• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Anak Alami Hidrosefalus, Apakah Berbahaya?

Anak Alami Hidrosefalus, Apakah Berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Hidrosefalus merupakan penyakit yang umum terjadi pada bayi dan anak-anak, yang ditandai dengan adanya penumpukan cairan di rongga otak. Akhirnya, terjadi peningkatan tekanan pada otak yang membuat ukuran kepala menjadi membesar. Tak hanya anak kecil, orang dewasa pun bisa mengalaminya, dengan gejala yang timbul berupa sakit kepala parah. 

Hidrosefalus terjadi karena otak memproduksi cairan secara berlebihan dan terus-menerus. Ketika tempat untuk menampung otak tidak mumpuni, cairan ini akan diserap oleh pembuluh darah. Sebenarnya, cairan yang diproduksi oleh otak memiliki beberapa fungsi penting, di antaranya:

  • Melindungi otak dari cedera.

  • Membuang limbah sisa metabolisme otak.

  • Menjaga tekanan pada otak.

Ketika otak memproduksi cairan secara berlebihan dan terus-menerus, otomatis akan terjadi penyerapan cairan otak yang tidak seimbang. Saat itulah hidrosefalus pun terjadi. Berikut bahaya hidrosefalus dan langkah pencegahan yang dapat dilakukan.

Baca juga: Ketahui Berbagai Faktor Risiko Hidrosefalus Sejak Dini

Apakah Berbahaya Jika Anak Alami Hidrosefalus?

Bahaya hidrosefalus bukanlah hal yang dapat disepelekan begitu saja. Pasalnya, penyakit ini terjadi pada salah satu organ otak yang memiliki fungsi penting dalam tubuh. Ketika hidrosefalus terjadi pada anak, ini yang terjadi pada kepala mereka:

  • Adanya penyumbatan aliran cairan pada otak.

  • Adanya ketidakseimbangan antara produksi dan penyerapan cairan pada otak.

  • Adanya cedera dalam otak yang memengaruhi penyerapan cairan dalam otak.

Berbeda dengan anak-anak, hidrosefalus yang terjadi setelah proses persalinan atau beberapa saat setelah lahirnya bayi memiliki kondisi seperti berikut ini:

  • Ketika bayi dilahirkan secara prematur, mereka akan mengalami pendarahan dalam otak.

  • Ketika bayi dilahirkan dengan perkembangan otak dan tulang belakang yang tidak normal, mereka akan mengalami penyumbatan aliran cairan pada otak.

  • Ketika ibu hamil mengalami infeksi sifilis atau rubella saat masa kehamilan, Si Kecil akan memiliki faktor risiko yang lebih tinggi untuk mengalami hidrosefalus saat lahir nanti.

Jika Si Kecil atau ibu yang tengah mengandung memiliki sejumlah faktor risikonya, segera temui dokter di rumah sakit terdekat dengan terlebih dulu membuat janji melalui aplikasi Halodoc. Penanganan yang tepat dibutuhkan guna mengembalikan dan menjaga kadar cairan dalam otak.

Baca juga: Terserang Hidrosefalus, Bisakah Disembuhkan?

Gejala yang Tampak pada Anak Pengidap Hidrosefalus

Ketika hidrosefalus terjadi pada bayi, gejala umum yang muncul akan ditandai dengan ukuran lingkar kepala yang besar dan terlihat tidak normal. Tak hanya itu, gejala akan ditandai dengan:

  • Adanya benjolan lunak di bagian atas kepala.

  • Terjadi perubahan yang cepat pada ukuran lingkar kepala.

  • Mata terlihat selalu memandang ke bawah.

  • Anak menjadi mudah rewel dan mudah mengantuk.

  • Anak menolak untuk makan.

  • Anak mengalami kelemahan pada otot.

  • Pertumbuhan anak yang terhambat.

Berbeda dengan bayi, gejala hidrosefalus pada anak-anak akan meliputi:

  • Rewel dan menangis karena sakit kepala.

  • Mengalami penglihatan kabur, bahkan mata juling.

  • Mengalami perubahan struktur wajah.

  • Menjadi mudah mengantuk.

  • Susah untuk makan.

  • Kehilangan koordinasi gerak tubuh.

  • Kehilangan keseimbangan tubuh.

  • Menjadi mudah marah.

  • Kehilangan kemampuan kognitif.

  • Kehilangan konsentrasi.

  • Mual dan muntah.

  • Kejang-kejang.

Hidrosefalus akan menyebabkan gangguan pada perkembangan fisik dan intelektual pada anak, jika gejala-gejala yang muncul tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat. Sejauh ini, belum ada langkah pencegahan yang efektif dalam mengatasi hidrosefalus. 

Baca juga: Hidrosefalus Bisakah Ukuran Kepala Menjadi Normal? 

Satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah mendapatkan perawatan yang sesuai dan tepat selama masa kehamilan. Dengan melakukan pemeriksaan rutin saat masa kehamilan, hal ini akan membantu dokter untuk mendeteksi adanya kelainan pada janin. Tak hanya itu, pemeriksaan rutin juga bertujuan untuk menurunkan risiko terjadinya kelahiran prematur di kemudian hari yang bisa menjadi faktor pemicu dari hidrosefalus.

Referensi:
NHS. Diakses pada 2019. Hydrocephalus.
AANS. Diakses pada 2019. What Is Hydrocephalus?