Trauma Bisa Sebabkan Terjadinya Vaginismus

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Trauma Bisa Sebabkan Terjadinya Vaginismus

Halodoc, Jakarta - Aktivitas seksual adalah hal yang bermanfaat untuk kesehatan, misalnya untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan dapat meningkatkan kepercayaan diri. Namun, aktivitas seksual ini harus dilakukan berdasarkan persetujuan dua orang tersebut. Jika hubungan seksual dilakukan secara paksa seperti kasus pemerkosaan, maka hal ini dapat menyebabkan trauma yang berujung pada vaginismus pada pihak wanita.

Vaginismus adalah sebutan untuk disfungsi seksual yang menyebabkan seorang wanita mengalami gangguan pada otot di sekitar vagina. Penyakit ini menyebabkan vagina  mengencang dengan sendirinya saat penetrasi seksual. Meski tidak memengaruhi gairah seksual, namun kondisi ini menghambat hubungan intim dan mengganggu keharmonisan rumah tangga. 

Baca Juga: 4 Mitos Tentang Vaginismus yang Tak Perlu Dipercaya

Apa Saja Gejala dari Vaginismus?

Beberapa gejala yang dirasakan seorang wanita saat mengalami vaginismus, antara lain:

  • Merasakan rasa sakit, kesulitan, dan mengakibatkan rasa tidak puas saat beraktivitas seksual. Kondisi ini dapat bervariasi dari rasa tidak nyaman ringan, hingga rasa perih dan sakit;

  • Penetrasi yang terasa sakit (dispareunia) dengan vagina yang perih atau mengencang sehingga menyebabkan rasa sakit;

  • Kesulitan atau tidak dapat melakukan penetrasi sama sekali;

  • Rasa sakit seksual jangka panjang dengan atau tanpa penyebab yang diketahui;

  • Rasa sakit saat memasang tampon;

  • Rasa sakit saat pemeriksaan ginekologis;

  • Kejang otot atau berhenti bernapas saat mencoba penetrasi.

Vaginismus bisa berlangsung sementara atau bahkan seumur hidup. Karena memicu ketidakharmonisan dalam rumah tangga, penting untuk menemui dokter saat gejala seperti yang disebutkan di atas sudah terjadi. Kamu bisa diskusi dulu melalui aplikasi Halodoc untuk melakukan penanganan saat gejala masih ringan, namun jika sudah cukup mengganggu sebaiknya buat janji dengan dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat. 

Lantas, Apa Saja yang Menyebabkan Seorang Wanita Alami Vaginismus?

Dalam dunia medis, vaginismus tidak memiliki penyebab yang jelas. Namun, beberapa hal bisa menyebabkan kondisi ini, yang dibagi menjadi penyebab non-fisik dan fisik, antara lain:

1. Penyebab non-fisik dapat meliputi:

  • Ketakutan atau antisipasi terhadap rasa sakit saat berhubungan, takut hamil, dan semacamnya;

  • Gelisah atau stres;

  • Terdapat isu pada pasangan: seperti kekerasan, menjauh secara emosional, ketidakpercayaan, kecemasan, dan semacamnya;

  • Kejadian traumatis seperti pemerkosaan, atau pernah mengalami kekerasan seksual;

  • Pengalaman masa kecil: cara didik, paparan terhadap gambar seksual.

2. Penyebab fisik dapat meliputi:

  • Kondisi medis;

  • Usai persalinan;

  • Perubahan yang terkait usia;

  • Rasa tidak nyaman sementara;

  • Trauma pada pelvis;

  • Efek samping pengobatan.

Baca Juga: 3 Disfungsi Seksual yang Rentan Dialami Wanita

Lantas, Bisakah Vaginismus Diobati?

Pilihan perawatan bervariasi, tergantung pada penyebabnya. Pada banyak kasus, vaginismus bisa disembuhkan. Beberapa cara yang bisa dilakukan meliputi terapi relaksasi vagina, terapi emosional, dan operasi.

Sementara itu, jika penyebabnya adalah infeksi atau kondisi medis lain, dokter menyembuhkan terlebih dahulu kondisi tersebut. Selain itu, bisa juga dilakukan perawatan seperti latihan kendali pelvic floor (latihan kegel) dan latihan vagina untuk meringankan rasa sakit secara perlahan. Latihan kegel ini meliputi aktivitas kontraksi dan relaksasi yang membantu meningkatkan kendali otot pelvic floor. Latihan vagina ini membantu terbiasa dengan objek yang masuk ke dalam vagina.

Jika latihan dan obat tidak memberikan hasil, maka tindakan operasi adalah opsi lainnya yang digunakan untuk memperlebar vagina. Hal ini perlu dilakukan pada situasi tertentu. Sebagai contoh, apabila operasi sebelumnya menyebabkan jaringan luka yang membatasi vagina, seperti episiotomi saat persalinan. Pada kasus ini, operasi kecil membantu mengangkat jaringan luka, dengan memotong jaringan luka dengan hati-hati dan menjahit dengan jahitan kecil. 

Baca Juga: Ini Alasan Terapi Psikologi Bantu Pulihkan Disfungsi Seksual