Chlamydia

Pengertian Chlamydia

Chlamydia merupakan jenis penyakit menular seksual yang ditularkan melalui hubungan seks tanpa menggunakan kondom. Kaum wanita yang berusia muda umumnya yang paling sering mengidap chlamydia, namun baik pria maupun wanita segala usia pun bisa terkena chlamydia.

Penyakit chlamydia dapat menyebar dan menimbulkan gangguan kesehatan jangka panjang jika tidak ditangani dengan tepat. Berikut ini adalah beberapa komplikasi chlamydia pada pria:

  • Epididimitis, yaitu peradangan yang terjadi pada epididimis yang merupakan bagian dari sistem reproduksi pria dan saluran untuk sperma dari testikel. Penyakit ini memiliki gejala membengkaknya epididimis dan menimbulkan rasa nyeri. Jika tidak segera ditangani, infeksi bisa menyebabkan munculnya cairan atau bahkan nanah, dan jika sudah parah bisa menyebabkan kemandulan.
  • Reactive arthritis, yaitu peradangan yang terjadi pada persendian dan lebih banyak menimpa pria dibandingkan wanita. Obat pereda nyeri antiinflamasi non-steroid, seperti ibuprofen, bisa untuk mengendalikan gejala reactive arthritis. Biasanya gejala akan membaik dalam waktu 3 bulan hingga setahun, namun kondisi ini bisa kembali lagi.
  • Uretritis, yaitu peradangan yang terjadi pada saluran pembuangan urine atau uretra. Kondisi ini biasanya memiliki gejala seperti sering dan tidak mampu menahan buang air kecil, terasa sakit atau perih saat buang air kecil, kulup atau ujung Mr P mengalami iritasi dan terasa sakit, dan ujung Mr P mengeluarkan cairan kental berwarna putih.

Sedangkan komplikasi chlamydia pada wanita adalah:

  • Servisitis, yaitu peradangan yang terjadi pada leher rahim atau serviks. Beberapa gejala cervicitis yang dapat terjadi adalah perut bagian bawah terasa nyeri, sakit saat berhubungan seksual, pendarahan yang terjadi saat atau usai berhubungan seksual, dan pendarahan di antara masa menstruasi.
  • Penyakit radang panggul, yaitu infeksi yang terjadi pada ovarium, rahim dan tuba fallopi. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa meningkatkan risiko kehamilan ektopik atau pertumbuhan janin di luar rahim dan keguguran. Penyakit ini bisa menyebabkan panggul terasa sakit secara terus-menerus dan kemandulan.
  • Bartholinitis atau membengkaknya kelenjar Bartholin yang memproduksi cairan pelumas pada wanita saat berhubungan seksual. Kista kelenjar Bartholin dapat terjadi jika kelenjar tersumbat dan mengalami infeksi, serta bisa menyebabkan abses yang terasa sakit saat disentuh, perih, berwarna merah dan bisa menyebabkan demam. Obat antibiotik harus digunakan untuk mengatasi abses yang terinfeksi.
  • Salpingitis, yaitu peradangan yang terjadi pada tuba fallopi yang menyebabkan sel telur dari ovarium sulit untuk menuju rahim dan membuat pengidapnya sulit hamil. Risiko mengalami kehamilan ektopik atau kehamilan di luar rahim akan meningkat, walau tuba fallopi hanya tersumbat sebagian.

Gejala Chlamydia

Chlamydia umumnya tidak menunjukkan gejala setelah 1-3 minggu. Gejala chlamydia juga seringkali diabaikan karena dianggap tidak parah dan segera berlalu. Pada pria dan wanita gejala chlamydia bisa berbeda, namun satu gejala yang sama adalah rasa nyeri atau sakit saat buang air kecil.

Chlamydia tidak menimbulkan gejala pada 50 persen pengidap pria dan 50 persen lainnya mengalami gejala seperti sakit pada testikel, serta keluarnya cairan berwarna putih kental atau encer dari ujung Mr P. Infeksi masih terjadi dan bisa ditularkan walau gejala yang dialami sudah hilang.

Sedangkan pada wanita yang tidak mengalami gejala adalah sekitar 75 persen, dan 25 persen mengalami gejala yang paling umum terjadi seperti terjadi pendarahan saat atau usai melakukan hubungan seks dan mengeluarkan cairan Miss V yang tidak biasa. Selain itu, ada juga yang mengalami menstruasi lebih berat dari biasanya, pendarahan di antara masa menstruasi, dan perut bagian bawah terasa sakit.

Tidak hanya infeksi pada organ intim, chlamydia juga menginfeksi mata dan menyebabkan terjadinya konjungtivitis jika cairan Miss V atau sperma yang terinfeksi terkena mata. Mata yang terinfeksi akan terasa perih, bengkak, teriritasi, dan mengeluarkan cairan. Anus juga bisa terinfeksi dan menimbulkan pendarahan, keluar cairan, serta rasa sakit dan tidak nyaman. Selain itu, tenggorokan juga bisa terinfeksi dan biasanya tidak menimbulkan gejala.

Penyebab Chlamydia

Chlamydia disebabkan oleh bakteri chlamydia trachomatis. Penularan chlamydia bisa melalui seks oral, anal, vaginal, dan saling bersentuhannya alat kelamin. Selain itu, chlamydia juga bisa menular melalui mainan seks yang tidak dilapisi dengan kondom baru atau dicuci bersih setelah digunakan.

Cairan seksual yang keluar dari alat kelamin penderitanya bisa menularkan bakteri ini walaupun tanpa orgasme, ejakulasi, atau penetrasi. Berhubungan seksual dengan banyak orang atau berganti-ganti pasangan, dapat meningkatkan risiko terjangkit chlamydia. Chlamydia tidak akan menular melalui beberapa hal berikut ini:

  • Pelukan.
  • Dudukan toilet.
  • Handuk.
  • Peralatan makan.
  • Ciuman.
  • Kolam renang.
  • Kamar mandi.

Pada ibu hamil, bisa menularkan chlamydia pada bayi yang dilahirkannya dan menyebabkan mata menjadi bengkak dan mengeluarkan cairan atau yang disebut dengan konjungtivitis serta radang paru-paru. Oleh karena itu, ketika merencanakan kehamilan atau pada saat awal kehamilan, pastikan kamu tidak sedang mengalami infeksi ini dan jika positif, obati secepat mungkin.

Faktor Risiko Chlamydia

  • Pernah mengidap penyakit menular seksual.
  • Memiliki lebih dari satu pasangan seksual/berganti-ganti pasangan.
  • Berhubungan seksual tanpa menggunakan kondom.
  • Aktif secara seksual sebelum usia 18 tahun.

Diagnosis Chlamydia

Diagnosis pada Chlamydia biasanya didapat ketika melakukan tes selama kunjungan ke dokter. Tes ini dilakukan secara tahunan pada yang berumur  di bawah 25 tahun dan aktif secara seksual. Untuk yang berumur 25 tahun keatas, sebaiknya tes dilakukan setiap tahun ketika pada yang memiliki hubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan, berhubungan seks dengan seseorang yang berganti-ganti pasangan, tidak melakukan seks yang aman, atau memiliki riwayat chlamydia di masa lalu.

Pengobatan Chlamydia

Chlamydia dapat diatasi dengan mengonsumsi kombinasi obat antibiotik yang diresepkan oleh dokter, yaitu:

  • Ofloxacin.
  • Doxycycline.
  • Erythromycin.
  • Azithromycin.
  • Amoxicillin.

Pencegahan Chlamydia

  • Menggunakan kondom saat berhubungan seksual dan tidak berbagi penggunaan mainan seks.
  • Pemakaian kondom saat berhubungan seksual tidak 100 persen menghilangkan risiko terkena infeksi, tapi efektif dalam mengurangi risiko terjangkit penyakit menular seksual.
  • Membatasi pasangan seksual atau setia dengan satu orang pasangan saja. Jika aktif melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu orang, maka dianjurkan melakukan pemeriksaan secara rutin, mengingat chlamydia bisa tidak menimbulkan gejala pada sebagian orang.

Kapan Harus ke Dokter?

Hubungi dokter secepatnya untuk mendapatkan solusi terbaik jika mengalami gejala-gejala di atas.