Waspada, Penyakit Tuberkulosis Dapat Sebabkan Limfadenitis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
waspada-penyakit-tuberkulosis-dapat-sebabkan-limfadenitis-halodoc

Halodoc, Jakarta – Meski terkenal sebagai penyakit paru-paru, nyatanya tuberkulosis alias TBC tidak hanya menyerang organ tersebut. Penyakit yang satu ini juga bisa terjadi di area tubuh lain, termasuk di kelenjar getah bening. Itu yang kemudian menyebabkan TBC disebut bisa menjadi penyebab limfadenitis alias pembengkakan kelenjar getah bening.

Pada dasarnya, penyakit TBC memang paling banyak menyerang paru-paru. Tapi, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, ini juga dapat menyerang bagian tubuh lain dan disebut dengan TB extrapulmonary atau TB di luar paru. Kondisi ini bisa menyerang selaput otak, tulang, ginjal, rongga perut, kelenjar getah bening, saluran kencing, atau bagian tubuh lainnya termasuk kulit dan pleura.

Baca juga: Ketahui 4 Pengobatan Penyakit Limfadenitis

Salah satu jenis TB di luar paru yang cukup sering terjadi adalah limfadenitis tuberkulosis atau TBC kelenjar. Kondisi ini bisa terjadi di berbagai area tubuh, seperti kelenjar getah bening, pada ketiak, serta di lipatan paha. Penyakit TBC kelenjar yang paling banyak ditemukan adalah infeksi yang terjadi pada leher, dan disebut skrofula. Penyakit ini merupakan infeksi TB pada kelenjar getah bening di leher yang umumnya ditularkan saat seseorang menghirup udara yang terkontaminasi virus penyebab TBC.

Setelah terhirup, virus tersebut akan berpindah dari paru-paru untuk mulai menjangkiti bagian tubuh lainnya. Virus ini dapat berpindah dari paru-paru ke kelenjar getah bening terdekat, termasuk kelenjar getah bening di leher. Kondisi ini dapat menyerang orang dewasa, lansia, maupun anak-anak, terutama yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah.

Gejala khas dari kondisi ini adalah munculnya benjolan pada bagian leher atau kepala. Biasanya, benjolan ini akan semakin membesar seiring berjalannya waktu, meski tidak menimbulkan nyeri yang berarti. Gejala lain juga sering muncul, seperti penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, tubuh terasa tidak nyaman, demam, dan berkeringat di malam hari.

Baca juga: Batuk Berdarah Bisa Jadi Tanda Penyakit Kronis?

Mendeteksi Tuberkulosis Kelenjar

Saat merasa memiliki gejala TBC kelenjar dan muncul benjolan di leher, segera lakukan pemeriksaan ke dokter. Tujuannya untuk mengetahui apakah benjolan yang muncul merupakan tanda TBC atau penyakit lain. Diagnosis penyakit ini biasanya dilakukan melalui pemeriksaan fisik dan penelusuran riwayat penyakit oleh dokter.

Setelah itu, mungkin akan dibutuhkan pemeriksaan penunjang berupa bispo alias pengambilan sampel jaringan dari benjolan. Salah satu prosedurnya adalah melalui biopsi aspirasi dengan jarum halus. Seluruh pemeriksaan ini harus dilakukan oleh dokter yang memang ahli di bidangnya.

Selanjutnya, proses diagnosis dilanjutkan dengan bantuan pemeriksaan tambahan lainnya. Secara umum, rangkaian pemeriksaan yang dibutuhkan meliputi rontgen dada, CT scan pada leher, tes darah, dan pemeriksaan biakan kuman TB. Pemeriksaan untuk mendeteksi HIV juga mungkin diperlukan.

Setelah terdiagnosis, dokter akan meresepkan obat dan terapi yang dibutuhkan. Tidak perlu khawatir, dengan pengobatan yang tepat, TBC kelenjar dapat pulih sepenuhnya. Meski tidak menutup kemungkinan risiko munculnya komplikasi pada penyakit ini. komplikasi yang sering muncul adalah munculnya jaringan parut dan luka yang mengering pada leher. Komplikasi ini dapat disebabkan oleh terbentuknya fistula dan nanah.

Baca juga: 4 Langkah Mencegah Tuberkulosis

Cari tahu lebih lanjut seputar TBC kelenjar alias limfadenitis dengan bertanya ke dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!