
Waspada Penularan Kusta Masih Terjadi di Indonesia, Stigma Sosial Jadi Tantangan Utama
Kusta kerap dianggap sebagai penyakit kuno sehingga banyak orang mengabaikannya, padahal penularan infeksi ini masih terus terjadi di Indonesia.

DAFTAR ISI
- Apa Itu Kusta?
- Klasifikasi Kusta Menurut WHO
- Tantangan Sosial dan Stigma Terkait Penyakit Kusta
- Pemeriksaan Dini Jadi Kunci Keberhasilan Pengobatan Kusta
- Langkah Tepat untuk Memutus Rantai Penularan Kusta
Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga dunia dengan jumlah penderita kusta terbanyak, setelah India dan Brasil.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023, tercatat hampir 15.000 kasus baru dengan prevalensi 0,63 per 10.000 penduduk.
Artinya, meski dianggap sebagai penyakit kuno, penularan kusta masih terus terjadi di masyarakat.
Ini jadi satu hal yang perlu diwaspadai, mengingat kusta merupakan penyakit menular kronis yang dapat menyerang kulit dan saraf tepi.
Apa Itu Kusta?
Kusta merupakan infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.
Bakteri ini secara spesifik menyerang area kulit, jaringan saraf tepi (perifer), serta organ sensitif seperti mata dan selaput lendir di bagian dalam hidung.
Meski dahulu dianggap sebagai penyakit yang sangat menular dan menakutkan, kemajuan medis saat ini membuktikan bahwa kusta sebenarnya tidak mudah menular dan dapat disembuhkan sepenuhnya jika dideteksi lebih awal.
Kunci utama penanganan kusta terletak pada diagnosis dini. Tanpa pengobatan yang tepat, bakteri ini berisiko merusak sistem saraf secara permanen yang dapat berujung pada kelumpuhan fisik hingga kebutaan.
Klasifikasi Kusta Menurut WHO
Berdasarkan standar World Health Organization (WHO), kusta dikelompokkan menjadi dua klasifikasi utama untuk menentukan metode pengobatan:
1. Pausibasiler (PB)
Kondisi ini ditandai dengan munculnya 1 hingga 5 lesi (bercak) pada kulit.
Gejala yang paling menonjol adalah area bercak yang mengalami mati rasa (baal) secara jelas dan biasanya hanya melibatkan satu cabang saraf.
2. Multibasiler (MB)
Jenis ini lebih serius dengan jumlah lesi lebih dari 5 bercak.
Berbeda dengan tipe pausibasiler, sensasi mati rasa pada tipe ini cenderung kurang jelas, namun serangan infeksinya mencakup banyak cabang saraf di berbagai bagian tubuh.
Tantangan Sosial dan Stigma Terkait Penyakit Kusta
Masalah utama dalam penanganan kusta bukan hanya dari sisi medis, melainkan juga stigma sosial.
Adanya stigma membuat banyak pengidap kusta merasa malu dan memilih menyembunyikan kondisinya, sehingga terlambat mendapatkan pengobatan.
Padahal, kusta termasuk penyakit yang daya penularannya paling lemah dan bisa diobati sepenuhnya tanpa meninggalkan cacat jika dideteksi sejak stadium awal.
Jadi sebaiknya Bukan Diasingkan, Ini 3 Langkah Mengobati Kusta.
Pemeriksaan Dini Jadi Kunci Keberhasilan Pengobatan Kusta
Keberhasilan dalam menangani kusta sangat bergantung pada seberapa cepat gejala dikenali.
Sebenarnya seseorang bisa melakukan skrining mandiri secara sederhana menggunakan kapas yang dipilin hingga runcing.
Dengan menyentuhkan ujung kapas tersebut ke area bercak kulit yang dicurigai serta area sekitarnya, kita dapat mendeteksi adanya mati rasa.
Jika kulit tidak merasakan sentuhan tersebut, hal itu menjadi indikasi kuat adanya infeksi kusta yang harus segera dikonsultasikan ke tenaga medis.
Langkah Tepat untuk Memutus Rantai Penularan Kusta
Berikut ini langkah yang bisa diambil untuk memutus rantai penularan kusta:
- Melakukan deteksi dini, terutama bagi orang yang tinggal di wilayah dengan kasus kusta tinggi.
- Masyarakat juga sebaiknya tidak boleh menunda pemeriksaan saat menemukan kelainan kulit sekecil apa pun.
- Penghapusan stigma sosial terhadap pengidap kusta menjadi faktor krusial agar mereka tidak takut untuk mencari pengobatan.
Kusta bukan penyakit yang bisa diabaikan. Penularannya masih terjadi di Indonesia dan diperparah oleh stigma sosial yang membuat banyak penderita terlambat mendapatkan pengobatan.
Dengan meningkatkan edukasi, deteksi dini, serta menghilangkan stigma, masyarakat dapat berperan penting dalam memutus rantai penularan kusta dan mendukung upaya pengendaliannya.
Yuk, Cek Fakta: Apakah Kusta Bisa Sembuh Total?
Jika kamu masih memiliki pertanyaan lain atau memiliki permasalahan kulit, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit di Halodoc.
Kamu bisa beli obat online atau produk kesehatan lainnya dengan praktis dan mudah di Apotek Online Halodoc.
Toko Kesehatan Halodoc Produknya 100% asli dan tepercaya. Tanpa perlu antre, obat bisa diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat dari lokasi kamu berada.
Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga dan dapatkan obat dari apotek 24 jam terdekat!


