Psikosis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Psikosis

Psikosis adalah kondisi kejiawaan yang bisa ditandai dengan adanya gangguan hubungan dengan realita. Psikosis merupakan gejala serius yang muncul akibat gangguan mental yang serius dan meliputi adanya gangguan halusinasi atau delusi.

 

Faktor Risiko Psikosis

Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat menungkatkan risiko seseorang mengalami psikosis. Mulai dari mereka yang memiliki pola tidur yang buruk, gemar mengonsumsi alkohol atau menggunakan ganja, dan mengalami trauma akibat kehilangan seseorang yang dicintai, seperti orangtua atau pasangan.

Baca juga: Waspada Jika Sering Berhalusinasi, Bisa Jadi Tanda Idap Psikosis

 

Penyebab Psikosis

Penyebab dari psikosis berbeda-beda dan penyebab pastinya sering kali tidak jelas. Psikosis muncul sebagai manifestasi gejala dari penyakit, tetapi dapat juga dipicu melalui konsumsi obat-obatan, terutama obat-obatan terlarang, kekurangan tidur, dan faktor lingkungan.

Beberapa kondisi pada tubuh yang dapat menyebabkan psikosis antara lain adalah:

  • Penyakit pada obatk seperti penyakit Parkinson dan penyakit Huntington.

  • Tumor atau kista di otak.

  • Penyakit Alzheimer.

  • Stroke.

  • Epilepsi.

  • HIV, Sifilisis, dan infeksi pada otak lainnya.

  • Trauma kepala.

  • Overdosis alkohol dan NAPZA.

Psikosis juga dapat muncul sebagai suatu manifestasi dari adanya gangguan pada jiwa maupun kepribadian seseorang, antara lain:

  • Kelainan bipolar.

  • Depresi.

  • Skizofrenia.

  • Gangguan delusi.

  • Gangguan psikotik menyeluruh.

 

Gejala Psikosis

Seseorang dengan psikosis biasanya akan memiliki gejala yang meliputi:

  • Halusinasi, yaitu sebuah kondisi yang ditandai dengan adanya sebuah persepsi yang dirasakan tanpa adanya rangsangan nyata terhadap panca indra. Hal ini meliputi penglihatan, pendengaran, penciuman, dan taktil. Sebagai contoh, pengidap merasa melihat suatu sosok atau mendengar suara yang tidak nyata.

  • Delusi atau waham adalah sebuah keyakinan yang dipegang oleh pengidap, tetapi keyakinan tersebut adalah salah. Misalnya, seseorang merasa dirinya adalah seorang manusia super yang bisa terbang.

  • Rasa cemas yang berlebihan.

  • Penuh dengan rasa curiga.

  • Sulit berkonsentrasi.

  • Mengalami gangguan mood.

  • Cenderung menjadi murung, menarik diri dari lingkungan keluarga atau teman.

  • Tidur terus-menerus.

  • Depresi.

  • Gangguan dalam berbicara, seperti tidak fokus, berpindah dari topik satu ke topik lain, dan sering kali tidak nyambung.

  • Memiliki pikiran-pikiran untuk bunuh diri dan melakukan percobaan bunuh diri.

 

Diagnosis Psikosis

Diagnosis dari psikosis ditegakkan melalui pemeriksaan status mental, kemudian dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang jika dicurigai gejala psikosis yang muncul diakibatkan suatu kelainan organik yang diidap oleh pengidap, misalnya dengan pemeriksaan CT scan atau MRI.

Baca juga: Inilah Bedanya Gejala Serangan Panik, Manik, dan Psikosis

 

Pengobatan Psikosis

Gejala psikosis dapat ditangani dengan pemberian obat-obatan dan terapi kognitif. Ketika pengidap mengalami serangan psikosis seperti sedang mengamuk, biasanya dokter memberikan penanganan utama dengan menginjeksikan obat penenang.

Obat anti psikosis diberikan kepada untuk dikonsumsi dengan tujuan mengontrol kondisi pengidap dan mencegah terjadinya serangan selanjutnya. Sementara itu, terapi kognitif ditujukan untuk melatih pola dan cara berpikir pengidap, cara ini dipercaya lebih efektif dibandingkan konsumsi obat semata.

 

Pencegahan Psikosis

Sampai saat ini belum ada pencegahan pasti yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya psikosis secara umum. Namun, beberapa cara yang dapat dilakukan sebagai upaya menghindari kondisi ini adalah dengan:

  • Menghindari alkohol dan NAPZA

  • Menghindari depresi. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan pergi berlibur, berbicara dengan konselor jika menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan suatu masalah.

Baca juga: Melihat yang Tidak Nyata Bisa Jadi Tanda Psikosis

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami gejala di atas, dianjurkan untuk menemui dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Referensi:
NHS. Diakses pada 2019. Psychosis.
Healthline. Diakses pada 2019. Psychosis.
Web MD. Diakses pada 2019. What is Psychosis?
Diperbarui pada 17 September 2019