Pernah Alami Endometriosis, Apakah Dampaknya saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Pernah Alami Endometriosis, Apakah Dampaknya saat Hamil?

Halodoc, Jakarta - Penantian panjang akan kehadiran sang buah hati dalam rumah tangga kecil selebriti Chacha Frederica akhirnya membuahkan hasil. Setelah menunggu hingga 4 tahun, kini Chacha dikabarkan tengah mengandung anak pertamanya dengan usia kehamilan menginjak 7 bulan. Sudah pasti, kebahagiaan tidak bisa lagi dijelaskan dengan kata-kata.

Namun, Chacha mengungkapkan bahwa sebelum dinyatakan hamil, ia mengaku memiliki riwayat endometriosis, kondisi ketika terdapat jaringan yang bertumbuh di bagian luar rahim. Endometriosis bisa mengakibatkan wanita merasakan nyeri yang begitu parah ketika menstruasi. Bahkan, rasa nyeri dapat muncul ketika atau setelah melakukan hubungan intim.

Apa Dampak Endometriosis pada Kehamilan?

Adanya jaringan yang bertumbuh secara tidak normal ini bisa mengakibatkan banyak masalah. Ini termasuk penyumbatan pada saluran indung telur, pelekatan usus dan kandung kemih melekat, adenomiosis atau pembengkakan pada rahim, dan kista ovarium apabila jaringan menempel pada bagian indung telur. Sayangnya, masalah reproduksi ini berdampak pada sulitnya wanita untuk mendapatkan kehamilan alias berdampak pada tingkat kesuburan. 

Baca juga: Waspada 4 Nyeri & Kram Menstruasi Tanda Endometriosis

Sebenarnya, gejala endometriosis sudah bisa dirasakan sejak masa pubertas. Rasa nyeri yang berlebihan ketika menstruasi sudah seharusnya tidak kamu abaikan, karena kondisi ini bisa mengacu pada banyak hal. Jadi, segera lakukan pemeriksaan ketika kamu merasa nyeri haid yang tidak wajar setiap kali tamu bulanan ini datang. Sekarang periksa ke rumah sakit tidak susah kok, kamu bisa pakai aplikasi Halodoc agar lebih mudah untuk membuat janji dengan dokter. 

Melakukan pengecekan sebelum menjalani program hamil pun tidak ada salahnya dilakukan, seperti misalnya prosedur laparoskopi untuk mengecek kondisi kesehatan rahim tanpa perlu melakukan prosedur pembedahan. Namun, bukan berarti prosedur ini bisa menjamin kamu akan mengalami kehamilan setelahnya. Fungsinya hanyalah mengecek kondisi rahim, jadi rahim bisa dipastikan sehat sebelum kamu menjalani program hamil

Baca juga: Bagi Para Wanita, Simak 4 Cara Meningkatkan Kesuburan Ini

Pasalnya, bahaya endometriosis sungguh tidak boleh dianggap sepele. Ketika jaringan abnormal ini bertumbuh di bagian tuba falopi, sperma tidak dapat melakukan pembuahan karena tertutup oleh jaringan tersebut.

Ketika terjadi pertumbuhan pada area sekitar indung telur, bagian ini akan terhambat untuk memroduksi sel telur. Inilah yang menjadikan wanita kesulitan hamil dan mengalami ketidaksuburan. 

Lalu, Masih Bisakah untuk Hamil?

Tentu masih bisa, asal tetap dilakukan pemeriksaan dan penanganan pada endometrium sebelum menjalani program kehamilan. Jika tidak bisa dilakukan secara alami, kehamilan juga bisa didapat melalui program bayi tabung. Namun, selain pengobatan, jangan lupa juga untuk menerapkan pola hidup yang sehat untuk meningkatkan besarnya peluang kehamilan. 

Pastikan kamu tetap menjaga asupan nutrisi dengan mengonsumsi makanan bergizi dan kaya kandungan asam folat. Jangan lupa juga untuk menjaga berat badan tetap ideal agar tidak mengalami obesitas ketika hamil, karena risiko dan komplikasi kehamilan pun sangat tinggi untuk wanita dengan kondisi obesitas. Kamu bisa memaksimalkan dengan rutin berolahraga, ya, serta hindari semua kebiasaan buruk seperti merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, hingga begadang. 

Baca juga: Ingin Program Hamil Sukses? Ajak Pasangan Melakukan Ini

Setiap wanita memiliki peluang kehamilannya masing-masing, termasuk pada pengidap endometrium. Kamu hanya perlu mengupayakan dengan melakukan pengecekan rutin, pengobatan, dan bantu dengan pola hidup dan pola makan yang sehat. Lakukan juga pemeriksaan dini agar kondisi abnormal bisa segera ditangani. 

Referensi: 
Patient. Diakses pada 2020. Endometriosis.
Healthline. Diakses pada 2020. Endometriosis.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Endometriosis.