Skizofrenia Paranoid

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Skizofrenia Paranoid

Skizofrenia paranoid adalah salah satu tipe skizofrenia ketika pengidapnya mengalami delusi bahwa orang lain ingin melawan dirinya atau anggota keluarganya. Sementara, paranoid adalah jenis skizofrenia dengan kasus yang paling sering terjadi. Umumnya, pengidap skizofrenia paranoid akan merasa bahwa dirinya lebih kuat, lebih hebat, dan bahkan memiliki pengaruh besar dari musuh-musuh khayalan mereka lewat halusinasi tidak nyata yang mereka alami.

Baca juga: Sering Halusinasi? Mungkin Idap Skizofrenia Paranoid

 

Faktor Risiko Skizofrenia Paranoid

Skizofrenia paranoid memiliki berbagai faktor yang dapat meningkatkan peluang seseorang untuk mengalaminya, antara lain:

  • Infeksi virus dan malnutrisi pada janin.

  • Usia ketika mengandung.

  • Stres pada usia muda.

  • Rasa trauma saat masih anak-anak.

  • Adanya penyalahgunaan obat-obatan.

 

Penyebab Skizofrenia Paranoid

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kebanyakan jenis skizofrenia paranoid disebabkan oleh terjadinya disfungsi pada otak yang terjadi karena faktor keturunan dan lingkungan. Sedangkan pemicunya sendiri adalah stres dan trauma. Selain itu, stres pada usia muda, penyalahgunaan obat-obatan  tertentu dan obat-obatan terlarang (narkoba) dapat menjadi salah satu penyebab dan faktor risiko skizofrenia paranoid bisa terjadi. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, aspek psikologis berperan sangat penting dalam memicu timbulnya skizofrenia paranoid pada seseorang.

Selain stres di usia muda, rasa trauma pada masa anak-anak juga dapat memicu skizofrenia paranoid. Rasa trauma tersebut dapat terjadi karena beragam hal, misalnya menerima perlakuan yang tidak menyenangkan secara fisik maupun verbal ketika masih kecil, atau melihat kejadian yang sulit untuk dilupakan dan menciptakan ketakutan tersendiri sampai menginjak usia dewasa.

 

Gejala Skizofrenia Paranoid

Gejala utama bagi pengidap skizofrenia paranoid, yaitu:

  • Delusi paranoid yang rutin dan stabil.

  • Merasa dirinya lebih hebat dari kenyataan.

  • Halusinasi suara.

  • Rasa cemas, curiga dan suka menyendiri.

  • Mengalami perasaan cemburu tidak realistis.

  • Mempunyai gangguan persepsi.

Pengidap skizofrenia paranoid juga mempunyai gejala ringan selain dari gejala utama yang timbul, antara lain:

  • Terobsesi dengan keadaan sekarat atau kekerasan.

  • Suasana hati yang tidak stabil.

  • Berubah pola tidur dan makan.

  • Meningkatnya konsumsi minuman keras atau obat-obatan.

  • Mengucapkan salam perpisahan yang tidak biasa.

  • Membagikan barang pribadi pada orang terdekat.

Baca juga: Penjelasan Stres dan Trauma Dapat Menjadi Penyebab Skizofrenia Paranoid

 

Diagnosis Skizofrenia Paranoid

Diagnosis terhadap skizofrenia paranoid dapat dilakukan melalui berbagai pemeriksaan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pemeriksaan dan evaluasi terhadap gejala yang muncul agar dokter tidak salah mendiagnosis atau tertukar dengan gangguan kejiwaan lainnya. Pemeriksaan atau diagnosis terhadap skizofrenia paranoid dilakukan melalui pemeriksaan darah, pemeriksaan riwayat keluarga atau keturunan, proyeksi atau pencitraan otak dan saraf atau neuroimaging test menggunakan pemeriksaan MRI. Selain itu, terdapat pemeriksaan lewat hasil tes dan evaluasi dari psikiater juga harus dilakukan.

Seseorang dapat didiagnosa skizofrenia paranoid jika sudah mengalami dua gejala utama selama satu bulan atau lebih. Terutama jika gejala utama yang dirasakan tersebut sudah menghambat aktivitas sehari-hari orang tersebut.

 

Pengobatan Skizofrenia Paranoid

Pengidap skizofrenia paranoid dapat ditangani atau diobati dengan berbagai cara, antara lain:

  • Perawatan di rumah sakit jiwa.

  • Terapi elektrokonvulsif.

  • Pelatihan keterampilan dan bersosialisasi.

  • Pemberian obat-obatan.

 

Pencegahan Skizofrenia Paranoid

Sampai saat ini, langkah untuk mencegah skizofrenia paranoid belum ditemukan. Namun, menghindari faktor risiko yang dapat memicu munculnya skizofrenia paranoid dapat dilakukan. Pencegahan terhadap faktor risiko tersebut dapat dilakukan dengan berbagai hal, antara lain:

Memperhatikan kesehatan janin

Hal ini dilakukan agar janin tidak terinfeksi virus. Selain itu, kebutuhan gizi ibu dan janin harus diperhatikan, agar malnutrisi pada kandungan tidak terjadi. Hal ini tentu saja karena malnutrisi pada janin dapat meningkatkan risiko munculnya skizofrenia paranoid pada anak yang berada dalam kandungan.

Menjaga kesehatan pikiran

Stres pada usia muda dapat menjadi pemicu dan juga faktor yang meningkatkan risiko seseorang dapat mengalami skizofrenia paranoid. Untuk itu, menjaga kesehatan pikiran harus dilakukan dengan menghindari aktivitas yang menimbulkan stres untuk sementara waktu, melakukan kegiatan yang positif dan produktif, liburan, serta menceritakan masalah yang sedang dihadapi kepada orang-orang terdekat atau psikolog.

Menghindari penggunaan obat-obatan tertentu

Beberapa kandungan dalam obat-obatan tertentu dapat menjadi pemicu dan meningkatkan faktor risiko seseorang dapat mengalami skizofrenia paranoid. Selain itu, penggunaan obat-obatan terlarang juga harus dihindari karena narkoba juga dapat meningkatkan risiko tersebut. Untuk itu, tanyakan kepada dokter saat berobat dan diberikan resep obat, apakah kandungan obat-obatan tersebut berbahaya bagi fungsi otak dan saraf.

Baca juga: Jenis Terapi untuk Atasi Skizofrenia Paranoid

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu mengalami tanda dan gejala di atas, segera periksakan diri dokter untuk mendapat penanganan yang tepat. 

Referensi:

Healthline Diakses pada 2019. What Is Paranoid Schizophrenia?

Diperbarui pada 23 September 2019