Virus Rubella saat Hamil Sebabkan Hidrosefalus?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
hidrosefalus, rubella

Halodoc, Jakarta - Hidrosefalus merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya penumpukan cairan di rongga otak. Kondisi ini akan menyebabkan adanya peningkatan tekanan pada otak. Saat hidrosefalus dialami oleh bayi, penyakit ini akan menyebabkan ukuran kepala mereka menjadi membesar. Berbeda dengan bayi, orang dewasa yang mengidap hidrosefalus akan ditandai dengan sakit kepala yang hebat.

Hidrosefalus terjadi karena otak memproduksi cairan secara abnormal dan diserap oleh pembuluh darah. Cairan yang diproduksi ini sebenarnya memiliki fungsi penting, yaitu melindungi seluruh otak dari cedera, menjaga tekanan dalam otak, serta membuang sisa metabolisme otak. Namun, ketika cairan ini diproduksi secara berlebihan dan mengganggu kerja otak, maka kondisi ini disebut dengan hidrosefalus.

Baca juga: Ketahui Berbagai Faktor Risiko Hidrosefalus Sejak Dini

Virus Rubella saat Hamil Sebabkan Hidrosefalus, Benarkah?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, hidrosefalus terjadi karena ketidakseimbangan produksi dan penggunaan cairan dalam otak. Akibatnya, tekanan dalam kepala meningkat. Kondisi ini dapat terjadi pada ibu hamil yang terinfeksi virus rubella atau sifilis. Kondisi ini akan memicu terjadinya peradangan pada otak janin. Tidak hanya itu, beberapa kondisi berikut ini merupakan penyebab terjadinya hidrosefalus:

  • Adanya pendarahan dalam otak bayi karena kelahiran prematur.

  • Adanya penyumbatan aliran cairan otak bayi karena perkembangan otak dan tulang belakang yang tidak normal.

  • Adanya penyakit atau cedera pada otak, sehingga memengaruhi penyerapan cairan otak.

  • Adanya infeksi pada otak dan saraf tulang belakang, seperti meningitis.

Tidak hanya beberapa hal tersebut, hidrosefalus juga dapat dilihat dari pembengkakan kepala pada bayi. Sedangkan pada orang dewasa, hidrosefalus baru dapat diketahui setelah melakukan pemeriksaan fisik. Tak hanya itu, pemeriksaan USG, CT scan, atau MRI juga perlu dilakukan untuk memastikan adanya penyakit. 

Baca juga: Terserang Hidrosefalus, Bisakah Disembuhkan?

Adah Langkah Penanganan Hidrosefalus pada Ibu Hamil?

Ibu hamil yang mencurigai adanya hidrosefalus pada janin biasanya dapat diketahui setelah dokter melakukan observasi. Sejauh ini belum ada penanganan untuk janin yang mengalami gangguan ini. Jika dokter sudah memastikan bahwa janin mengidap hidrosefalus, biasanya dokter akan mengawasi tanda-tandanya guna mempersiapkan persalinan dini yang harus dilakukan ibu.

Ketika janin sudah dilahirkan, dokter akan melakukan sejumlah langkah berikut ini guna mengatasi penyakit yang dialami oleh bayi:

  1. Shunt. Alat ini berbentuk selang kecil yang berfungsi mengalirkan cairan berlebih yang ada di otak dengan mengalirkannya ke dalam rongga perut. Cairan ini kemudian akan dibuang melalui saluran pencernaan.

  2. Endoskopi ketiga ventrikulostomi (ETV). Prosedur yang satu ini dilakukan dengan pembedahan dengan membuka lantai ventrikel ketiga otak. Hal ini dilakukan agar cairan mengalir ke jalur yang seharusnya.

  3. Combined endoscopic third ventriculostomy and choroid plexus cauterization (ETV dan CPC). Kedua prosedur yang digabungkan tersebut dilakukan untuk mengurangi tingkat produksi cairan pada otak, serta menyediakan jalur agar cairan mengalir keluar otak.

Baca juga: Hidrosefalus Bisakah Ukuran Kepala Menjadi Normal?

Hidrosefalus yang dialami oleh bayi yang baru lahir memang tidak dapat diprediksi. Anak-anak dengan hidrosefalus juga akan mengalami hilang ingatan jangka pendek, masalah koordinasi gerak, masalah pada penglihatan, ketidakmampuan belajar dan berkembang, serta akan mengalami masalah ketika memasuki masa pubertas. Jika Si Kecil mengalaminya, atasi dengan terapi fisik dan terapi okupasi agar anak dapat berkembang secara normal.

Referensi:
NHS. Diakses pada 2019. Hydrocephalus.
AANS. Diakses pada 2019. What Is Hydrocephalus?