Gejala sifilis pada wanita dan pria serupa, perbedaan hanya pada lokasi luka (chancre).

DAFTAR ISI
- Karakteristik dan Bentuk Luka Sifilis
- Tahapan Infeksi Sifilis dan Gejalanya
- Dampak Sifilis pada Kehamilan (Sifilis Kongenital)
- Kapan Harus ke Dokter?
- Diagnosis dan Penanganan Medis untuk Sifilis
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Sifilis, atau yang sering dikenal oleh masyarakat Indonesia dengan sebutan penyakit raja singa, adalah salah satu infeksi menular seksual (IMS) yang sangat perlu diwaspadai. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri bernama Treponema pallidum. Bakteri ini sangat mudah menyebar melalui kontak langsung dengan luka sifilis saat melakukan hubungan seksual, baik itu secara vaginal, anal, maupun oral. Sayangnya, banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi karena gejala awal penyakit ini sering kali terabaikan atau disalahartikan sebagai masalah kulit biasa.
Dalam dunia medis, sifilis sering dijuluki sebagai “peniru ulung” atau the great imitator. Julukan ini diberikan karena gejala yang ditimbulkan oleh sifilis sangat mirip dengan berbagai kondisi kesehatan atau penyakit lainnya. Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda awal infeksi ini adalah langkah pencegahan dan diagnosis yang sangat krusial. Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan oleh masyarakat adalah, sebenarnya luka sifilis seperti apa bentuk dan cirinya?
Mengenali bentuk dan karakteristik luka sifilis (yang dalam istilah medis disebut chancre) sangat penting agar penanganan medis dapat segera dilakukan sebelum bakteri merusak organ tubuh bagian dalam. Sifilis yang dibiarkan tanpa pengobatan medis yang tepat dapat berkembang menjadi komplikasi yang fatal, termasuk kerusakan otak, sistem saraf, jantung, hingga mengancam nyawa. Infeksi ini tidak bisa disembuhkan hanya dengan obat-obatan bebas atau perawatan mandiri di rumah.
Nah, mau tahu apa saja karakteristik, bentuk, hingga tahapan gejala luka sifilis secara lebih mendalam? Berikut ulasan lengkap yang perlu kamu pahami untuk melindungi kesehatan reproduksimu!
Karakteristik dan Bentuk Luka Sifilis
Ketika seseorang terinfeksi bakteri Treponema pallidum, tubuh akan bereaksi dengan memunculkan tanda pertama pada area kulit atau selaput lendir yang menjadi pintu masuk bakteri tersebut. Tanda pertama inilah yang disebut dengan luka sifilis primer atau chancre. Bentuk dan karakteristik luka ini sangat khas, namun karena sifatnya yang sering tersembunyi, penderita sering kali tidak menyadarinya.
Berikut adalah gambaran rinci mengenai luka sifilis seperti apa yang umumnya muncul pada fase awal infeksi:
- Tidak Terasa Nyeri (Painless): Ini adalah ciri utama yang paling mengecoh. Berbeda dengan luka akibat herpes genital yang umumnya terasa sangat perih, gatal, atau panas, luka sifilis justru tidak menimbulkan rasa sakit sama sekali saat disentuh atau bergesekan dengan pakaian. Hal ini membuat banyak orang mengabaikannya.
- Bentuk Bulat dan Padat: Luka sifilis umumnya memiliki tepi yang jelas, berbentuk bulat atau oval, serta bagian dasarnya terasa keras atau padat (indurasi) jika diraba. Luka ini biasanya menyerupai sariawan yang bersih namun tanpa rasa perih.
- Jumlah Luka: Secara klasik, chancre hanya muncul sebagai satu luka tunggal. Namun, pada beberapa kasus, terutama pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang sangat lemah atau penderita HIV, luka sifilis bisa muncul lebih dari satu (multipel).
- Lokasi Kemunculan: Luka akan muncul tepat di mana bakteri masuk. Pada pria, luka sering ditemukan di area penis, kulup, atau buah zakar. Pada wanita, luka bisa muncul di bibir kemaluan (labia), di dalam vagina, atau di leher rahim (serviks). Karena posisinya yang tersembunyi di dalam liang vagina atau rektum, luka ini sering luput dari penglihatan. Selain area genital, luka juga bisa muncul di mulut, bibir, lidah, atau tenggorokan jika penularan terjadi melalui seks oral.
- Proses Penyembuhan Semu: Luka sifilis primer ini umumnya akan menyembuh dan hilang dengan sendirinya dalam waktu 3 hingga 6 minggu, baik dengan pengobatan maupun tanpa pengobatan sama sekali. Namun, hilangnya luka BUKAN berarti penyakitnya sembuh. Bakteri justru sedang bergerak masuk lebih dalam ke aliran darah untuk memulai fase infeksi berikutnya.
Tahapan Infeksi Sifilis dan Gejalanya
Sifilis berkembang melalui beberapa tahapan yang berbeda, di mana setiap tahapan memiliki gejala yang unik. Jika tidak segera diobati pada tahap awal, sifilis akan terus berlanjut hingga bertahun-tahun lamanya dan merusak berbagai organ vital.
1. Sifilis Primer
Ini adalah tahap awal di mana luka sifilis atau chancre muncul, biasanya sekitar 10 hingga 90 hari (rata-rata 21 hari) setelah individu terpapar bakteri dari pasangan yang terinfeksi. Seperti yang telah dijelaskan, luka ini tidak nyeri dan akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu. Pada tahap ini, kelenjar getah bening di sekitar area luka (misalnya di selangkangan) mungkin akan mengalami pembengkakan sebagai respons perlawanan tubuh terhadap bakteri.
2. Sifilis Sekunder
Jika tahap primer diabaikan, beberapa minggu setelah luka hilang, penderita akan memasuki tahap sekunder. Pada tahap ini, bakteri telah menyebar luas ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Gejala paling umum pada tahap sekunder adalah munculnya ruam kulit. Ruam ini memiliki karakteristik yang sangat khas, yaitu sering muncul di telapak tangan dan telapak kaki berupa bercak merah atau cokelat kemerahan yang tidak terasa gatal.
Selain ruam di telapak tangan dan kaki, gejala lain yang mungkin muncul antara lain:
- Luka atau kutil basah di area lipatan kulit yang lembap, seperti di ketiak, pangkal paha, atau sekitar anus (dikenal sebagai condylomata lata).
- Demam ringan hingga sedang.
- Pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh (leher, ketiak, selangkangan).
- Kerontokan rambut yang tidak merata (alopesia sifilitika), membuat rambut tampak kebotakan seperti gigitan ngengat.
- Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, nyeri otot, dan rasa kelelahan yang ekstrem.
Sama seperti luka primer, gejala pada tahap sekunder ini juga dapat hilang timbul dengan sendirinya meskipun tanpa penanganan medis.
3. Sifilis Laten
Tahap laten adalah fase tersembunyi dari infeksi sifilis. Jika penderita tidak mendapatkan pengobatan pada tahap primer dan sekunder, gejala-gejala fisik akan hilang sepenuhnya. Penderita akan merasa sehat dan tidak menunjukkan keluhan atau tanda-tanda sakit apa pun. Namun, di dalam tubuh, bakteri Treponema pallidum masih hidup dan terus berkembang biak.
Fase laten ini bisa berlangsung sangat lama, mulai dari 1 tahun hingga 20 tahun. Meskipun penderita tidak menunjukkan gejala klinis, tes darah tetap akan menunjukkan hasil positif sifilis. Pada tahap awal laten (di bawah 1 tahun), penyakit ini masih sangat menular kepada pasangan seksual.
4. Sifilis Tersier
Ini adalah tahap akhir dan paling berbahaya dari penyakit sifilis. Sekitar 15-30% orang yang tidak mengobati sifilisnya akan berlanjut ke tahap tersier. Pada fase ini, bakteri telah menginvasi dan merusak organ-organ dalam secara permanen. Gejala yang muncul sangat bergantung pada organ mana yang diserang.
Kondisi medis yang bisa terjadi pada sifilis tersier meliputi:
- Gumma: Munculnya tumor lunak atau benjolan pada kulit, tulang, hati, atau organ lainnya yang dapat merusak jaringan di sekitarnya secara agresif.
- Neurosifilis: Bakteri menyerang sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Hal ini dapat menyebabkan kelumpuhan parsial, kebutaan, hilangnya sensasi nyeri, kejang, hingga demensia atau gangguan kejiwaan akut.
- Sifilis Kardiovaskular: Bakteri merusak pembuluh darah utama, menyebabkan aneurisma aorta (pembengkakan pembuluh darah jantung) yang bisa pecah dan berujung pada kematian mendadak, serta peradangan pada katup jantung.
Faktor Risiko dan Tips Pencegahan Sifilis
- Praktik Seks Aman: Selalu gunakan kondom secara konsisten dan benar dari awal hingga akhir aktivitas seksual, baik vaginal, anal, maupun oral.
- Setia pada Pasangan: Menghindari perilaku berganti-ganti pasangan seksual (monogami) adalah salah satu cara paling efektif untuk mencegah penularan IMS.
- Skrining Rutin: Bagi kamu yang aktif secara seksual, terutama yang memiliki perilaku berisiko, sangat disarankan untuk melakukan tes darah skrining IMS secara berkala setidaknya 6 bulan atau 1 tahun sekali.
- Komunikasi Terbuka: Jujur dan komunikasikan riwayat kesehatan seksual dengan pasangan sebelum memulai hubungan fisik.
Dampak Sifilis pada Kehamilan (Sifilis Kongenital)
Sifilis bukan hanya berbahaya bagi penderitanya saja, tetapi juga sangat mengancam janin jika infeksi terjadi pada wanita hamil. Bakteri penyebab sifilis dapat dengan mudah menembus plasenta dan menginfeksi janin di dalam kandungan. Kondisi ini secara medis dikenal dengan istilah sifilis kongenital.
Infeksi pada janin dapat memicu komplikasi kehamilan yang sangat tragis, mulai dari keguguran, bayi lahir mati (stillbirth), kelahiran prematur, hingga kematian bayi tidak lama setelah dilahirkan. Bayi yang berhasil lahir dengan infeksi sifilis kongenital mungkin tidak langsung menunjukkan gejala. Namun, jika tidak segera diobati, dalam beberapa minggu bayi tersebut akan mengalami ruam parah, pembesaran organ hati dan limpa, kerusakan bentuk tulang rawan hidung (saddle nose), kebutaan, ketulian, hingga keterbelakangan mental.
Inilah mengapa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sangat mewajibkan seluruh ibu hamil untuk melakukan skrining sifilis (bersamaan dengan tes HIV dan Hepatitis B) pada trimester pertama kehamilan melalui program *Triple Eliminasi*.
Kapan Harus ke Dokter?
Kunci keberhasilan penyembuhan sifilis adalah diagnosis dan tindakan medis yang cepat. Jangan menunggu gejala menjadi parah. Segera cari bantuan medis jika kamu mengamati tanda-tanda berikut:
1. Munculnya luka kecil, bulat, dan tidak sakit di area kelamin, anus, atau mulut, terutama setelah melakukan kontak seksual tanpa pengaman dengan pasangan yang riwayat kesehatannya tidak diketahui pasti.
2. Mengalami ruam merah di telapak tangan atau telapak kaki yang tidak terasa gatal, yang mungkin disertai dengan demam atau pembengkakan kelenjar getah bening.
3. Kamu diberi tahu oleh pasangan seksualmu bahwa mereka baru saja didiagnosis mengidap sifilis atau IMS lainnya.
Rasa malu sering kali menjadi penghalang utama bagi seseorang untuk mencari pengobatan IMS. Namun, kesehatanmu jauh lebih penting. Jika kamu mendapati adanya luka aneh pada area genital meskipun tidak terasa sakit, sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan diagnosis yang tepat. Dokter akan menjaga privasimu secara penuh dan memberikan arahan medis yang akurat.
Diagnosis dan Penanganan Medis untuk Sifilis
Untuk mendiagnosis sifilis, dokter tidak bisa hanya melihat secara fisik saja karena bentuk lukanya bisa mirip dengan penyakit lain. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan lanjutan yang meliputi tes darah. Tes darah bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi yang diproduksi tubuh untuk melawan bakteri Treponema pallidum. Jenis tes yang paling umum digunakan adalah VDRL (Venereal Disease Research Laboratory) atau TPHA (Treponema Pallidum Hemagglutination Assay). Pada beberapa kasus, dokter juga bisa mengambil sampel cairan langsung dari luka (chancre) untuk diperiksa di bawah mikroskop medan gelap.
Setelah diagnosis dipastikan positif, dokter akan memberikan penanganan utama berupa pemberian antibiotik. Sangat penting untuk dicatat bahwa sifilis HANYA bisa disembuhkan dengan antibiotik resep dokter, umumnya melalui suntikan Penisilin. Tidak ada obat bebas, obat herbal, atau metode pengobatan tradisional yang dapat membunuh bakteri sifilis di dalam darah.
Pengobatan sifilis pada tahap awal (primer dan sekunder) biasanya hanya membutuhkan satu kali dosis suntikan Penisilin. Namun, jika pasien sudah berada pada tahap laten akhir atau tersier, maka diperlukan beberapa kali suntikan secara berkala dalam pengawasan medis yang ketat. Selama proses pengobatan, pasien dilarang keras untuk melakukan hubungan seksual sampai dokter memastikan bahwa infeksi telah benar-benar bersih dan seluruh luka sembuh total.
Meski antibiotik adalah satu-satunya obat penyembuh sifilis, menjaga daya tahan tubuh juga penting. Untuk mendukung sistem kekebalan tubuh selama masa pemulihan, kamu bisa beli vitamin, beli suplemen, atau produk kesehatan secara online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah dengan praktis.
Studi Mengenai Sifilis dan Penularannya
World Health Organization (WHO) menerbitkan studi pembaruan yang menjelaskan bahwa angka kejadian infeksi sifilis secara global terus mengalami peningkatan yang mengkhawatirkan, terutama di kalangan orang berusia 15 hingga 49 tahun. Studi tersebut mencatat bahwa terjadi jutaan kasus baru setiap tahunnya, dan sifilis kongenital menjadi penyebab utama kematian bayi terkait infeksi di negara-negara berkembang.
Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan RI melaporkan adanya tren kenaikan kasus IMS, termasuk sifilis, seiring dengan masih rendahnya kesadaran masyarakat akan praktik seks yang aman. Hal ini menegaskan kembali betapa pentingnya edukasi reproduksi dan kewaspadaan terhadap gejala-gejala awal seperti munculnya luka sifilis primer, agar rantai penularan dapat diputus sedini mungkin melalui pengobatan yang tepat sasaran.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Syphilis.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. Syphilis – CDC Basic Fact Sheet.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Syphilis – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Syphilis: Symptoms, Diagnosis, Treatment & Prevention.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual.
FAQ
1. Luka sifilis seperti apa pada tahap awal kemunculannya?
Pada tahap awal, luka sifilis (chancre) berbentuk bulat atau oval, terasa padat/keras saat diraba, dan yang paling khas adalah luka ini tidak terasa sakit sama sekali. Luka biasanya berjumlah satu buah dan muncul di area kelamin, bibir, atau anus, menyerupai sariawan yang bersih tanpa nanah.
2. Apakah luka sifilis terasa gatal atau perih?
Tidak. Berbeda dengan infeksi herpes atau jamur yang menyebabkan rasa perih atau gatal yang menyiksa, luka sifilis klasik umumnya tidak menimbulkan rasa gatal maupun nyeri. Hal inilah yang menyebabkan penyakit sifilis sering tidak disadari oleh penderitanya.
3. Berapa lama luka sifilis primer akan hilang dengan sendirinya?
Luka sifilis dapat sembuh dan hilang dengan sendirinya dalam waktu 3 hingga 6 minggu, meskipun kamu tidak mengonsumsi obat apa pun. Namun, hilangnya luka ini adalah tanda bahaya karena infeksi tidak sembuh, melainkan bakteri Treponema pallidum masuk lebih dalam ke aliran darah dan memicu sifilis sekunder.
4. Bisakah sifilis disembuhkan secara mandiri tanpa ke dokter?
Tentu saja tidak. Sifilis adalah infeksi bakteri sistemik yang hanya bisa disembuhkan dengan antibiotik golongan resep, seperti suntikan penisilin, yang dosisnya harus disesuaikan oleh dokter. Obat bebas, suplemen, atau obat tradisional tidak memiliki kemampuan untuk membunuh bakteri penyebab sifilis di dalam tubuh.








