Berat Janin Berlebih Benarkah Sebabkan Sindrom Sheehan?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Sindrom Sheehan, fungsi kelenjar pituitari terganggu

Halodoc, Jakarta - Sindrom sheehan merupakan kondisi yang terjadi saat fungsi kelenjar pituitari terganggu, sehingga kelenjar tersebut tidak dapat memproduksi hormon yang mencukupi kebutuhan tubuh. Kelenjar pituitari sendiri merupakan organ yang berada di bawah otak, yang berfungsi mengendalikan kelenjar lain dalam tubuh. Ketika sindrom sheehan terjadi, wanita akan mengalami pendarahan berat selama proses melahirkan.

Akibatnya, ibu hamil yang melahirkan akan mengalami kurangnya kadar oksigen dalam darah, sehingga merusak kelenjar pituitari. Sindrom sheehan, atau yang lebih akrab disapa dengan postpartum hypopituitarism merupakan ancaman bagi wanita yang sedang merencanakan kelahirannya. 

Baca juga: Bagaimana Cara Mengobati Sindrom Sheehan?

Berat Janin Berlebih Dapat Sebabkan Sindrom Sheehan, Benarkah?

Berat janin di atas empat kilogram merupakan salah satu penyebab sindrom sheehan. Kondisi ini dapat muncul akibat terjadinya pendarahan hebat selama melahirkan. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya faktor risiko yang menjadi pemicunya, antara lain:

  • Mengalami plasenta previa, yaitu kondisi yang terjadi saat plasenta (ari-ari) berada di bawah rahim, sehingga menutupi jalan lahir.

  • Mengalami solusio plasenta, yaitu kondisi yang terjadi saat dinding lahir lepas sebelum proses persalinan, baik sebagian maupun seluruhnya.

  • Mengalami preeklampsia selama masa kehamilan. Preeklampsia sendiri merupakan sindrom yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, kenaikan kadar protein dalam urine, serta pembengkakan pada tungkai. 

Ibu dapat menghindari kejadian berbahaya tersebut dengan mengupayakan kesehatan ibu dan janin selama masa kehamilan dengan melakukan check up secara rutin. Dalam hal ini, ibu dapat melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit terdekat melalui aplikasi Halodoc. Dengan begitu, ibu dapat meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan selama proses persalinan.

Baca juga: Diagnosis Sindrom Sheehan dengan Cara Ini

Tanda-Tanda yang Muncul pada Pengidap Sindrom Sheehan

Tanda tidak akan langsung muncul pada saat itu juga. Namun, gejala akan muncul secara perlahan dalam beberapa bulan atau beberapa tahun. Dalam kasus yang jarang, tanda juga dapat muncul seketika yang disertai dengan gejala sebagai berikut:

  • Rambut yang dicukur tidak tumbuh kembali.

  • Mengalami tekanan darah rendah.

  • Mengalami gangguan menstruasi.

  • Ibu menyusui tidak mengeluarkan ASI.

  • Kadar gula darah rendah.

  • Mengalami gangguan irama jantung.

  • Payudara menyusut.

  • Bertambahnya berat badan.

  • Tubuh merasa sering kelelahan.

  • Kulit menjadi kering.

  • Adanya kerutan di sekitar bibir dan mata.

  • Mengalami penurunan kondisi mental.

  • Merasa mudah kedinginan.

  • Penurunan nafsu seksual.

Pemeriksaan rutin diperlukan, karena sebagian besar kasus sindrom sheehan yang hadir tidak disertai dengan gejala. Sebelum terlambat dan dapat membahayakan kesehatan ibu dan janin, maksimalkan upaya pencegahan dengan rutin melakukan pemeriksaan saat kehamilan, ya.

Baca juga: 11 Tanda Ibu Menyusui Alami Sindrom Sheehan

Adakah Komplikasi yang Disebabkan oleh Sindrom Sheehan?

Sindrom sheehan memengaruhi hormon pituitari yang mengontrol banyak kelenjar dalam tubuh. Ketika hormon tersebut terganggu, maka akan menyebabkan beberapa gangguan, meliputi:

  • Kehilangan berat badan secara drastis.

  • Mengalami tekanan darah rendah.

  • Menstruasi yang tidak teratur.

  • Krisis adrenal. Kondisi ini akan sangat berbahaya bagi pengidapnya, karena hormon kortisol yang dihasilkan terlalu sedikit. Hormon kortisol sendiri merupakan hormon yang dilepaskan dalam tubuh ketika sedang stres.

Perawatan medis yang baik selama persalinan dapat menghindari ibu dari pendarahan hebat. Namun, begitu pendarahan hebat terjadi saat proses persalinan berlangsung, sindrom sheehan tidak dapat dicegah.

Referensi:
MedlinePlus. Diakses pada 2019. Sheehan Syndrome.
Healthline. Diakses pada 2019. Sheehan Syndrome.