Pencegahan Kondisi Hematochezia pada Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Pencegahan Kondisi Hematochezia pada Ibu Hamil

Halodoc, Jakarta - Kondisi saat munculnya darah segar berwarna merah bersama dengan tinja saat BAB dapat menjadi kondisi yang sangat mencemaskan. Apalagi jika kondisi ini terjadi dengan gejala lain seperti sakit perut, gejala anemia, demam, diare, bahkan penurunan berat badan. Kondisi ini bisa menjadi sebuah gejala penyakit yang dikenal dengan hematochezia. 

Penting diketahui bahwa apabila darah yang keluar banyak dan cepat, pengidapnya mengalami kondisi yang membahayakan seperti syok hingga kematian. Kondisi ini menjadi perhatian khusus jika dialami oleh ibu hamil karena juga turut serta mengganggu kesehatan bayi dalam kandungan. 

Baca juga: Ini Penyakit yang Dapat Sebabkan Hematochezia

Bagaimana Upaya Agar Hematochezia Tidak Dialami Ibu Hamil? 

Terdapat langkah yang bisa dilakukan agar ibu hamil tidak mengidap penyakit ini, caranya: 

  • Makan tinggi serat agar tidak terjadi konstipasi, karena berisiko timbul wasir dan divertikulitis;

  • Berhenti merokok;

  • Menghentikan kebiasaan minum alkohol;

  • Tidak sembarangan mengonsumsi obat, terutama obat antiinflamasi nonsteroid, tanpa pengawasan dokter. Sebaiknya mendiskusikannya dulu dengan dokter.

Memeriksakan diri langsung ke dokter juga merupakan upaya pencegahan terbaik supaya hematochezia tidak semakin parah. Kamu bisa loh langsung buat janji dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Tanpa perlu menunggu lama, kamu bisa langsung datang ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter untuk melakukan pemeriksaan.

Baca juga: Pentingnya Konsumsi Serat untuk Cegah Hematochezia

Apa Saja Hal yang Bisa Sebabkan Hematochezia?

Faktanya terdapat kondisi yang bisa sebabkan perdarahan saluran pencernaan bagian bawah pada seseorang. Penyebab tersebut antara lain: 

  • Divertikulitis. Ini merupakan kondisi peradangan atau infeksi pada divertikula (kantong-kantong kecil tidak normal yang terbentuk di saluran pencernaan).

  • Radang usus. Kondisi ini merujuk pada dua penyakit yang mengganggu pencernaan yaitu penyakit Crohn dan kolitis ulseratif yang menyebabkan usus mengalami peradangan.

  • Polip. Polip adalah pertumbuhan jaringan abnormal yang bertangkai dan berukuran kecil, kurang dari 1,5 sentimeter di area pencernaan.

  • Tumor jinak. Tumor jinak bisa saka tumbuh di usus besar dan rektum yang bisa menyebabkan perdarahan.

  • Kanker kolon. Kanker kolon bisa tumbuh di usus besar dan menyebabkan perdarahan. Fisura ani. Fisura ani adalah luka terbuka pada saluran anus atau dubur.

  • Wasir atau hemoroid. Kondisi saat pembuluh darah di daerah anus mengalami pelebaran yang kemudian berisiko menimbulkan perdarahan.

Baca juga: Ketahui 7 Pemeriksaan untuk Deteksi Hematochezia

Bagaimana Cara Mengobati Hematochezia?

Pengobatan hematochezia difokuskan untuk menghentikan perdarahan, yakni dengan mengatasi penyakit atau kondisi yang menjadi penyebabnya. Apabila penyebabnya bisa diatasi maka hematochezia bisa berhenti dengan sendirinya. Beberapa metode pengobatan hematochezia yang bisa dilakukan, antara lain: 

  • Endoskopi. Melalui alat endoskopi (misalnya kolonoskopi), dokter menghentikan perdarahan di dalam saluran pencernaan dengan cara dipanaskan, ditutup dengan lem khusus, atau dengan menyuntikkan obat di area perdarahan terjadi.

  • Angiographic embolization. Pengobatan ini dilakukan dengan cara menyuntikkan partikel khusus di pembuluh darah yang rusak, untuk kemudian menutup alirannya.

  • Band ligation. Pengobatan ini dilakukan dengan memasang karet khusus di area pembuluh darah yang pecah supaya perdarahan berhenti.

  • Pasien hematochezia dianjurkan untuk tidak mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid, seperti diclofenac, untuk mempercepat proses penyembuhan.

Penting untuk diketahui bahwa perdarahan yang cepat dan banyak perlu ditangani untuk menghindari komplikasi. Beberapa jenis komplikasi yang dapat terjadi akibat hematochezia antara lain anemia, syok, bahkan kematian.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Gastrointestinal Bleeding.
Medscape. Diakses pada 2019. Lower Gastrointestinal Bleeding.