
DAFTAR ISI
- Apa Itu Cefaclor?
- Merek Dagang Cefaclor
- Studi tentang Cefaclor
- Peringatan sebelum Menggunakan Cefaclor
- Dosis Cefaclor
- Cara Menggunakan Cefaclor
- Efek Samping Cefaclor
- Interaksi Cefaclor
- Kontraindikasi Cefaclor
Perhatian Penting
1. Artikel ini bersifat edukasi dan ditujukan hanya untuk tenaga kesehatan.
2. Pasien tidak diperbolehkan menggunakan informasi ini untuk penggunaan mandiri.
3. Semua keputusan terapi harus berdasarkan pemeriksaan dokter.
Apa Itu Cefaclor?
Cefaclor adalah obat antibiotik golongan sefalosporin generasi kedua yang memiliki spektrum luas terhadap bakteri gram positif dan gram negatif.
Obat ini bekerja dengan cara mengikat protein pengikat penisilin (PBP) pada dinding sel bakteri, yang kemudian menghambat biosintesis peptidoglikan.
Hal ini menyebabkan dinding sel bakteri menjadi tidak stabil dan akhirnya hancur (efek bakterisidal).
Cefaclor sangat efektif untuk mengatasi infeksi kulit dan infeksi saluran kemih.
- Golongan: Antibiotik sefalosporin (generasi kedua)
- Kategori: Obat keras (resep dokter)
- Manfaat: Mengobati berbagai infeksi bakteri seperti pneumonia, sinusitis, otitis media, dan infeksi saluran kemih.
- Digunakan oleh: Dewasa dan Anak-anak.
- Cefaclor untuk ibu hamil: Kategori B, studi pada hewan tidak menunjukkan risiko pada janin, namun penggunaan tetap harus di bawah pengawasan dokter.
- Cefaclor untuk ibu menyusui: Dapat terserap ke dalam ASI, konsultasikan dengan dokter sebelum penggunaan.
- Bentuk obat: Kapsul, tablet, dan sirup.
Merek Dagang Cefaclor
Berikut adalah beberapa merek dagang Cefaclor:
- Forifek Kapsul 500 mg. Obat antibiotik sediaan kapsul yang mengandung Cefaclor 500 mg, digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri berat pada dewasa seperti infeksi saluran pernapasan bawah atau pneumonia.
- Forifek Dry Sirup 60 ml. Antibiotik sediaan sirup kering yang perlu dilarutkan dengan air, diformulasikan khusus untuk memudahkan pemberian dosis pada anak-anak yang mengalami infeksi telinga, tenggorokan, atau kulit.
Studi Tentang Cefaclor
Studi yang dipublikasikan oleh BMC Urology (2020) mengungkapkan bahwa, Cefaclor terbukti dapat mengobati infeksi saluran kemih (AUC), bahkan pada pasien yang sudah kebal terhadap obat jenis lain seperti cefazolin atau levofloxacin.
Efektivitasnya yang tinggi, membuat obat ini dapat dipertimbangkan sebagai pilihan utama untuk menyembuhkan infeksi saluran kemih, maupun sebagai pilihan cadangan bagi pasien yang gagal sembuh dengan pengobatan sebelumnya.
Peringatan sebelum Menggunakan Cefaclor
Sebelum memulai terapi dengan antibiotik ini, tenaga kesehatan perlu memperhatikan kondisi klinis serta riwayat medis pasien secara menyeluruh guna menghindari risiko komplikasi.
Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Riwayat alergi. Waspadai risiko alergi silang pada pasien yang memiliki riwayat hipersensitivitas terhadap penisilin.
- Gangguan ginjal. Diperlukan penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal berat.
- Penggunaan jangka panjang. Penggunaan yang tidak tepat atau terlalu lama dapat memicu superinfeksi seperti diare akibat Clostridium difficile.
- Riwayat kejang. Hati-hati penggunaan pada pasien dengan riwayat gangguan saraf pusat atau kejang.
- Riwayat penyakit saluran cerna, terutama kolitis terkait antibiotik atau diare berat. Pada pasien yang pernah mengalami kolitis terkait antibiotik risiko kambuhnya kolitis lebih tinggi saat menggunakan antibiotik kembali.
Kamu alami infeksi kandung kemih? Simak selengkapnya, Ini Obat Infeksi Saluran Kemih yang Umum Diresepkan.
Dosis Cefaclor
Penentuan dosis Cefaclor harus disesuaikan dengan jenis infeksi, tingkat keparahan penyakit, serta usia dan berat badan pasien.
Sistitis (peradangan kandung kemih)
- Dewasa: dosis biasa 250-500 mg setiap 8 jam. Dosis dapat digandakan untuk kondisi parah, maksimum 4.000 mg per hari.
- Anak di atas 1 bulan: Dosis biasa 20 mg/kg bb per hari, dalam 2-3 dosis terbagi. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 40 mg/kg bb per hari dalam dosis terbagi dalam kasus serius, maksimal 1.000 mg per hari.
Pneumonia (infeksi paru)
- Dewasa: Tablet lepas lambat 750 mg setiap 12 jam.
Infeksi kulit dan mulut
- Dewasa: Sebagai tablet lepas lambat: 375 mg setiap 12 jam, selama 7-10 hari.
Faringitis streptokokus (infeksi di saluran pernapasan)
- Dewasa: Sebagai tablet lepas lambat 375 mg setiap 12 jam, selama minimal 10 hari.
Cara Menggunakan Cefaclor
Kepatuhan terhadap tata cara penggunaan obat sangat menentukan keberhasilan pengobatan. Berikut ini cara menggunakan Cefaclor:
- Konsumsi Cefaclor secara utuh dengan air putih. Untuk sediaan suspensi, kocok botol terlebih dahulu sebelum digunakan.
- Obat ini dapat dikonsumsi sebelum atau sesudah makan. Namun, mengonsumsinya bersama makanan dapat meningkatkan penyerapan pada sediaan tablet lepas lambat.
- Habiskan seluruh dosis yang diresepkan dokter meskipun gejala sudah membaik untuk mencegah resistensi bakteri.
- Jika lupa mengonsumsi obat, segera minum jika jeda dengan jadwal berikutnya masih jauh.
- Jangan menggandakan dosis tanpa anjuran medis.
Efek Samping Cefaclor
Sebagaimana antibiotik pada umumnya, penggunaan Cefaclor berpotensi menimbulkan beberapa efek samping mulai dari reaksi ringan pada saluran cerna hingga reaksi sistemik yang serius.
Efek Samping Umum:
- Gangguan pencernaan (mual, muntah, atau diare ringan).
- Sakit kepala.
- Ruam kulit ringan atau gatal.
Mau tahu apa saja vitamin untuk mencegah infeksi saluran kemih? Baca di artikel: Ini 7 Rekomendasi Vitamin untuk Mencegah Infeksi Saluran Kemih (ISK).
Interaksi Cefaclor
Efektivitas Cefaclor dapat berubah atau risiko efek samping dapat meningkat apabila dikonsumsi bersamaan dengan obat-obatan atau zat tertentu, seperti:
- Probenesid. Menghambat pengeluaran Cefaclor melalui ginjal sehingga meningkatkan kadar obat dalam darah.
- Antikoagulan (warfarin). Dapat meningkatkan efek pengencer darah dan risiko perdarahan.
- Antasida (magnesium/aluminium). Dapat menurunkan penyerapan Cefaclor tablet lepas lambat (berikan jeda minimal 2 jam).
Kontraindikasi Cefaclor
Terdapat beberapa kondisi medis tertentu yang membuat penggunaan Cefaclor dilarang karena dapat membahayakan keselamatan pasien.
- Pasien dengan riwayat hipersensitivitas atau alergi berat terhadap antibiotik golongan sefalosporin.
- Riwayat reaksi alergi berat (seperti anafilaksis) terhadap penisilin atau antibiotik lainnya.
Pemberian antibiotik harus dilakukan dengan prinsip penggunaan bijak untuk mencegah resistensi obat.
Segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Halodoc, jika kamu memiliki keluhan atau pertanyaan lain seputar masalah kesehatan.
Tak perlu bingung cari obat, kamu bisa dapatkan di apotek 24 jam terdekat dari rumah, karena ada Apotek Online Halodoc.
Obat dan produk kesehatan di Toko Kesehatan Halodoc dijamin 100% asli dan tepercaya. Produk dikirim dari apotek terdekat dari rumahmu, diantar dalam waktu 1 jam.
Segera download Halodoc untuk pengalaman belanja obat online dengan praktis!


