24 October 2018

Lanjut Usia, Waspada Stenosis Spinal Mengincar

Halodoc, Jakarta – Stenosis spinal adalah penyakit yang ditandai dengan penyempitan ruas tulang belakang sehingga menimbulkan tekanan pada saraf tulang belakang. Penyakit ini biasanya terjadi di punggung bawah atau leher dan rentan terjadi pada orang berusia lanjut, yaitu 50 tahun ke atas. Faktor lain yang membuat seseorang rentan mengidap stenosis spinal adalah cedera tulang belakang, tumor, penyakit paget, skoliosis, dan kelainan tulang belakang sejak lahir.

Komplikasi yang mungkin terjadi akibat stenosis spinal adalah mati rasa, gangguan keseimbangan, inkontinensia urine (sulit mengendalikan urine yang keluar), hingga kelumpuhan.

Apa Tanda dan Gejala Stenosis Spinal?

Gejala stenosis spinal muncul secara bertahap serta dibedakan berdasarkan lokasi stenosis dan bagian saraf yang terinfeksi. Berikut ini tanda dan gejala stenosis spinal yang perlu diwaspadai:

  • Stenosis leher (cervical stenosis), yaitu penyempitan yang terjadi di tulang belakang leher. Gejala yang muncul berupa kesemutan (terutama pada bagian tangan, lengan, kaki dan telapak kaki), sakit leher, gangguan keseimbangan dan berjalan, serta gangguan fungsi usus atau kandung kemih.
  • Stenosis lumbar (lumbar stenosis), yaitu penyempitan yang terjadi di tulang belakang bagian punggung bawah. Gejala yang muncul berupa kesemutan (terutama pada bagian tungkai dan kaki), nyeri punggung bawah, serta kram pada salah satu atau kedua tungkai saat berdiri lama dan berjalan.

Bagaimana Diagnosis dan Pengobatan Stenosis Spinal?

Diagnosis stenosis spinal diawali dengan pemeriksaan riwayat kesehatan. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa saraf terhadap kekuatan motorik dan sensorik, serta melakukan pemeriksaan lanjutan berupa tes pencitraan (seperti rontgen, MRI dan CT scan) untuk menentukan penyebab gejala dan tanda yang muncul.

Setelah diagnosis ditetapkan, pengobatan stenosis spinal disesuaikan dengan lokasi dan tingkat keparahan gejala yang muncul. Pengobatan yang diberikan biasanya berupa:

  • Konsumsi obat-obatan untuk meredakan nyeri seperti obat antikonvulsan, antidepresan, opioid, dan obat pereda nyeri lainnya.
  • Fisioterapi untuk mengurangi rasa sakit, meningkatkan daya tahan dan kekuatan tubuh, mempertahankan fleksibilitas dan stabilitas tulang belakang, serta meningkatkan keseimbangan tubuh.
  • Suntikan kortikosteroid untuk mengurangi peradangan saraf yang terjepit dan meredakan nyeri. Tindakan ini tidak boleh terlalu sering dilakukan karena bisa melemahkan tulang dan jaringan penghubung di area injeksi.
  • Operasi untuk menghilangkan tekanan pada saraf tulang belakang secara permanen. Jenis prosedur operasi stenosis spinal adalah operasi dekompresi (laminektomi) dan laminoplasty. Tindakan ini dilakukan jika metode pengobatan lain tidak efektif.

Upaya pemulihan yang bisa dilakukan di rumah adalah menggunakan kompres hangat atau es, menjaga berat badan tetap ideal, rutin berolahraga, dan menggunakan tongkat atau alat bantu jalan.

Apakah Stenosis Spinal Bisa Dicegah?

Stenosis spinal bisa dicegah, salah satu caranya dengan melindungi tulang belakang, terutama saat beraktivitas dan berolahraga rutin. Tindakan ini bertujuan mencegah terjadinya cedera tulang belakang yang menyebabkan stenosis spinal.

Itulah fakta tentang stenosis spinal yang rentan terjadi pada lansia. Kalau kamu punya pertanyaan seputar stenosis spinal, jangan ragu bertanya pada dokter Halodoc. Kamu bisa menghubungi dokter Halodoc kapan saja dan di mana saja melalui fitur Contact Doctor via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!

Baca Juga: