Angka TBC di Indonesia Naik, Kemenkes Fokus pada Deteksi Dini dan Pengobatan
TBC masih menjadi ancaman besar di Indonesia, dengan dua kematian setiap lima menit dan jumlah kasus tertinggi kedua di dunia.

DAFTAR ISI
- Menkes Sebut Kasus TBC Jadi Ancaman Serius di Indonesia
- Gejala dan Faktor Risiko TBC
- Deteksi Dini dan Pengobatan Tuntas Jadi Pilar Utama Pengendalian TBC
Kasus Tuberkulosis (TBC) di Indonesia kembali mendapat sorotan setelah Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan peningkatan angka infeksi dan kematian yang sangat mengkhawatirkan.
Dalam paparannya, Menkes menyebut bahwa Indonesia mencatat lebih dari satu juta kasus TBC setiap tahun, dengan kematian mencapai lebih dari 134 ribu orang.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat penting bahwa TBC masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, dan membutuhkan kewaspadaan serta penanganan yang lebih serius dan terarah.
Menkes Sebut Kasus TBC Jadi Ancaman Serius di Indonesia
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam perannya pada Minggu, 30 November 2025 kembali menegaskan bahwa, Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi masyarakat Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, TBC diperkirakan menyebabkan kematian hingga 134 ribu orang setiap tahun, angka yang menunjukkan beratnya beban penyakit ini di dalam negeri.
Menkes mengungkapkan, jumlah kasus TBC baru di Indonesia setiap tahun diestimasi mencapai sekitar 1,08 juta kasus, menjadikannya negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi kedua di dunia setelah India.
Dalam paparannya, ia menyebut bahwa jika jumlah kematian tersebut dihitung berdasarkan waktu, maka setiap lima menit ada dua warga Indonesia yang meninggal akibat TBC.
Perbandingan ini kembali menegaskan bahwa, meskipun pandemi COVID-19 telah mereda, TBC justru masih terus mengintai dan menyebabkan kematian dalam jumlah besar.
Menkes juga menyoroti kalau tingkat fatalitas TBC bahkan melebihi kasus COVID-19 yang terdeteksi saat pandemi.
Namun karena penyakit ini sudah lama beredar, banyak masyarakat yang cenderung menganggapnya biasa, sehingga kewaspadaan pun menurun.
Menurutnya, kondisi ini justru membuat TBC semakin sulit dikendalikan karena masyarakat kurang menyadari besarnya ancaman yang ditimbulkan.
Gejala dan Faktor Risiko TBC
TBC adalah penyakit infeksi yang menyerang paru-paru dan menular melalui udara.
Gejalanya bisa muncul bertahap dan sering kali disalahartikan sebagai infeksi saluran pernapasan biasa.
Beberapa keluhan yang perlu diwaspadai yaitu:
- Batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu, bisa disertai dahak atau darah.
- Demam berulang.
- Berat badan turun drastis tanpa sebab jelas.
- Keringat malam.
- Nafsu makan menurun.
- Nyeri dada atau sesak napas.
Kamu perlu tahu juga, Ini Alasan Pengidap TBC Lebih Mudah Terkena Virus
Setiap orang bisa tertular, namun ada kelompok tertentu yang memiliki risiko lebih tinggi, seperti:
- Orang dengan daya tahan tubuh lemah, termasuk pengidap HIV/AIDS, diabetes, atau pengguna obat imunosupresif.
- Bayi dan anak kecil yang sistem imunnya belum matang.
- Lansia yang mengalami penurunan fungsi imun.
- Perokok aktif maupun perokok pasif.
- Pengguna alkohol berlebihan.
- Mereka yang tinggal atau bepergian ke area dengan kasus TBC tinggi.
- Tenaga kesehatan yang rutin kontak dengan pasien.
- Individu yang tinggal satu rumah dengan pengidap TBC aktif.
Memahami gejala dan faktor risikonya penting agar masyarakat bisa lebih cepat sadar dan segera melakukan pemeriksaan.
Untuk mengatasi kondisi TBC, dokter akan memberikan obat-obatan untuk mengatasi penyebab dan gejala.
Simak rekomendasinya pada artikel berikut: Ini 5 Rekomendasi Obat TBC paling Ampuh di Apotek.
Deteksi Dini dan Pengobatan Tuntas Jadi Pilar Utama Pengendalian TBC
Tingginya angka kasus dan kematian membuat pemerintah menekankan pentingnya dua strategi utama dalam pengendalian TBC.
Strategi tersebut adalah menemukan kasus sedini mungkin dan memastikan setiap pasien menyelesaikan pengobatan hingga tuntas.
1. Mengatasi under reporting
Menkes menyoroti bahwa, salah satu tantangan terbesar adalah banyaknya kasus yang tidak terdeteksi. Situasi ini mirip dengan masa awal pandemi COVID-19 dimana banyak orang yang sakit, namun tidak tercatat dalam sistem.
Ketika tidak diobati, penderita berpotensi menularkan penyakit pada orang di sekitarnya.
Oleh karena itu, pemerintah menargetkan penemuan dan pengobatan satu juta kasus TBC pada 2025.
2. Akses skrining yang lebih cepat dan mudah
Kemenkes terus memperluas distribusi alat deteksi TBC generasi baru yang hasilnya lebih cepat dan akurat.
Pemeriksaan pun diperluas hingga komunitas melalui program seperti Desa Siaga TBC, agar masyarakat bisa menjalani skrining tanpa harus menunggu sampai gejala menjadi berat.
3. Mencegah pasien putus obat
Kebanyakan kasus TBC sensitif obat membutuhkan pengobatan sekitar 6 bulan, namun beberapa jenis TBC tertentu (misalnya TBC resisten obat atau TBC pada organ tertentu) bisa memerlukan waktu pengobatan lebih lama. Tantangan terbesar adalah pasien sering berhenti sebelum pengobatan selesai.
Menkes menegaskan pentingnya peran Pengawas Minum Obat (PMO) untuk memastikan pasien disiplin menjalankan terapi.
Jika tidak tuntas, risiko munculnya TBC Resisten Obat (TB RO) meningkat, yang membuat pengobatan jauh lebih sulit, lama, dan mahal.
Jika kamu mengalami batuk berkepanjangan atau memiliki kontak erat dengan pengidap TBC, segera periksakan diri.
Kamu juga bisa berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis paru melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan saran medis terpercaya seputar TBC atau keluhan kesehatan lainnya.
Jangan tunda pemeriksaan, karena semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang untuk sembuh.
Kamu bisa beli obat online atau produk kesehatan lainnya dengan praktis dan mudah di Apotek Online Halodoc.
Toko Kesehatan Halodoc Produknya 100% asli dan tepercaya. Tanpa perlu antre, obat bisa diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat dari lokasi kamu berada.
Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga dan dapatkan obat dari apotek 24 jam terdekat!


