
Ini 7 Penyebab Keputihan Setelah Haid dan Cara Mengatasinya
Keputihan setelah haid adalah proses alami tubuh untuk membuang sisa darah saat menstruasi. Namun, keputihan abnormal dapat disebabkan oleh infeksi bakteri hingga infeksi menular seksual.

DAFTAR ISI
- Penyebab Keputihan Setelah Haid
- Cara Mengatasi Keputihan Setelah Haid
- Kapan Harus ke Dokter?
- Hubungi Dokter Ini Jika Mengalami Keputihan
- Studi Terkait Keputihan
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Keputihan setelah haid adalah kondisi keluarnya cairan dari vagina setelah periode menstruasi atau haid selesai. Fenomena ini umumnya bersifat normal.
Lantas, kenapa setelah selesai haid keluar keputihan? Ini proses alami untuk membersihkan rahim dari sisa-sisa darah dan jaringan selama menstruasi. Warnanya bening, memiliki tekstur lendir, dan tidak berbau.
Penyebab Keputihan Setelah Haid
Keputihan setelah haid dapat bervariasi dan terkadang bisa menjadi tanda masalah kesehatan. Apakah keputihan setelah haid itu normal? Ini adalah hal yang normal jika keputihan tidak mengalami perubahan warna dan bau.
Namun, jika terdapat perubahan yang signifikan dalam warna, bau, atau teksturnya, ini bisa menjadi tanda dari gangguan kesehatan. Beberapa kemungkinan penyebabnya, yaitu:
1. Fluktuasi hormon yang belum stabil
Studi berjudul GnRH—A Key Regulator of FSH yang terbit pada Endocrinology menyatakan, selama siklus menstruasi wanita, otak dan ovarium memberikan sinyal kepada sistem reproduksi, sehingga terjadi fluktuasi hormon reproduksi di dalam tubuh menjadi tak terkendali.
Studi juga menyebutkan beberapa jenis hormon yang berperan dalam proses tersebut, antara lain:
- Estrogen.
- Hormon luteinisasi (LH).
- Hormon perangsang folikel (FSH).
- Progesteron.
- Hormon pelepas gonadotropin (GnRH).
Hormon yang disebutkan di atas, memicu kelenjar di leher rahim dan vagina memproduksi lebih banyak keputihan. Biasanya, keputihan terjadi beberapa hari setelah menstruasi berakhir, yaitu saat kadar estrogen mulai meningkat dan tubuh bersiap untuk ovulasi.
Perubahan hormon dalam tubuh tak hanya menyebabkan keputihan setelah haid, tetapi juga memicu perubahan siklus menstruasi. Kenali perbedaan siklus normal dan tidaknya dalam artikel ini: Ini Perbedaan Siklus Menstruasi yang Normal dan Tidak.
2. Darah masih tersisa
Penyebab keputihan setelah haid lainnya, yaitu adanya darah yang masih tersisa dan belum dikeluarkan dari lapisan rahim. Hal ini dapat terjadi dalam beberapa hari setelah menstruasi berhenti.
Keputihan dari darah yang masih tersisa ini umumnya berwarna putih kecoklatan. Volumenya juga tidak terlalu banyak dan dapat membaik dengan sendirinya seiring dengan waktu.
3. Ovulasi
Ketika menstruasi selesai dan tubuh memasuki fase ovulasi, akan terjadi perubahan hormon dalam tubuh. Hal ini menyebabkan lendir serviks menjadi lebih encer dan terjadi peningkatan produksi lendir di vagina.
Proses tersebut yang mungkin menyebabkan keputihan setelah haid. Keputihan ini tersebut bersifat normal dan merupakan bagian dari proses alami reproduksi wanita.
4. Pil KB
Pil KB atau kontrasepsi oral meningkatkan jumlah estrogen dan progesteron dalam tubuh. Perubahan hormonal ini dapat memengaruhi produksi lendir serviks, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan produksi keputihan.
5. Vaginosis bakterialis
Vaginosis bakterialis (BV) adalah infeksi yang terjadi akibat ketidakseimbangan bakteri alami di dalam vagina. Vagina sendiri memiliki tingkat keasaman yang sehat dan dijaga oleh bakteri baik.
Ketika bakteri jahat menggantikan bakteri baik, pH vagina akan berubah. Hal ini dapat memengaruhi lendir serviks dan menyebabkan perubahan dalam konsistensi dan bau keputihan.
Salah satu tandanya adalah perubahan warna keputihan menjadi putih susu. Ketahui penjelasan selengkapnya di sini: Ini Berbagai Penyebab Keputihan Putih Susu yang Perlu Diketahui.
6. Infeksi jamur
Infeksi jamur dapat terjadi selama atau setelah menstruasi. Gangguan ini terjadi akibat produksi ragi atau jamur yang berlebihan, sehingga menyebabkan rasa gatal, terbakar, dan keputihan kental seperti keju.
7. Infeksi menular seksual
Mengidap infeksi menular seksual (IMS) juga dapat menyebabkan keputihan setelah haid berwarna kuning atau hijau. Keputihan akibat IMS ini bisa menjadi pertanda klamidia, trikomoniasis, dan gonore, serta menyebabkan bau menyengat.
Keputihan memang sangat mengganggu, terutama saat melakukan aktivitas seksual. Kamu bisa mencoba beberapa rekomendasi obat di sini: 7 Obat Keputihan yang Bisa Dipilih Berdasarkan Penyebabnya.
Cara Mengatasi Keputihan Setelah Haid
Perubahan lendir serviks terjadi akibat perubahan hormon sepanjang siklus menstruasi. Lantas, berapa lama keputihan saat haid? Jika memiliki siklus menstruasi 28 hari, umumnya keputihan akan mengikuti pola berikut:
- Hari 1-4 setelah haid berakhir. Bertekstur kering atau lengket, warnanya bisa putih atau kuning.
- Hari 4-6. Bertekstur lengket, agak lembab dan berwarna putih.
- Hari 7-9. Konsistensi lembut seperti yogurt, basah.
- Hari 10-14. Menyerupai putih telur mentah, licin, dan sangat basah.
- Hari ke 14-28. Keputihan berhenti sampai terjadi haid.
Jika keputihan mengalami perubahan tekstur, bau, dan warna, perawatannya akan tergantung pada gejala yang kamu alami. Dalam kebanyakan kasus, keputihan biasanya normal dan tidak memerlukan pengobatan.
Jika diperlukan, pengobatannya meliputi:
- Obat antijamur yang dijual bebas. Penggunaan obat ini direkomendasikan jika keputihan terjadi akibat infeksi jamur. Kamu bisa menggunakan kombinasi dari krim dan obat oral.
- Obat resep. Jenis obat ini diperlukan untuk infeksi yang lebih parah dan terjadi secara berulang, terutama pada orang pascamenopause.
- Obat antibiotik. Obat ini diperlukan jika keputihan setelah haid terjadi akibat vaginosis bakterialis. Dosis dan tata cara penggunaan akan diberikan langsung oleh dokter terkait.
- Menjaga kebersihan area genital. Cuci area genital secara lembut dengan air hangat dan sabun ringan guna menjaga keseimbangan bakteri alami.
- Perhatikan bahan celana dalam. Gunakan celana dalam yang terbuat dari bahan katun agar dapat menyerap kelembaban. Jenis bahan ini juga dapat meningkatkan sirkulasi udara di area genital.
- Hindari pakaian ketat. Pakaian ini menyebabkan penumpukan kelembaban di area genital. Dampaknya, akan terjadi pertumbuhan bakteri dan jamur.
- Perbanyak air putih. Minum banyak air dapat membantu menjaga hidrasi tubuh dan menjaga kelembaban alami di area genital.
Selain masalah keputihan, kondisi haid yang tidak teratur juga perlu kamu waspadai. Baca selengkapnya di artikel ini: “Waspada, Ini 11 Penyebab Datang Bulan Tidak Teratur”.
Jika masalah tak kunjung membaik, silakan diskusikan hal tersebut dengan dokter spesialis kulit dan kelamin lewat Halodoc untuk mendapatkan saran medis yang sesuai dengan kondisi kesehatan kamu.
Kapan Harus ke Dokter?
Meskipun keputihan banyak sering kali wajar, ada beberapa tanda peringatan (red flags) yang tidak boleh diabaikan. Jika keputihan tidak ditangani dengan tepat, infeksi pada vagina dapat menyebar ke organ reproduksi bagian atas (rahim, saluran tuba, dan ovarium), menyebabkan Penyakit Radang Panggul (PID) yang berdampak pada kesuburan di masa depan.
Segera cari bantuan medis jika kamu mengalami gejala berikut bersamaan dengan keputihan:
- Warna keputihan berubah menjadi kuning pekat, hijau, atau keabu-abuan.
- Terdapat bau yang sangat menyengat, amis, atau busuk dari area vagina.
- Rasa gatal, panas, kemerahan, atau bengkak pada vulva dan bibir vagina.
- Timbulnya luka, kutil, atau lepuhan di sekitar area genital.
- Rasa nyeri atau terbakar (perih) saat buang air kecil (disuria).
- Nyeri di panggul bawah yang tidak terkait dengan kram menstruasi, atau rasa sakit saat berhubungan seksual (dispareunia).
Apabila kamu mengalami satu atau lebih dari gejala di atas, jangan melakukan diagnosis mandiri atau sembarangan membeli antibiotik. Segera jadwalkan konsultasi ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang akurat. Dokter mungkin akan mengambil sampel cairan keputihan untuk diperiksa di laboratorium dan memberikan pengobatan yang sesuai, seperti obat antijamur, antibiotik, atau antiparasit yang tepat sasaran.
Hubungi Dokter Ini Jika Mengalami Keputihan
Apabila kamu mengalami tanda-tanda keputihan abnormal, segera hubungi dokter untuk tahu cara pengobatannya.
Nah, berikut ini terdapat beberapa rekomendasi dokter di Halodoc yang sudah memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun dan bisa membantu mengobati keputihan.
Mereka juga memiliki penilaian yang baik dari pasien-pasien yang pernah mereka tangani sebelumnya, ini daftarnya:
- dr. Frieda Sp.D.V.E
- dr. Made Martina W. M.Biomed, Sp.D.V.E
- dr. Dyah Ayu Nirmalasari Sp.D.V.E
- dr. Dina Febriani Sp.D.V.E
- dr. Ryski Meilia Novarina Sp.D.V.E
Jika dokter sedang tidak tersedia atau offline, kamu tak perlu khawatir.
Sebab kamu tetap bisa membuat janji konsultasi di lain waktu melalui aplikasi Halodoc atau berkonsultasi dengan dokter lainnya.
Studi Terkait Keputihan
Frontiers in Cellular and Infection Microbiology menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa mikrobioma vagina dan tingkat pH mengalami fluktuasi signifikan sepanjang siklus menstruasi. Darah menstruasi secara drastis menurunkan populasi bakteri Lactobacillus dan meningkatkan pH vagina.
Hal ini menjelaskan mengapa pasca menstruasi, wanita memiliki kerentanan sementara yang lebih tinggi terhadap vaginosis bakterialis dan kandidiasis sebelum flora normal vagina berhasil menstabilkan diri kembali pada fase luteal.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Vaginal discharge.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Vaginal Discharge: Causes, Colors, What’s Normal & Treatment.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Diakses pada 2024. Vaginitis.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Sexually transmitted infections (STIs).
National Institutes of Health (NIH). Diakses pada 2024. The Vaginal Microbiome during the Menstrual Cycle.
FAQ
1. Apakah normal keputihan banyak setelah haid?
Ya, sangat normal. Keputihan yang banyak setelah haid biasanya dipicu oleh meningkatnya kadar hormon estrogen dan merupakan cara rahim membuang sisa-sisa darah menstruasi serta melembapkan kembali area vagina. Selama warnanya jernih, putih, atau sedikit kecokelatan (sisa darah) dan tidak berbau, kamu tidak perlu khawatir.
2. Apa warna keputihan yang normal setelah menstruasi?
Warna keputihan yang normal bervariasi dari bening, putih susu, putih keruh, hingga sedikit kekuningan pucat. Tepat setelah menstruasi, warnanya bisa sedikit kecokelatan karena bercampur dengan darah haid yang sudah tua dan mengalami oksidasi.
3. Bolehkah menggunakan pantyliner setiap hari untuk mengatasi keputihan banyak setelah haid?
Penggunaan pantyliner setiap hari sebenarnya tidak disarankan. Pantyliner dapat membuat area kewanitaan menjadi lembap dan panas, mengganggu sirkulasi udara, serta memicu pertumbuhan jamur. Gunakanlah hanya pada saat sangat diperlukan (misalnya saat keputihan sangat deras) dan pastikan untuk menggantinya setiap 3 hingga 4 jam sekali.
4. Bagaimana cara membedakan keputihan normal dan keputihan akibat infeksi?
Keputihan normal umumnya tidak berbau menyengat, tidak menimbulkan gatal, dan warnanya bening atau putih. Sedangkan keputihan infeksi biasanya memiliki ciri khas: warnanya berubah (kuning pekat, hijau, abu-abu), berbau tidak sedap (amis atau busuk), teksturnya menggumpal seperti keju, serta disertai rasa gatal, perih, atau kemerahan pada area vulva dan vagina.




