Sindrom Burnout Mulai Muncul, Awas Depresi di Kantor

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Sindrom Burnout Mulai Muncul, Awas Depresi di Kantor

Halodoc, Jakarta – Rutinitas dan tumpukan pekerjaan bisa membuat seseorang rentan mengalami stres, bahkan depresi. Stres yang terjadi karena kondisi ini disebut dengan istilah sindrom burnout atau job burnout. Organisasi kesehatan dunia (WHO) baru-baru ini menetapkan burnout untuk menggambarkan kondisi stres kronis yang berhubungan dengan pekerjaan. 

Pekerja yang mengalami sindrom ini menunjukkan gejala berupa kelelahan secara fisik dan emosional. Umumnya, kondisi tersebut muncul akibat ekspektasi dan kenyataan karyawan tidak sama dengan apa yang diharapkan. Selain itu, rasa lelah dan stres berkepanjangan juga bisa terjadi karena seseorang kewalahan dengan perintah atasan yang terus-menerus datang. Kondisi ini sama sekali tidak boleh diabaikan, sebab bisa menyebabkan hilang minat pada pekerjaan serta menurunkan produktivitas. 

Baca juga: 5 Penyebab Depresi yang Sering Diabaikan

Mengenal Burnout dan Gejalanya 

Meski tidak termasuk dalam jenis penyakit fisik, tetapi burnout sama sekali tidak boleh dianggap sepele. Jika dibiarkan begitu saja, stres bisa membuat pekerjaan tidak kunjung selesai, putus asa, sinis, dan mudah marah. Orang yang mengalami kondisi ini seringnya berakhir dengan perasaan tidak lagi mampu menyelesaikan pekerjaan. Dalam jangka waktu yang panjang, kondisi ini bisa membuat seseorang rentan terserang penyakit fisik, seperti demam dan flu. 

Selain tumpukan pekerjaan atau suasana kantor, burnout diduga juga berkaitan dengan kondisi psikologis lain, seperti depresi. Namun umumnya, orang yang mengalami job burnout merasa bahwa stres yang terjadi tidak disebabkan oleh pekerjaan. Ada beberapa kemungkinan burnout bisa menyerang seseorang, mulai dari ketidakmampuan mengontrol pekerjaan, bayangan pekerjaan yang tidak jelas, ritme pekerjaan yang tidak bersahabat, serta jenis pekerjaan yang monoton atau terlalu dinamis. 

Pada beberapa kondisi, job burnout juga bisa terjadi karena tidak ada dukungan sosial, terutama pada hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Burnout juga rentan menyerang orang yang memiliki kehidupan pekerjaan tidak seimbang, sebab hal ini bisa membuat orang tersebut tidak memiliki waktu untuk melakukan hal lain di luar pekerjaan.  

Baca juga: 6 Pekerjaan dengan Tingkat Stres Paling Rendah 2019

Sebenarnya tidak ada gejala yang khas dari kondisi ini, tetapi burnout bisa ditandai dengan beberapa perubahan. Umumnya, sindrom ini menyebabkan pengidapnya mengalami perubahan pada kondisi fisik, kondisi emosional, dan perubahan pada perilaku. Secara umum, kondisi ini bisa saja menyebabkan seseorang berujung pada depresi. Burnout bisa menimbulkan perasaan sendirian, pekerjaan terlalu banyak, serta merasa tidak dihargai dalam lingkungan. Berikut ini perubahan-perubahan yang bisa menjadi tanda seorang pegawai mengalami burnout:

  • Perubahan Kondisi Fisik 

Burnout bisa memengaruhi dan menyebabkan perubahan pada kondisi fisik. Sindrom ini memicu rasa lelah, lemas, sering sakit, nyeri otot, penurunan nafsu makan, hingga gangguan tidur di malam hari alias insomnia. 

  • Perubahan Emosional 

Selain pada fisik, burnout juga bisa memengaruhi kondisi emosional seseorang. Pengidapnya kerap merasa gagal dan sering ragu pada diri sendiri, merasa terjebak dalam pekerjaan, merasa sendirian, tidak memiliki motivasi, serta menjadi lebih sinis juga sensitif. 

  • Perubahan pada Perilaku 

Perubahan perilaku juga bisa menjadi tanda burnout. Kondisi ini menyebabkan seseorang sering melepaskan tanggung jawab, mengisolasi diri dari rekan kerja, sering menunda-nunda pekerjaan, makan berlebihan, datang ke kantor lebih siang dan pulang cepat, serta tidak mengerjakan tugas atau pekerjaan yang diberikan. 

Baca juga: Yakin Bahagia dengan Pekerjaan? Ini 5 Tandanya

Punya masalah kesehatan dan butuh saran dokter? Pakai aplikasi Halodoc saja. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat kapan dan di mana saja. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Help Guide. Diakses pada 2019. Burnout Prevention and Treatment.
WHO. Diakses pada 2019. Burn-out an "occupational phenomenon": International Classification of Diseases.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Job burnout: How to spot it and take action.