15 January 2019

Robby Tumewu Meninggal, 8 Tahun Melawan Hipertensi dan Stroke

Robby Tumewu Meninggal, 8 Tahun Melawan Hipertensi dan Stroke

Halodoc, Jakarta - Lama tak terdengar kabarnya di industri hiburan tanah air, Robby Tumewu seorang desainer sekaligus aktor sinetron Indonesia meninggal dunia di usia 65 tahun pada Senin (14/1/2019) akibat stroke. Robby sempat dikabarkan mengalami stroke tahun 2010 lalu, dan pada September 2018 ia dikabarkan sempat sakit dan menjalani operasi otak.

Aktor kelahiran 4 Desember 1953 ini pertama kali memulai karier sebagai perancang busana di Teater Koma. Lama kelamaan ia mulai mendapat peran dan akhirnya mendapatkan tawaran bermain dalam Lenong Rumpi pada 1990 oleh Harry de Fretes yang membuat namanya berkibar di dunia hiburan tanah air.

Robby Tumewu banyak membintangi film sejak saat itu, beberapa film yang pernah ia bintangi antara lain Lenong Rumpi II (1992), Ca Bau Kan (2002), Gie (2005), Laskar Pelangi (2008), Tanah Air Beta (2010), 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta (2010), dan Madame X (2010).

Mengidap Stroke Akibat Hipertensi

Robby Tumewu diketahui pernah terserang stroke dan jatuh pingsan saat sedang mengisi acara live di televisi pada 2010 silam. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, diketahui pembuluh darah di otak sebelah kanan Robby pecah. Menurut pengakuan juru bicara keluarga Robby, Robby memang memiliki riwayat hipertensi atau darah tinggi.

Baca Juga: Tips Mencegah Tekanan Darah Naik Drastis

Stroke sebagai penyebab Robby Tumewu meninggal dunia merupakan suatu kondisi pembuluh darah di otak mengalami penyumbatan dan pecah atau peredaran darah yang menuju ke otak terganggu. Akibatnya, fungsi otak berkurang dan menghentikan asupan oksigen sehingga menjadi rusak. Stroke dapat menyebabkan kematian sebagian sel saraf, sehingga akan timbul beberapa macam gejala stroke seperti wajah atau anggota badan lumpuh sebelah, bicara menjadi tidak jelas atau cadel. Jika sudah dalam tahap yang serius stroke dapat mengakibatkan pengidapnya mengalami koma bahkan dapat mengancam jiwa.  

Faktor yang paling utama terjadi stroke adalah gaya hidup yang kurang sehat seperti terlalu banyak konsumsi makanan berminyak, asin, malas olahraga, dan stres kemudian menyebabkan seseorang mengalami hipertensi.

Masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi ini memiliki hubungan dengan penyakit stroke. Tekanan darah yang tinggi memicu pecahnya pembuluh darah di otak, hal ini tentu sama dengan stroke yang merupakan kondisi terjadinya penyumbatan dan pecahnya pembuluh darah di otak.

Baca Juga: 5 Komplikasi Akibat Hipertensi yang Perlu Diwaspadai

Tekanan darah tinggi yang dibiarkan begitu saja dapat merusak pembuluh darah. Lama-kelamaan, hipertensi menyebabkan pengerasan dan penebalan arteri dinding pembuluh darah arteri. Kondisi ini disebut aterosklerosis. Aterosklerosis menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, termasuk pembuluh darah di otak. Dalam beberapa kasus, perdarahannya bisa mengalir masuk ke bagian ventrikel otak dan memicu hidrosefalus yang mengancam nyawa.

Gaya Hidup Sehat untuk Mencegah Hipertensi

Faktanya, stroke dapat menyerang orang-orang di usia muda. Hal ini terkait dengan gaya hidup sehat yang mereka jalani. Orang dengan riwayat hipertensi harus hati-hati soal garam dan makanan asin. Garam meningkatkan kadar natrium dalam tubuh yang berimbas pada peningkatan tekanan darah dan mengakibatkan tekanan darah tinggi. Itu sebabnya, orang yang memiliki hipertensi disarankan untuk membatasi asupan garam. Bahkan meski kamu sudah teratur minum obat hipertensi, pusat riset dan klinik kesehatan Amerika Serikat, Mayo Clinic tetap menyarankan pengidap hipertensi untuk mengurangi asupan garam.

Selain itu, beberapa gaya hidup yang wajib diikuti antara lain:

  • Rajin Olahraga. Aktif bergerak adalah salah satu kunci hidup sehat, cara ini ampuh untuk mengontrol tekanan darah. Kamu tidak perlu melakukan olahraga intensitas tinggi, dengan melakukan aktivitas sederhana seperti jalan kaki, naik turun tangga, atau sekadar bersih-bersih rumah juga dapat membantu.

Baca Juga: 3 Tips Olahraga untuk Pengidap Hipertensi

  • Menjaga Berat Badan Ideal. Berat badan yang ideal adalah berat badan yang tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk. Selain itu, obesitas dan kelebihan berat badan erat kaitannya dengan tekanan darah tinggi. Lemak jahat bisa sewaktu-waktu menyumbat aliran darah dan membahaya dirimu sewaktu-waktu. Oleh sebab itu, menjaga berat badan yang sehat adalah cara sederhana untuk mengontrol tekanan darah.

  • Menghindari Stres. Aktivitas sehari-hari pasti membuat kita merasa stres. Nah, stres ini merupakan cikal bakal dari berbagai kebiasaan tidak sehat yang pada akhirnya dapat menyebabkan tekanan darah tinggi. Stres dapat membuat seseorang menjadi kalap ketika makan, minum alkohol, merokok, atau begadang. Semua hal tersebut ikut berkontribusi terhadap kenaikan tekanan darah.

Bagi kamu yang memiliki riwayat hipertensi, maka segera diskusikan masalah kesehatanmu dengan dokter ahli di aplikasi Halodoc. Kamu bisa ngobrol langsung di mana dan kapan saja mengenai masalah kesehatan yang sedang kamu alami melalui Chat atau Voice/Video Call. Yuk, download aplikasi Halodoc segera di Google Play atau App Store.