• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Chlamydia

Chlamydia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
chlamydia

Pengertian Chlamydia

Chlamydia adalah salah satu penyakit menular seksual yang ditularkan melalui hubungan seks tanpa menggunakan kondom. Sebagian besar pengidap chlamydia didominasi oleh kaum wanita yang berusia muda. Namun, baik pria maupun wanita segala usia pun bisa terkena chlamydia.

Penelitian menyebutkan, diperkirakan 40 hingga 96 persen pengidap chlamydia tidak memiliki gejala. Meski begitu, chlamydia tetap bisa menyebabkan masalah kesehatan di kemudian hari apabila tak kunjung ditangani. Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit chlamydia bisa menyebar dan menimbulkan gangguan kesehatan jangka panjang .

Faktor Risiko Chlamydia

Penyakit menular seksual yang satu ini ditularkan melalui cairan keputihan atau air mani saat seseorang melakukan seks oral, vagina, atau anal tanpa menggunakan pengaman, seperti kondom. Jika dibandingkan dengan pria, wanita ternyata lebih berisiko tertular chlamydia. Berikut ini faktor risiko yang menyebabkan seseorang terkena chlamydia:

  • Pernah mengidap penyakit menular seksual.
  • Memiliki lebih dari satu pasangan seksual/berganti-ganti pasangan.
  • Berhubungan seksual tanpa menggunakan kondom.
  • Aktif secara seksual sebelum usia 18 tahun.

Penyebab Chlamydia

Bakteri chlamydia trachomatis adalah penyebab utama chlamydia. Bakteri ini dapat menular ketika seseorang melakukan seks anal, oral, vaginal, dan saling bersentuhannya alat kelamin. Selain itu, mainan seks yang tidak dicuci bersih atau dilapisi kondom baru juga bisa menjadi media penularan chlamydia.

Cairan seksual yang keluar dari alat kelamin pengidapnya bisa menularkan bakteri ini walaupun tanpa orgasme, ejakulasi, atau penetrasi. Risiko terjangkit chlamydia bisa meningkat jika berhubungan seksual berganti-ganti pasangan atau dengan banyak orang. Penularan chlamydia tidak akan terjadi karena hal berikut ini:

  • Pelukan;
  • Dudukan toilet;
  • Handuk;
  • Peralatan makan;
  • Ciuman;
  • Kolam renang; dan
  • Kamar mandi.

Ibu hamil bisa menularkan pada bayi yang dilahirkannya, dan menyebabkan mata menjadi bengkak, serta mengeluarkan cairan atau yang disebut dengan konjungtivitis serta radang paru-paru. Oleh karena itu, ketika merencanakan kehamilan atau pada saat awal kehamilan, pastikan kamu tidak sedang mengalami infeksi ini dan jika positif, obati secepat mungkin.

Gejala Chlamydia

Chlamydia umumnya tidak menunjukkan gejala setelah 1–3 minggu. Sering kali, gejala chlamydia diabaikan karena dianggap segera berlalu dan tidak parah. Gejala chlamydia pada wanita dan pria bisa berbeda, tetapi sakit atau nyeri saat buang air kecil menjadi karakteristik umum.

Kondisi penyakit ini tidak menimbulkan gejala pada 50 persen pengidap pria dan 50 persen lainnya mengalami gejala, seperti sakit pada testikel, serta keluarnya cairan berwarna putih kental atau encer dari ujung Mr P. Infeksi masih terjadi dan bisa ditularkan walau gejala yang dialami sudah hilang.

Sedangkan pada wanita yang tidak mengalami gejala adalah sekitar 75 persen, dan 25 persen mengalami gejala yang paling umum terjadi. Contohnya seperti terjadi pendarahan saat atau usai melakukan hubungan seks dan mengeluarkan cairan vagina yang tidak biasa. 

Selain itu, ada juga yang mengalami menstruasi lebih berat dari biasanya, pendarahan di antara masa menstruasi, dan perut bagian bawah terasa sakit.

Selain menginfeksi organ intim, infeksi chlamydia juga terjadi pada mata dan menyebabkan terjadinya konjungtivitis jika cairan vagina atau sperma yang terinfeksi terkena mata. Mata yang terinfeksi akan terasa perih, bengkak, teriritasi, dan mengeluarkan cairan. Anus juga bisa terinfeksi dan menimbulkan pendarahan, keluar cairan, serta rasa sakit dan tidak nyaman. Selain itu, infeksi tenggorokan juga bisa terjadi dan biasanya tidak menimbulkan gejala.

Diagnosis Chlamydia

Sebelum melakukan diagnosis, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai gejala yang kamu alami. Dokter kemudian melanjutkan dengan pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi apakah terdapat cairan, luka, atau bintik-bintik yang tidak biasa. Pemeriksaan atau diagnosis chlamydia juga sering kali didapat ketika seseorang melakukan tes selama kunjungan ke dokter. 

Tes ini dilakukan secara tahunan pada yang berumur di bawah 25 tahun dan aktif secara seksual. Untuk yang berumur 25 tahun ke atas, sebaiknya tes dilakukan setiap tahun ketika pada yang memiliki hubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan, berhubungan seks dengan seseorang yang berganti-ganti pasangan, melakukan seks yang tidak aman, atau sebelumnya pernah mengidap chlamydia.

Tes diagnostik yang paling efektif untuk mengidentifikasi chlamydia dengan tes usap vagina pada wanita dan tes urin pada pria. Apabila ada kemungkinan infeksi pada anus atau tenggorokan, area ini juga bisa diusap.

Pengobatan 

Pengobatan dilakukan dengan mengonsumsi kombinasi obat antibiotik yang diresepkan oleh dokter selama sekitar satu atau dua minggu. Antibiotik perlu dihabiskan meski gejala chlamydia sudah membaik untuk mencegah retensi bakteri. Selama perawatan, pengidap juga dianjurkan untuk tidak melakukan aktivitas seksual apa pun guna mencegah infeksi ulang dan penularan chlamydia kepada pasangan.  

Komplikasi 

Sebagian besar chlamydia jarang menunjukan gejala yang kentara. Namun, chlamydia yang tak kunjung diobati berisiko menyebabkan komplikasi. Berikut ini beberapa komplikasi chlamydia pada pria:

  • Epididimitis, yaitu peradangan yang terjadi pada epididimis yang merupakan bagian dari sistem reproduksi pria dan saluran untuk sperma dari testikel. Penyakit ini menimbulkan gejala membengkaknya epididimis dan rasa nyeri. Jika tidak segera ditangani, infeksi bisa menyebabkan munculnya cairan atau bahkan nanah, dan jika sudah parah bisa menyebabkan kemandulan.
  • Reactive arthritis, yaitu peradangan yang terjadi pada persendian dan lebih banyak menimpa pria dibandingkan wanita. Obat pereda nyeri antiinflamasi non-steroid, seperti ibuprofen, bisa untuk mengendalikan gejala reactive arthritis. Biasanya, gejala akan membaik dalam waktu 3 bulan hingga setahun, tetapi kondisi ini bisa kembali lagi.
  • Uretritis, yaitu peradangan yang terjadi pada saluran pembuangan urine atau uretra. Kondisi ini biasanya memiliki gejala, seperti sering dan tidak mampu menahan buang air kecil, terasa sakit atau perih saat buang air kecil, kulup atau ujung penis mengalami iritasi dan terasa sakit, dan ujung penis mengeluarkan cairan kental berwarna putih.

Sedangkan komplikasi chlamydia pada wanita, yaitu:

  • Servisitis, yaitu peradangan yang terjadi pada leher rahim atau serviks. Beberapa gejala servisitis yang dapat terjadi adalah perut bagian bawah terasa nyeri, sakit saat berhubungan seksual, pendarahan yang terjadi saat atau usai berhubungan seksual, dan pendarahan di antara masa menstruasi.
  • Penyakit radang panggul, yaitu kondisi di mana ovarium, rahim dan tuba fallopi mengalami infeksi. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa meningkatkan risiko kehamilan ektopik atau pertumbuhan janin di luar rahim dan keguguran. Penyakit ini bisa menyebabkan panggul terasa sakit secara terus-menerus dan kemandulan.
  • Bartholinitis, yaitu kondisi kelenjar Bartholin yang membengkak. Kelenjar bartholin berperan untuk memproduksi cairan pelumas pada wanita saat berhubungan seksual. Kista kelenjar Bartholin dapat terjadi jika kelenjar tersumbat dan mengalami infeksi, serta bisa menyebabkan abses yang terasa sakit saat disentuh, perih, berwarna merah dan bisa menyebabkan demam. Obat antibiotik harus digunakan untuk mengatasi abses yang terinfeksi.
  • Salpingitis, yaitu peradangan yang terjadi pada tuba fallopi yang menyebabkan sel telur dari ovarium sulit untuk menuju rahim, dan membuat pengidapnya sulit hamil. Risiko mengalami kehamilan di luar rahim atau ektopik akan meningkat, walau sumbatan di tuba fallopi hanya sebagian.

Pencegahan Chlamydia

Cara paling efektif untuk mencegah chlamydia adalah menerapkan aktivitas seksual yang aman. Berikut langkah-langkah pencegahan chlamydia:

  • Menggunakan kondom saat berhubungan seksual dan tidak berbagi penggunaan mainan seks.
  • Pemakaian kondom saat berhubungan seksual tidak 100 persen menghilangkan risiko terkena infeksi, tapi efektif dalam mengurangi risiko terjangkit penyakit menular seksual.
  • Membatasi pasangan seksual atau setia dengan satu orang pasangan saja. Jika aktif melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu orang, maka dianjurkan melakukan pemeriksaan secara rutin, mengingat chlamydia bisa tidak menimbulkan gejala pada sebagian orang.

Kapan Harus ke Dokter?

Hubungi dokter secepatnya untuk mendapatkan solusi terbaik jika mengalami gejala yang mengindikasikan chlamydia. Selain melakukan pencegahan di atas, kamu juga perlu mengonsumsi vitamin agar daya tahan tubuh tetap terjaga. Segera cek kebutuhan vitamin di toko kesehatan Halodoc. Jangan tunggu sampai sakit, download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Web MD. Diakses pada 2022. Chlamydia.
Medline Plus. Diakses pada 2022. Chlamydia.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2022. Chlamydia.
Healthline. Diakses pafa 2022. Everything You Need to Know About Chlamydia Infection.
Diperbarui pada 24 Februari 2022.