
11 Jenis Anjing Lucu dan Menggemaskan yang Bisa Dipelihara
Ada beragam jenis anjing lucu yang bisa dipelihara, mulai dari Pomeranian, Corgi, Chihuahua, hingga Border Collie.

DAFTAR ISI
- Memilih Jenis Anjing Lucu yang Aman untuk Dipelihara
- Tips Aman Memelihara Anjing di Rumah
- Kapan Harus ke Dokter?
- Studi Terkait
- Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?
- Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?
- FAQ
Jenis anjing lucu dan menggemaskan memang menarik untuk dipelihara, mulai dari anjing kecil berbulu lebat hingga anjing besar yang setia. Namun, sebelum memilih, kamu juga perlu memahami sisi kesehatannya, seperti risiko alergi, penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia, dan pentingnya vaksin rabies.
Memelihara anjing bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi seluruh keluarga. Agar tetap aman, pilih anjing yang sesuai dengan gaya hidup dan kondisi rumahmu, lalu rawat kesehatannya secara rutin bersama dokter hewan.
Memilih Jenis Anjing Lucu yang Aman untuk Dipelihara
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyarankan kamu memilih anjing yang cocok dengan gaya hidup dan lingkungan rumah keluarga. Pilih anjing yang tampak aktif, waspada, suka bermain, dan memiliki bulu yang sehat. Sebelum mengadopsi, diskusikan dengan dokter hewan tentang jenis anjing dan kebutuhan perawatannya.
Setiap jenis anjing punya karakter dan kebutuhan berbeda. Misalnya, American Kennel Club (AKC) menggambarkan Beagle sebagai anjing pemburu yang setia dan periang, sedangkan Bernese Mountain Dog berukuran besar, kuat, dan cocok untuk bekerja keras. Anjing besar tentu membutuhkan ruang dan aktivitas fisik yang lebih banyak dibanding anjing kecil.
Adakah Anjing yang Aman untuk Penderita Alergi?
Banyak orang mengira jenis anjing tertentu, seperti Poodle atau Bichon Frise, bebas alergen. Faktanya, American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (AAAAI) menyebutkan tidak ada anjing yang benar-benar bebas alergen. Alergi anjing dipicu oleh protein di air liur, serpihan kulit (dander), urine, dan minyak kulit anjing, bukan hanya bulunya.
AAAAI juga menjelaskan bahwa memandikan anjing hanya menurunkan alergen sementara karena kadarnya kembali seperti semula dalam dua hingga tiga hari. Jadi, jika kamu atau anggota keluarga punya alergi atau asma, konsultasikan dulu dengan dokter sebelum memelihara anjing.
Penyakit yang Bisa Menular dari Anjing
CDC mencatat anjing dapat menularkan sejumlah penyakit ke manusia, seperti rabies, kurap (ringworm), infeksi Salmonella dan Campylobacter, giardia, leptospirosis, serta infeksi cacing tambang dan cacing gelang. Anjing yang terlihat sehat pun tetap bisa membawa kuman.
Di Indonesia, rabies menjadi perhatian utama. Menurut Kementerian Kesehatan RI, sekitar 98 persen kasus rabies di Indonesia ditularkan oleh anjing, sedangkan sisanya oleh kucing dan kera. Rabies adalah infeksi virus pada sistem saraf pusat dengan tingkat kematian yang sangat tinggi, sehingga vaksinasi hewan peliharaan secara rutin sangat penting.
Tips Aman Memelihara Anjing di Rumah
- Berikan vaksin rabies pada anjing secara rutin dan periksakan kesehatannya ke dokter hewan secara berkala.
- Cuci tangan setelah memegang anjing, tempat makan dan minumnya, atau perlengkapannya.
- Bersihkan kotoran anjing segera dan bersihkan area yang terkena urine, feses, atau muntahan.
- Selalu awasi anak kecil saat bermain dengan anjing, termasuk anjing peliharaan sendiri, dan ajari anak untuk tidak mengganggu anjing yang sedang makan, tidur, atau menyusui.
- Gunakan tali atau berangus saat membawa anjing ke luar rumah sesuai anjuran Kemenkes RI.
- Jika tergigit atau tercakar, segera cuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit, beri antiseptik, lalu pergi ke fasilitas kesehatan.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera ke puskesmas atau rumah sakit jika kamu digigit atau dicakar anjing, terutama bila status vaksin rabies anjing tidak diketahui, anjing tampak sakit, atau kamu tinggal di daerah dengan kasus rabies. Kemenkes RI mengingatkan bahwa menunggu gejala muncul setelah gigitan hewan sangat berbahaya. Periksakan diri juga jika muncul gejala alergi seperti bersin, mata gatal, atau sesak napas setelah berinteraksi dengan anjing.
Konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam untuk mendapatkan arahan awal setelah gigitan hewan atau saat mengalami gejala alergi.
Studi Terkait
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa penanganan setelah gigitan hewan penular rabies meliputi pencucian luka dan pemberian profilaksis pascapajanan. Profilaksis ini dapat berupa suntikan imunoglobulin di area luka serta vaksin antirabies sesuai jadwal yang ditentukan tenaga kesehatan. Kemenkes juga menekankan pentingnya vaksinasi hewan sebagai upaya pencegahan rabies di masyarakat.
Sementara itu, studi yang dirangkum AAAAI menunjukkan tidak ada bukti konsisten bahwa jenis anjing yang disebut hipoalergenik menghasilkan alergen lebih sedikit. Kadar alergen di rumah dengan anjing “hipoalergenik” ternyata sebanding dengan rumah yang memelihara anjing jenis lain.
Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?
Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.
- ✅ Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis. Caranya cukup simpel dan mudah!
- ✅ Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
- ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah.
- ✅ Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
- ✅Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan.
- ✅ Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
- ✅ Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
- ✅ Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
- ✅ Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada.
- ✅ Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.
Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?
Gigitan atau cakaran anjing, meski terlihat kecil, perlu dinilai risikonya, terutama terkait rabies dan infeksi luka. Lewat chat dokter, kamu bisa mendapatkan arahan awal tentang perawatan luka dan kapan harus segera ke fasilitas kesehatan untuk vaksin antirabies. Dokter juga dapat membantu jika kamu mengalami gejala alergi terhadap hewan peliharaan.
Chat dengan dokter Halodoc kapan saja untuk mendapatkan saran kesehatan terkait hewan peliharaanmu.
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2026. Rabies.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2026. Lakukan Langkah Ini Untuk Mencegah Infeksi Akibat Gigitan Anabul.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2026. Rabies Bisa Dicegah dan Disembuhkan.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2026. Dogs | Healthy Pets, Healthy People.
American Academy of Allergy, Asthma & Immunology. Diakses pada 2026. Hypoallergenic Dogs and Dog Allergies: Myths and Facts.
FAQ
Apakah ada jenis anjing yang tidak memicu alergi?
Menurut AAAAI, tidak ada anjing yang benar-benar bebas alergen. Alergen anjing ada di air liur, serpihan kulit, urine, dan minyak kulit, sehingga penderita alergi sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum memelihara anjing.
Apakah anjing peliharaan perlu divaksin rabies?
Ya. Vaksinasi rutin pada anjing adalah salah satu cara utama mencegah rabies. Konsultasikan jadwal vaksinnya dengan dokter hewan.
Apa yang harus dilakukan jika digigit anjing?
Cuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit, beri antiseptik, lalu segera ke fasilitas kesehatan. Dokter akan menilai apakah kamu memerlukan vaksin antirabies.
Apakah anak kecil aman bermain dengan anjing?
Anak kecil boleh bermain dengan anjing asalkan selalu diawasi orang dewasa. CDC menyebutkan anak-anak lebih berisiko digigit dan mengalami cedera yang lebih parah dibanding orang dewasa.




