuai halusinasinya tersebut, hingga dapat membahayakan dirinya dan orang di sekitarnya.

3. Delirium yang Disebabkan oleh Narkotika dan Zat Psikoaktif

 

 

Penggunaan narkotika dan zat psikoaktif juga merupakan salah satu pemicu terjadinya delirium pada seseorang. Zat amfetamin misalnya, penggunaan dalam dosis tinggi dan terus menerus akan membuat seseorang mengalami delirium yang disertai gejala deprivasi tidur, gangguan koordinasi motorik, memori, persepsi, dan gangguan konsentrasi.

4. Delirium yang Disebabkan Etiologi Multiple

 

 

Delirium jenis ini merupakan delirium yang disebabkan oleh gabungan dari berbagai gangguan kesehatan, baik fisik maupun mental. Penyakit parkinson, usia lanjut, demensia, dan gangguan sensorik, merupakan beberapa kondisi yang bila terjadi bersamaan pada seseorang, dapat memicu timbulnya delirium.

Itulah beberapa jenis delirium berdasarkan gejala dan penyebabnya. Jika kamu membutuhkan diskusi lebih lanjut tentang gangguan mental ini dengan ahlinya, jangan ragu untuk menggunakan fitur Contact Doctor pada aplikasi Halodoc, ya. Diskusi bisa dilakukan dengan mudah kok, kamu bisa pilih ingin gunakan Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat secara online, kapan saja dan di mana saja, hanya dengan men-download aplikasi Halodoc di Apps Store atau Google Play Store.

Baca juga: