Bells Palsy

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Bell's Palsy

Bell's palsy merupakan kelemahan yang terjadi pada salah satu sisi otot wajah yang sifatnya sementara. Sisi wajah yang terserang Bell’s palsy biasanya akan terlihat melorot. Umumnya, kondisi ini terjadi pada wanita hamil, pengidap diabetes, dan HIV.

Saraf yang rusak pada bagian wajah akan berdampak pada indra perasa dan cara tubuh menghasilkan air mata dan ludah. Umumnya, Bell's palsy datang secara tiba-tiba dan membaik dalam hitungan minggu.

Perlu diketahui bahwa Bell's palsy tidak ada kaitannya dengan stroke. Berikut adalah beberapa penyebab Bell's palsy pada wajah:

  • Kelumpuhan wajah turunan, kondisi ini terjadi pada anak yang terlahir dengan kelemahan atau kelumpuhan pada wajah.

  • Cedera karena kecelakaan, terjadi karena luka robek pada dagu atau retak pada tulang tengkorak.

  • Cedera karena operasi, kondisi ini umumnya terjadi saat operasi kelenjar parotid.

Pada kebanyakan kasus Bell's palsy, kelumpuhan pada satu sisi wajah ini biasanya dapat pulih sepenuhnya. Untuk itu, sebaiknya hubungi dokter untuk memahami kondisi yang dialami.

Baca juga: Jangan Keliru, Ketahui Mitos Tentang Bell's Palsy

 

Faktor Risiko Bell’s Palsy

Faktor risiko Bell’s Palsy sudah ditetapkan. Ditemukan adanya kaitan antara migrain dengan kelemahan pada wajah dan anggota gerak. Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2015 mengungkapkan bahwa orang yang mengidap migrain mungkin berisiko lebih tinggi terkena Bell’s Palsy.

Selain itu, Bell’s Palsy lebih sering terjadi pada:

  • Orang berusia 15-60 tahun.

  • Mereka yang mengidap diabetes atau penyakit pernapasan bagian atas.

  • Wanita hamil, terutama pada trimester ketiga.

 

Penyebab Bell's Palsy

Sampai saat ini, belum diketahui penyebab Bell's Palsy secara pasti. Namun, kondisi ini diduga terjadi karena saraf yang mengendalikan otot wajah tertekan atau terganggu. Selain itu, kelumpuhan juga disebabkan oleh peradangan infeksi virus, diperkirakan salah satu virus yang menyebabkan Bell's palsy adalah virus herpes.

Baca juga: Awas, 6 Hal ini Bisa Sebabkan Bell's palsy

 

Gejala Bell's Palsy

Bell's Palsy menimbulkan gejala yang berbeda-beda pada setiap pengidapnya. Kelumpuhan yang terjadi pada satu sisi wajah bisa dibagi menjadi dua jenis, yaitu kelumpuhan sebagian (kelemahan otot ringan) dan kelumpuhan total (tidak ada gerakan sama sekali, tetapi kasus ini jarang sekali terjadi). Bell's palsy juga membuat mulut serta kelopak mata pengidap akan terpengaruh, sehingga kedua bagian ini akan sulit untuk dibuka dan ditutup. Berikut adalah gejala yang Bell's palsy yang perlu diketahui:

  • Nyeri telinga pada sisi wajah yang lumpuh.

  • Telinga yang terpengaruh akan lebih sensitif terhadap suara.

  • Berdenging di salah satu telinga atau keduanya.

  • Penurunan atau perubahan pada indra perasa.

  • Bagian mulut yang terpengaruh akan mudah berliur.

  • Mulut terasa kering.

  • Rasa sakit pada sekitar rahang.

  • Sakit kepala dan pusing.

  • Kesulitan untuk makan, minum, dan berbicara.

Bell's palsy merupakan gangguan yang terjadi pada otot dan saraf wajah, sehingga kondisi ini tidak berdampak pada kinerja otak dan bagian tubuh lainnya. Apabila kelumpuhan di salah satu sisi wajah juga dibarengi oleh kelumpuhan pada bagian tubuh lain, penanganan serius dari dokter sangat diperlukan.

 

Diagnosis Bell’s Palsy

American Medical Association (AMA) mengungkapkan bahwa pengobatan akan lebih efektif bila diberikan lebih awal. Karena itu, pengidap dianjurkan untuk mengunjungi dokter segera setelah mengalami gejala.

Mendiagnosis Bell’s Palsy seperti proses eliminasi. Dokter akan mencari kondisi lain yang menyebabkan kelumpuhan wajah, seperti tumor, penyakit Lyme, atau stroke. Dokter akan melakukan pemeriksaan pada kepala, leher dan telinga pengidap. Dokter juga akan menilai otot-otot wajah untuk menentukan pakah ada saraf lain selain saraf wajah yang terpengaruh.

Bila diagnosis masih belum pasti, pengidap akan dirujuk ke spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) atau otolaryngologist. Berikut pemeriksaan yang bisa dilakukan oleh spesialis guna mendiagnosis Bell’s palsy:

  • Elektromiografi (EMG): prosedur ini dilakukan dengan menempatkan elektroda di wajah pengidap.  Mesin kemudian akan mengukur aktivitas listrik saraf dan aktivitas listrik otot sebagai respons terhadap stimulasi. Tes ini bermanfaat untuk menentukan tingkat kerusakan saraf, serta lokasinya.

  • MRI, CT Scan, atau sinar X. Beberapa pemeriksaan tersebut bagus untuk menentukan apakah ada kondisi lain yang mendasari penyakit tersebut, seperti infeksi bakteri, patah tulang tengkorak, atau tumor.

 

Komplikasi Bell’s Palsy

Bell’s Palsy biasanya bisa sembuh dalam beberapa waktu dan tidak menyebabkan komplikasi jangka panjang. Namun, selama sakit, kebanyakan pengidap Bell’s Palsy tidak bisa menutup mata mereka pada sisi wajah yang terkena. Itulah mengapa sangat penting untuk mencegah mata kering di malam hari atau saat bekerja di depan komputer. Perawatan mata yang diperlukan adalah obat tetes mata di siang hari, salep pada waktu tidur, atau membuat ruangan menjadi lembap di malam hari. Cara tersebut dapat membantu melindungi kornea agar tidak tergores.

Baca juga: Jangan Dianggap Remeh, Bell's Palsy Sebabkan 6 Komplikasi Ini

 

Pengobatan Bell's Palsy

Untuk mengurangi pembengkakan pada saraf wajah, pengidap dapat menggunakan prednisolone atau prednison (kelompok obat kortikosteroid). Sedangkan untuk mencegah munculnya masalah pada mata yang tidak bisa menutup, pengidap biasanya memerlukan obat tetes mata.

70 persen pengidap Bell's palsy dapat kembali pulih. Sebagian besar akan mulai membaik dalam dua atau tiga minggu. Namun, untuk dapat pulih sepenuhnya, dibutuhkan waktu sekitar 10 bulan tergantung pada tingkat kerusakan saraf.

 

Pencegahan Bell's Palsy

Mulai gaya hidup sehat dengan mengonsumsi makanan tinggi serat serta rutin berolahraga. Lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Bell's Palsy sama sekali tidak boleh dianggap sepele. Segera bawa orang yang mengidap penyakit ini ke rumah sakit terdekat untuk  mendapatkan pertolongan medis.

Referensi:
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2019. Bell's Palsy
Medical News Today. Diakses pada 2019. Bell's palsy: Causes, treatment, and symptoms.

Diperbarui pada tanggal 2 September 2019.