Inilah Pemeriksaan untuk Diagnosis Sistokel

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Inilah Pemeriksaan untuk Diagnosis Sistokel

Halodoc, Jakarta - Tubuh terdiri dari berbagai organ yang sama-sama penting dan wajib dijaga kesehatannya. Pasalnya, terjadinya masalah pada salah satu organ bisa berdampak pada organ tubuh lainnya, yang dapat mengakibatkan komplikasi yang terbilang akut. Misalnya sistokel, kondisi ketika kandung kemih turun atau bahkan jatuh ke vagina yang mengakibatkan seorang wanita kesulitan untuk buang air kecil. 

Sistokel disebabkan karena melemahnya dinding yang membatasi atau berperan sebagai penyekat antara vagina dan kandung kemih. Pada wanita, dinding yang berada di bagian depan vagina berfungsi sebagai penyokong kandung kemih. Meski begitu, perlemahan dinding ini mungkin terjadi seiring dengan semakin bertambahnya usia. 

Penyebab, Gejala, dan Diagnosis Sistokel

Tidak hanya bertambahnya usia, sistokel bisa terjadi karena kehamilan, operasi pada area panggul dan melahirkan. Jika dinding penyekat ini sudah begitu lemah, kandung kemih tidak lagi bisa tersanggah dengan baik, sehingga memungkinkan untuk jatuh ke vagina. Jika ini terjadi, kamu kesulitan untuk buang air kecil dan tidak bisa mengontrol keluarnya urine ketika bersin, mengejan, maupun batuk. 

Baca juga: Ini Bedanya Infeksi Saluran Kemih dan Batu Kandung Kemih

Selain kandung kemih, beberapa organ lain juga bisa jatuh ke vagina, termasuk rektum, usus kecil, dan rahim. Sistokel dikategorikan menjadi 4 tingkatan, dengan tingkatan 1 adalah ringan dan tingkatan 4 adalah komplit atau kondisi ketika kandung kemih sudah berada di bagian luar vagina. Biasanya, kondisi ini diikuti dengan turunnya organ tubuh lain yang berada tidak jauh dari kandung kemih

Ketika mengalami sistokel, kamu tidak hanya mengalami kesulitan buang air kecil. Gejala lain yang juga dirasakan adalah adanya benjolan pada vagina, sakit dan mengompol ketika berhubungan intim, inkontinensia urine yang diikuti dengan rasa nyeri pada bagian panggul, perut bagian bawah, dan ketika kamu sedang duduk. Jika kondisi ini kamu alami, gunakan aplikasi Halodoc untuk membuat janji dengan dokter di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. 

Baca juga: Ibu Melahirkan Normal Berisiko Alami Sistokel?

Supaya bisa memastikan apakah kamu benar-benar mengalami sistokel, dokter melakukan beberapa pemeriksaan untuk diagnosis sistokel. Pemeriksaan ini meliputi area panggul dan organ genital. Jika diagnosis belum bisa didapatkan dari pemeriksaan tersebut, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan menggunakan sistouretrogram, sejenis rontgen yang dilakukan ketika kamu berkemih. 

Pemeriksaan ini bertujuan untuk membantu dokter dalam menentukan bentuk kandung kemih dan penyebab kamu mengalami kesulitan buang air kecil. Rontgen juga mungkin dilakukan pada beberapa area di bagian perut. Pemeriksaan lain yang dilakukan termasuk pemeriksaan saraf, otot, dan pemeriksaan intensitas aliran urine untuk menentukan pengobatan yang paling sesuai. 

Jika diperlukan, dokter juga menyarankan untuk melakukan pemeriksaan urodinamik atau EKG kandung kemih. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara volume dan tekanan pada kandung kemih. Terakhir adalah melakukan sistoskopi, yaitu pemeriksaan menggunakan sebuah kamera untuk melihat kondisi kandung kemih. 

Baca juga: Nyeri Saat Buang Air Kecil, Tanda Alami Infeksi Saluran Kemih?

Pilihan Pengobatan Sistokel

Sistokel bisa ditangani tanpa atau melalui operasi. Jika pengobatan dilakukan tanpa operasi, pilihan yang bisa kamu pertimbangkan adalah pesarium, menempatkan sebuah alat pada vagina untuk mengembalikan posisi kandung kemih atau terapi dengan mengganti estrogen untuk menguatkan dan merawat otot-otot vagina. Biasanya, pengobatan tidak diperlukan jika sistokel masih dalam tahap ringan. 

Referensi: 
WebMD. Diakses pada 2019. Prolapsed Bladder.
Emedicine Health. Diakses pada 2019. Prolapsed Bladder.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Cystocele.