• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Herpes Zoster

Herpes Zoster

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Herpes Zoster

Pengertian Herpes Zoster

Herpes zoster atau cacar api adalah infeksi pada saraf dan kulit di sekitarnya yang disebabkan oleh virus. Saat terjadi, penyakit ini dapat menyebabkan ruam yang menyakitkan. Penyakit ini paling sering muncul sebagai satu garis lepuh di sisi kiri atau kanan pada tubuh. 

Penyakit ini disebabkan oleh virus varisela zoster, yaitu virus yang sama dengan penyebab cacar air. Virus penyebab penyakit ini dapat menetap di sekitar tulang belakang atau dasar dari tulang tengkorak tubuh, bahkan setelah cacar air sembuh. Setelah bertahun-tahun kemudian, virus dapat kembali aktif sehingga menyebabkan herpes zoster. 

Perlu diketahui, herpes zoster tidak termasuk kondisi yang dapat mengancam nyawa, tetapi bisa menyakitkan saat sedang terjadi. Sebagai pencegahan, seseorang perlu mendapatkan vaksin. Perawatan dini juga perlu dilakukan untuk membantu dalam mempersingkat infeksi herpes zoster dan mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi.

Penyebab Herpes Zoster

Umumnya kebanyakan orang sudah terkena penyakit cacar air pada masa kanak-kanak. Virus varisela zoster yang menyebabkan cacar air ini dapat menetap di dasar tulang tengkorak atau tulang belakang. Sistem kekebalan tubuh membuat virus tidak aktif atau tertidur. Namun, di kemudian hari, saat cacar air sudah sembuh, virus tersebut dapat kembali aktif dalam hitungan tahun yang menyebabkan herpes zoster.

Penyebab aktifnya kembali virus varisela zoster hingga saat ini belum diketahui pasti. Namun, pada kebanyakan kasus yang terjadi, penyebab herpes zoster adalah sistem kekebalan tubuh yang menurun, sehingga tubuh rentan terkena infeksi. Perlu diketahui juga jika tidak semua orang yang pernah terserang cacar air akan mengalami gangguan ini.

 

Faktor Risiko Herpes Zoster

Seseorang yang pernah terserang cacar air dapat mengembangkan herpes zoster. Kebanyakan orang mengalami penyakit tersebut saat masih anak-anak. Gangguan ini rentan terjadi karena belum adanya vaksinasi rutin yang dapat melindungi cacar air. Nah, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena herpes zoster, antara lain:

  • Usia di atas 50 tahun, akibat sistem kekebalan tubuh menurun.
  • Stres fisik dan emosional, yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menurun.
  • Masalah sistem kekebalan tubuh, seperti pada pengidap HIV/AIDS, orang yang menjalani transplantasi organ tubuh, atau kemoterapi.
  • Sedang menjalani pengobatan kanker.
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu.

 

Gejala Herpes Zoster

Gejala dari penyakit akibat virus ini biasanya hanya memengaruhi sebagian kecil dari satu sisi tubuh. Beberapa gejala yang dapat ditimbulkan, antara lain:

  • Ruam yang timbul pada satu sisi tubuh sesuai dengan saraf yang terinfeksi.
  • Nyeri berupa rasa panas seperti terbakar atau tertusuk benda tajam pada ruam.
  • Ruam berupa luka melepuh berisi air yang gatal dan menyerupai bintil cacar air.
  • Lepuhan akan mengering dan berubah menjadi koreng dalam beberapa hari.
  • Gatal dan mati rasa pada bagian yang terdapat ruam.
  • Dapat disertai demam, nyeri kepala, sensitif terhadap cahaya, dan rasa lelah.
  • Gejala akan mereda setelah 14-28 hari.

Nyeri biasanya termasuk salah satu gejala awal dari herpes zoster. Beberapa orang yang mengalaminya dapat merasakan masalah ini menjadi intens. Penyakit ini juga bisa disalahartikan saat terjadi pada lokasi tertentu sebagai gejala dari gangguan yang memengaruhi jantung, paru-paru, atau ginjal. 

Diagnosis Herpes Zoster

Dokter umumnya dapat langsung mengidentifikasi herpes zoster saat melihat lokasi dan bentuk ruam. Selain itu, dokter juga akan mengajukan pertanyaan terkait riwayat kesehatan. Jika diagnosis masih belum dapat dipastikan, dokter akan mengambil sampel kulit ruam atau sampel cairan untuk dianalisis di laboratorium.

Herpes zoster dapat didiagnosis dengan cara melihat cara ruam didistribusikan di tubuh. Lepuhan ruam dari penyakit ini biasanya muncul secara bergerombolan pada satu sisi tubuh. Penyakit ini juga dapat didiagnosis di laboratorium menggunakan kerokan atau usapan cairan dari lepuh yang ada.

Jika masih merasakan nyeri berkepanjangan, misalnya lebih dari satu bulan setelah ruam mengering, dokter akan melakukan diagnosis postherpetic neuralgia. Ini adalah komplikasi herpes zoster paling umum. Komplikasi ini dapat menyebabkan nyeri sampai hitungan bulan atau bahkan tahun.

 

Pengobatan Herpes Zoster

Tidak ada obat untuk penyakit ini, tetapi memberikan penanganan segera dapat membantu untuk mencegah komplikasi dan mempercepat pemulihannya. Perawatan paling baik dilakukan dalam waktu 72 jam setelah gejala berkembang.

Memang, tujuan dari pengobatan ini adalah untuk mengurangi gejala sampai penyakit ini sembuh dengan sendirinya. Beberapa langkah pengobatan herpes zoster, antara lain:

  • Obat antivirus, seperti acyclovir atau valacyclovir, yang umumnya dikonsumsi selama 7-10 hari.
  • Obat analgesik, seperti parasetamol atau ibuprofen, untuk meredakan nyeri yang ringan.
  • Obat antidepresan trisiklik (TCA), seperti amitriptyline, imipramine, atau nortriptyline, untuk mengatasi nyeri yang berat.
  • Obat antikonvulsan, misalnya gabapentin dan pregabalin, untuk pereda nyeri yang berat.
  • Mengenakan pakaian longgar dan berbahan lembut seperti katun.
  • Menutup ruam agar tetap bersih dan kering guna mengurangi iritasi serta risiko infeksi.
  • Menghindari penggunaan plester atau apa pun yang berbahan perekat agar tidak menambah iritasi.
  • Menggunakan losion kalamin untuk mengurangi gatal pada ruam.
  • Merawat dan membersihkan luka melepuh yang berair dengan memakai kompres air dingin.

 

Komplikasi Herpes Zoster

Beberapa komplikasi herpes zoster, antara lain:

  • Neuralgia pasca-herpes atau postherpetic neuralgia, yaitu nyeri yang parah dan dapat berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah ruam sembuh.
  • Kebutaan, yaitu pada herpes zoster yang timbul di sekitar mata. Herpes zoster dapat mengakibatkan peradangan pada saraf mata, glaukoma, dan bahkan berujung pada kebutaan.
  • Gangguan pada saraf, misalnya inflamasi pada otak, masalah pada pendengaran, atau bahkan keseimbangan tubuh.
  • Infeksi bakteri pada ruam atau lepuhan, jika kebersihan kulit tidak dijaga dengan baik.
  • Bercak putih pada bekas ruam, akibat kerusakan pigmen kulit, yang terlihat seperti bekas luka.
  • Masalah pada saraf, seperti mati rasa atau gatal.

 

Pencegahan Herpes Zoster

Pencegahan herpes zoster dapat dilakukan dengan vaksinasi herpes zoster, terutama untuk mereka yang berusia di atas 50 tahun, yang bertujuan untuk mengurangi tingkat keparahan gejala dan mempercepat proses penyembuhan.

Perlu dipahami, vaksin herpes zoster hanya digunakan sebagai strategi pencegahan. Hal ini tidak dapat mengobati orang yang saat ini sedang terserang penyakit ini. Bicaralah dengan dokter tentang pilihan vaksin mana yang tepat untuk didapatkan sesuai dengan kondisi kesehatan.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter jika kamu mencurigai terserang herpes zoster dan mengalami gejalanya, terutama jika situasinya seperti: 

  • Rasa sakit dan ruam yang terjadi di dekat mata. Jika masalah ini tidak diobati, infeksi dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata.
  • Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih karena faktor usia meningkatkan risiko komplikasi secara signifikan.
  • Memiliki sistem kekebalan yang lemah.
  • Ruam yang terjadi menyebar dan menyakitkan.

Ingat, penanganan yang tepat dan cepat sangat dibutuhkan untuk menentukan langkah pengobatan dan mempercepat proses penyembuhan.

Untuk mendapatkan kemudahan dalam pemeriksaan di rumah sakit, kamu bisa melakukan pemesanan sebelumnya melalui aplikasi Halodoc. Cukup dengan download aplikasi Halodoc, pemesanan untuk pemeriksaan ini bisa dilakukan kapan dan dimana saja. Maka dari itu, segera gunakan aplikasinya sekarang juga!

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Shingles.
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Shingles.
Healthline. Diakses pada 2022. Shingles: Everything You Should Know.