Waspada, Ini Penyebab Nistagmus Terjadi pada Bayi

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia
Waspada, Ini Penyebab Nistagmus Terjadi pada Bayi

Halodoc, Jakarta – Nistagmus adalah kondisi yang menyebabkan pengidapnya tidak dapat mengendalikan gerakan bola matanya. Nistagmus ditandai dengan bola mata yang bergerak cepat dan tidak terkendali. Kabar buruknya, kondisi ini ternyata bisa terjadi pada bayi baru lahir. Apa penyebabnya?

Nistagmus bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan penglihatan, seperti pandangan yang kabur atau tidak fokus. Pengidap penyakit ini cenderung akan mengarahkan kepalanya ke posisi tertentu. Hal itu bertujuan untuk menjaga agar penglihatan tetap fokus.

Pada gangguan ini bola mata bergerak secara vertikal, horizontal, bahkan torsional alias berputar. Nistagmus biasanya menyerang kedua mata, tapi pada beberapa kasus kondisi ini bisa terjadi hanya pada salah satu mata.

Baca juga: Kenali Tanda Penyebab Vertigo Berikut Ini

Gejala khas dari kondisi ini adalah bola mata yang bergerak cepat dan tidak terkendali. Kecepatan pergerakan bola mata biasa berbeda antara satu pengidap dengan yang lainnya. Selain itu, ada beberapa gejala lain yang sering muncul, seperti gangguan penglihatan, mata menjadi sensitif terhadap cahaya, gangguan keseimbangan, kesulitan melihat dalam gelap, hingga pusing.

Secara umum, kondisi ini terjadi ketika bagian otak dan telinga bagian dalam yang berfungsi mengatur pergerakan mata tidak bisa berfungsi secara normal. Jika dilihat dari penyebabnya, nistagmus dibedakan menjadi dua jenis, yaitu Infantile nystagmus syndrome (INS) dan Acquired nystagmus. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele dan harus segera mendapatkan perawatan medis yang tepat.

Baca juga: Waspada, Ini Masalah Penglihatan yang Dapat Terjadi karena Multiple Sclerosis

Penyebab Nistagmus pada Bayi

Nistagmus bisa menyerang bayi dan terjadi karena faktor keturunan. Jenis nistagmus ini disebut infantile nystagmus syndrome alias INS. Umumnya, INS mulai terjadi saat bayi berusia 6 minggu hingga 3 bulan.

Namun jangan khawatir, INS biasanya bersifat ringan dan tidak berkembang menjadi parah. Tapi pada kasus yang jarang, INS ternyata juga bisa terjadi karena adanya penyakit keturunan pada mata atau perkembangan saraf optik yang tidak sempurna.

Selain INS, ada juga acquired nystagmus, yaitu nistagmus yang terjadi akibat ada gangguan pada telinga bagian dalam alias labirin. Ada beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko penyakit acquired nystagmus, mulai dari cedera kepala, kebiasaan mengonsumsi alkohol berlebihan, penyakit telinga bagian dalam, penyakit mata, penyakit pada otak, kekurangan vitamin B12, serta efek samping dari obat tertentu.

Untuk mendiagnosis penyakit ini, dibutuhkan pemeriksaan fisik. Mulanya, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan dengan mengamati gejala yang muncul. Jika gejala-gejala yang muncul mengarah pada penyakit nistagmus, pemeriksaan fisik akan dilakukan untuk memastikan diagnosis.

Pemeriksaan dilakukan dengan meminta orang yang dicurigai mengidap nistagmus berputar selama 30 detik. Setelah berhenti, orang tersebut akan diminta untuk melihat sebuah objek.

Jika seseorang mengidap nistagmus, maka bola matanya akan bergerak perlahan ke satu arah namun kemudian bergerak cepat ke arah berlawanan. Pemeriksaan penunjang mungkin akan dilakukan untuk mendeteksi penyakit ini. Pemeriksaan ini meliputi electrooculography, untuk mengukur pergerakan mata dengan elektroda, tes darah, serta ters pencitraan. Orang yang dicurigai mengidap penyakit nistagmus mungkin akan diminta untuk menjalani CT scan atau MRI di bagian kepala.

Baca juga: Ketahui Perawatan Rumahan untuk Atasi Neuritis Optik

Seluruh rangkaian pemeriksaan untuk mendiagnosis nistagmus bisa dilakukan di rumah sakit. Kalau kamu bingung, coba cari dan pilih rumah sakit sesuai kebutuhan dan domisili di aplikasi Halodoc. Membuat janji temu dengan dokter pun kini lebih mudah. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!