Chlamydia

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Pengertian Chlamydia

Chlamydia adalah salah satu penyakit menular seksual yang ditularkan melalui hubungan seks tanpa menggunakan kondom. Kaum wanita yang berusia muda umumnya yang paling sering mengidap chlamydia, baik pria maupun wanita segala usia pun bisa terkena chlamydia.

Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit chlamydia bisa menyebar dan menimbulkan gangguan kesehatan jangka panjang .Berikut ini beberapa komplikasi chlamydia pada pria:

  • Epididimitis, yaitu peradangan yang terjadi pada epididimis yang merupakan bagian dari sistem reproduksi pria dan saluran untuk sperma dari testikel. Penyakit ini menimbulkan gejala membengkaknya epididimis dan rasa nyeri. Jika tidak segera ditangani, infeksi bisa menyebabkan munculnya cairan atau bahkan nanah, dan jika sudah parah bisa menyebabkan kemandulan.

  • Reactive arthritis, yaitu peradangan yang terjadi pada persendian dan lebih banyak menimpa pria dibandingkan wanita. Obat pereda nyeri antiinflamasi non-steroid, seperti ibuprofen, bisa untuk mengendalikan gejala reactive arthritis. Biasanya gejala akan membaik dalam waktu 3 bulan hingga setahun, tetapi kondisi ini bisa kembali lagi.

  • Uretritis, yaitu peradangan yang terjadi pada saluran pembuangan urine atau uretra. Kondisi ini biasanya memiliki gejala, seperti sering dan tidak mampu menahan buang air kecil, terasa sakit atau perih saat buang air kecil, kulup atau ujung Mr P mengalami iritasi dan terasa sakit, dan ujung Mr P mengeluarkan cairan kental berwarna putih.

Sedangkan komplikasi chlamydia pada wanita, yaitu:

  • Servisitis, yaitu peradangan yang terjadi pada leher rahim atau serviks. Beberapa gejala cervicitis yang dapat terjadi adalah perut bagian bawah terasa nyeri, sakit saat berhubungan seksual, pendarahan yang terjadi saat atau usai berhubungan seksual, dan pendarahan di antara masa menstruasi.

  • Penyakit radang panggul, yaitu kondisi di mana ovarium, rahim dan tuba fallopi mengalami infeksi. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa meningkatkan risiko kehamilan ektopik atau pertumbuhan janin di luar rahim dan keguguran. Penyakit ini bisa menyebabkan panggul terasa sakit secara terus-menerus dan kemandulan.

  • Bartholinitis, yaitu kondisi kelenjar Bartholin yang membengkak. Kelenjar bartholin berperan untuk memproduksi cairan pelumas pada wanita saat berhubungan seksual. Kista kelenjar Bartholin dapat terjadi jika kelenjar tersumbat dan mengalami infeksi, serta bisa menyebabkan abses yang terasa sakit saat disentuh, perih, berwarna merah dan bisa menyebabkan demam. Obat antibiotik harus digunakan untuk mengatasi abses yang terinfeksi.

  • Salpingitis, yaitu peradangan yang terjadi pada tuba fallopi yang menyebabkan sel telur dari ovarium sulit untuk menuju rahim dan membuat pengidapnya sulit hamil. Risiko mengalami kehamilan di luar rahim atau ektopik akan meningkat, walau sumbatan di tuba fallopi hanya sebagian.

Baca juga: Perlu Tahu, Ini 5 Fakta Klamidia

 

Faktor Risiko Chlamydia

Berikut ini faktor risiko yang menyebabkan seseorang terkena chlamydia:

  • Pernah mengidap penyakit menular seksual;

  • Memiliki lebih dari satu pasangan seksual/berganti-ganti pasangan;

  • Berhubungan seksual tanpa menggunakan kondom; dan

  • Aktif secara seksual sebelum usia 18 tahun.

 

Penyebab Chlamydia

Chlamydia disebabkan oleh bakteri chlamydia trachomatis. Penyakit ini, bias menular melalui seks anal, oral, vaginal, dan saling bersentuhannya alat kelamin. Selain itu, mainan seks yang tidak dicuci bersih atau dilapisi kondom baru juga bisa menjadi media penularan chlamydia.

Cairan seksual yang keluar dari alat kelamin penderitanya bisa menularkan bakteri ini walaupun tanpa orgasme, ejakulasi, atau penetrasi. Risiko terjangkit chlamydia bisa meningkat jika berhubungan seksual berganti-ganti pasangan atau dengan banyak orang. Penularan chlamydia tidak akan terjadi karena hal berikut ini:

  • Pelukan;

  • Dudukan toilet;

  • Handuk;

  • Peralatan makan;

  • Ciuman;

  • Kolam renang; dan

  • Kamar mandi.

Pada ibu hamil, bisa menularkan chlamydia pada bayi yang dilahirkannya dan menyebabkan mata menjadi bengkak dan mengeluarkan cairan atau yang disebut dengan konjungtivitis serta radang paru-paru. Oleh karena itu, ketika merencanakan kehamilan atau pada saat awal kehamilan, pastikan kamu tidak sedang mengalami infeksi ini dan jika positif, obati secepat mungkin.

Baca juga: Sudah Diobati, Bisakah Chlamydia Kambuh Kembali?

 

Gejala Chlamydia

Chlamydia umumnya tidak menunjukkan gejala setelah 13 minggu. Seringkali, gejala chlamydia diabaikan karena dianggap segera berlalu dan tidak parah. Gejala chlamydia pada wanita dan pria bisa berbeda, tetapi sakit atau nyeri saat buang air kecil menjadi karakteristik umum.

Chlamydia tidak menimbulkan gejala pada 50 persen pengidap pria dan 50 persen lainnya mengalami gejala, seperti sakit pada testikel, serta keluarnya cairan berwarna putih kental atau encer dari ujung Mr P. Infeksi masih terjadi dan bisa ditularkan walau gejala yang dialami sudah hilang.

Sedangkan pada wanita yang tidak mengalami gejala adalah sekitar 75 persen, dan 25 persen mengalami gejala yang paling umum terjadi, seperti terjadi pendarahan saat atau usai melakukan hubungan seks dan mengeluarkan cairan vagina yang tidak biasa. Selain itu, ada juga yang mengalami menstruasi lebih berat dari biasanya, pendarahan di antara masa menstruasi, dan perut bagian bawah terasa sakit.

Selain menginfeksi organ intim, infeksi chlamydia juga terjadi pada mata dan menyebabkan terjadinya konjungtivitis jika cairan vagina atau sperma yang terinfeksi terkena mata. Mata yang terinfeksi akan terasa perih, bengkak, teriritasi, dan mengeluarkan cairan. Anus juga bisa terinfeksi dan menimbulkan pendarahan, keluar cairan, serta rasa sakit dan tidak nyaman. Selain itu, infeksi tenggorokan juga bisa terjadi dan biasanya tidak menimbulkan gejala.

 

Diagnosis Chlamydia

Pemeriksaan atau diagnosis Chlamydia biasanya didapat ketika melakukan tes selama kunjungan ke dokter. Tes ini dilakukan secara tahunan pada yang berumur  di bawah 25 tahun dan aktif secara seksual. Untuk yang berumur 25 tahun ke atas, sebaiknya tes dilakukan setiap tahun ketika pada yang memiliki hubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan, berhubungan seks dengan seseorang yang berganti-ganti pasangan, melakukan seks yang tidak aman, atau sebelumnya pernah mengidap chlamydia.

 

Pengobatan Chlamydia

Pengobatan Chlamydia dialkukan dengan mengonsumsi kombinasi obat antibiotik yang diresepkan oleh dokter, yaitu:

  • Ofloxacin;

  • Doxycycline;

  • Erythromycin;

  • Azithromycin; dan

  • Amoxicillin.

 

Pencegahan Chlamydia

  • Menggunakan kondom saat berhubungan seksual dan tidak berbagi penggunaan mainan seks.

  • Pemakaian kondom saat berhubungan seksual tidak 100 persen menghilangkan risiko terkena infeksi, tapi efektif dalam mengurangi risiko terjangkit penyakit menular seksual.

  • Membatasi pasangan seksual atau setia dengan satu orang pasangan saja. Jika aktif melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu orang, maka dianjurkan melakukan pemeriksaan secara rutin, mengingat chlamydia bisa tidak menimbulkan gejala pada sebagian orang.

Baca juga: Ini yang Terjadi Pada Tubuh ketika Mengidap Chlamydia

 

Kapan Harus ke Dokter?

Hubungi dokter secepatnya untuk mendapatkan solusi terbaik jika mengalami gejala-gejala di atas.

Referensi:
Web MD. Diakses pada 2019. Chlamydia.

Diperbarui pada 19 September 2019