• Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Stunting
  • Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Stunting

Stunting

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
StuntingStunting

Pengertian Stunting

Stunting adalah keterlambatan pertumbuhan pada anak sehingga ia terlihat lebih pendek ketimbang anak lain seusianya. Terhambatnya pertumbuhan ini dipicu oleh kekurangan gizi pada anak dan ibu saat hamil.

Penyebab Stunting

Adapun dua penyebab utama stunting pada anak, meliputi:

1. Ibu Hamil Kekurangan Asupan Gizi

Melansir dari WHO, sekitar 20 persen stunting sudah terjadi saat bayi berada dalam kandungan. Pemicunya adalah asupan gizi yang tidak memadai. Akibatnya, pertumbuhan janin menjadi terhambat.

2. Gizi Anak yang Tidak Terpenuhi

Anak perlu mendapatkan nutrisi yang cukup pada 2 tahun pertama kehidupannya. Sebab, kurangnya asupan nutrisi seperti protein, zinc (seng) dan zat besi menjadi faktor utama penyebab terhambatnya pertumbuhan fisik anak.

Tidak tercukupinya kebutuhan nutrisi anak biasanya disebabkan oleh posisi menyusui yang tidak tepat, tidak mendapatkan ASI eksklusif hingga makanan pendamping ASI yang kurang berkualitas.

Faktor Risiko Stunting

Adapun beberapa kondisi orang tua yang meningkatkan risiko stunting pada anak, termasuk:

  • Intrauterine growth restriction (IUGR), yaitu terhambatnya pertumbuhan janin di dalam kandungan akibat kekurangan nutrisi dalam jangka panjang.
  • Orang tua memiliki perawakan pendek.
  • Berat badan stagnan selama kehamilan.
  • Orang tua memiliki tingkat pendidikan rendah.
  • Memberikan makanan pendamping ASI yang tidak berkualitas.
  • Orang tua memiliki tingkat ekonomi rendah atau miskin.
  • Tinggal di lingkungan dengan akses air bersih yang sulit didapatkan.

Sementara pada anak, risikonya semakin tinggi jika:

  • Ditelantarkan oleh orang tua.
  • Tidak mendapatkan ASI eksklusif.
  • Pengidap penyakit TBC, anemia dan penyakit jantung bawaan.

Gejala Stunting

Gejala umum ditandai dengan postur tubuh pendek dan jauh berbeda dengan anak seusianya. Beberapa gejala lainnya, termasuk:

  • Berat badan anak lebih rendah ketimbang anak seusianya.
  • Pertumbuhan tulang terhambat, sehingga tulang tampak lebih pendek.
  • Mudah terpapar penyakit.
  • Mengalami gangguan belajar, seperti kurang fokus atau nilai yang rendah.
  • Mengalami gangguan tumbuh kembang, terutama dalam fisik.

Jika anak mengidap penyakit kronis (penyakit TBC, anemia dan penyakit jantung bawaan), gejala stunting bisa terlihat dari:

  • Fisik yang kurang aktif bergerak.
  • Mengalami batuk kronis, demam dan keringat berlebih di malam hari.
  • Sianosis, yaitu tubuh anak berubah warna jadi kebiruan ketika menangis.
  • Sering lemas dan tampak tak bertenaga.
  • Sesak napas.
  • Clubbing finger, yaitu ujung jari atau kuku berbentuk seperti bagian belakang sendok (melebar dan menekuk).
  • Bayi enggan disusui.

Diagnosis Stunting

Pertama-tama, pemeriksaan dilakukan dengan tanya jawab seputar makanan yang diberikan pada anak, riwayat pemberian ASI, riwayat kehamilan dan persalinan, serta lingkungan tempat tinggal.

Kemudian, pemeriksaan fisik dilakukan guna melihat tanda-tanda stunting pada anak. Prosedurnya dilakukan dengan mengukur berat dan tinggi badan, lingkar kepala, serta lingkar lengan.

Jika tinggi badan berada di bawah garis merah kurva pertumbuhan yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ini bisa mengindikasikan adanya stunting.

Namun, pemeriksaan tersebut perlu dilakukan beberapa kali guna memastikan diagnosis. Selanjutnya, pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan, meliputi:

  • Tes darah. Ini dilakukan guna mendeteksi gangguan kesehatan, seperti TBC, infeksi kronis atau anemia
  • Tes urine. Ini dilakukan guna mendeteksi sel darah putih di dalam urine yang menjadi tanda infeksi.
  • Pemeriksaan feses. Ini dilakukan guna memeriksa infeksi parasit atau intoleransi laktosa.
  • Ekokardiografi atau USG jantung. Ini dilakukan guna mendeteksi penyakit jantung bawaan pada bayi.
  • Foto Rontgen dada. Ini dilakukan guna melihat kondisi jantung dan paru-paru.
  • Tes Mantoux. Ini dilakukan guna mendiagnosis penyakit TBC yang bisa menyebabkan stunting pada anak.

Pengobatan Stunting

Pengobatan dilakukan berdasarkan penyebab yang mendasari. Beberapa tindakan tersebut, termasuk:

  • Pemberian obat-obatan antituberkulosis jika anak mengidap TBC.
  • Pemberian nutrisi tambahan, termasuk protein hewani, lemak dan kalori.
  • Pemberian suplemen, termasuk vitamin A, zinc, zat besi, kalsium dan yodium
  • Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Pencegahan Stunting

Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terhambatnya pertumbuhan anak, termasuk:

  • Pemantauan kesehatan pada 1.000 hari pertama kehidupan bayi.
  • Pemeriksaan kehamilan secara berkala.
  • Melakukan proses persalinan di fasilitas kesehatan.
  • Mengonsumsi makanan tinggi kalori, protein dan mikronutrien selama kehamilan.
  • Melakukan pemeriksaan guna mendeteksi penyakit.
  • Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan penuh di awal kehidupannya.
  • Memantau pertumbuhan dan perkembangan balita.
  • Menstimulasi perkembangan anak sejak dini.

Komplikasi Stunting

Stunting yang tidak segera ditangani memicu munculnya beberapa kondisi, seperti:

  • Gangguan perkembangan otak.
  • Penyakit metabolik, seperti obesitas dan diabetes.
  • Anak rentan mengalami penyakit dan infeksi.

Kapan Harus ke Dokter?

Disarankan untuk segera memeriksakan anak jika tinggi badannya tampak lebih pendek ketimbang anak seusianya. Bagi anak di bawah 2 tahun, pemeriksaan harus dilakukan 1 hingga 2 bulan sekali. Sementara anak di atas 2tahun, pemeriksaan bisa dilakukan 1 tahun sekali.

Selain memeriksakan diri, ibu juga bisa menunjang kesehatan anak dengan memberikan suplemen yang dibutuhkan tubuh. Download Halodoc segera dan cek kebutuhan suplemen di Toko Kesehatan pada aplikasi tersebut, ya! 

Referensi:
World Health Organization. Diakses pada 2022. Stunting in a nutshell.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Diakses pada 2022. Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2022. Cegah Stunting dengan Perbaikan Pola Makan, Pola Asuh dan Sanitasi.