
Mengenal Playing Victim: Pengertian, Ciri, dan Penyebabnya
Playing victim adalah kondisi yang terjadi saat seseorang merasa dirinya merupakan korban, dan menyalahkan orang lain atas masalah yang terjadi pada hidupnya.

DAFTAR ISI
- Pengertian, Ciri, dan Penyebab Playing Victim
- Tips Menghadapi Pola Playing Victim
- Kapan Harus ke Dokter?
- Studi Terkait
- Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?
- Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?
- FAQ
Playing victim adalah pola ketika seseorang terus-menerus memosisikan diri sebagai korban dalam berbagai situasi, bahkan ketika bukti menunjukkan sebaliknya. Orang dengan pola ini cenderung menyalahkan orang lain atau keadaan dan sulit menerima tanggung jawab atas perannya sendiri.
Perlu dipahami, playing victim berbeda dengan benar-benar menjadi korban kekerasan atau trauma. Mengenali pengertian, ciri, dan penyebabnya bisa membantumu menjaga kesehatan mental, baik saat kamu menyadari pola ini dalam diri sendiri maupun pada orang terdekat.
Pengertian, Ciri, dan Penyebab Playing Victim
Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai victim mentality atau mentalitas korban. Penelitian di jurnal Personality and Individual Differences (2020) menggambarkannya sebagai perasaan menetap bahwa diri adalah korban dalam berbagai jenis hubungan antarpribadi, yang disebut tendency for interpersonal victimhood.
Ciri-Ciri Playing Victim
Penelitian tersebut dan ulasan di Scientific American menyebut empat dimensi utama pola ini:
- Butuh pengakuan terus-menerus: selalu ingin penderitaannya diakui orang lain.
- Merasa paling benar secara moral: menganggap diri lebih bermoral, sementara orang lain dianggap salah.
- Kurang empati: sibuk dengan luka sendiri sehingga sulit melihat penderitaan orang lain.
- Ruminasi: terus memikirkan kesalahan orang lain di masa lalu sehingga sulit memaafkan.
Menurut Psych Central, ciri lain yang bisa terlihat antara lain sering menyalahkan faktor luar, memandang dunia tidak adil, berpikir pesimistis, sulit percaya pada orang lain, dan suka “menghitung” kesalahan pasangan atau teman. Secara emosional, pola ini bisa disertai cemas, sedih, rasa malu, harga diri rendah, hingga menarik diri dari lingkungan.
Penyebab Playing Victim
Psych Central menjelaskan bahwa mentalitas korban sering berawal dari pengalaman berada dalam situasi yang sulit dikendalikan, rasa sakit emosional berkepanjangan yang memicu rasa tidak berdaya, atau pengkhianatan dari orang yang dipercaya. Pola ini juga bisa berkembang sebagai cara bertahan setelah trauma.
Ulasan Scientific American menambahkan bahwa gaya kelekatan cemas (anxious attachment) merupakan salah satu prediktor kuat pola ini. Artinya, playing victim tidak selalu disengaja untuk memanipulasi, tetapi bisa menjadi cara seseorang menghadapi luka yang belum pulih.
Tips Menghadapi Pola Playing Victim
- Jika kamu mengenali pola ini dalam diri sendiri, coba latih menulis jurnal untuk memisahkan fakta kejadian dari tafsiran dan perasaanmu.
- Latih rasa welas asih pada diri sendiri dan syukur, lalu perlahan ubah cara pandang dari “korban” menjadi “penyintas” yang bisa bertumbuh.
- Fokus pada hal yang masih bisa kamu kendalikan, sekecil apa pun, agar tidak terjebak rasa tidak berdaya.
- Jika orang terdekatmu yang menunjukkan pola ini, dengarkan dengan empati, tetapi tetap tetapkan batasan yang sehat dan hindari membenarkan semua tuduhannya.
- Dorong dirimu atau orang terdekat untuk mencari bantuan profesional, terutama bila pola ini berkaitan dengan pengalaman traumatis.
Kapan Harus ke Dokter?
Pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bila pola merasa jadi korban membuat hubunganmu terus bermasalah, memicu cemas atau sedih berkepanjangan, mengganggu pekerjaan, atau berkaitan dengan trauma yang belum terselesaikan. Menurut Ayo Sehat Kemenkes, psikoterapi seperti terapi perilaku kognitif (CBT) dapat membantu mengubah pola pikir negatif, dan layanan kesehatan jiwa awal bisa diakses di puskesmas.
Konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam untuk mendapatkan saran awal mengenai kondisi emosional dan pola hubungan yang kamu alami.
Studi Terkait
Penelitian Gabay dan rekan berjudul “The tendency for interpersonal victimhood: The personality construct and its consequences” di jurnal Personality and Individual Differences (2020) melibatkan delapan studi. Hasilnya menunjukkan bahwa kecenderungan merasa menjadi korban bersifat konsisten dan stabil dari waktu ke waktu.
Penelitian yang sama menemukan bahwa kecenderungan ini berkaitan dengan bias dalam menafsirkan situasi yang ambigu secara negatif, lebih mudah mengingat pengalaman buruk, serta keinginan dan perilaku balas dendam yang lebih tinggi. Gaya kelekatan juga diteliti sebagai salah satu latar belakangnya.
Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?
Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.
- ✅ Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis. Caranya cukup simpel dan mudah!
- ✅ Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
- ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah.
- ✅ Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
- ✅Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan.
- ✅ Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
- ✅ Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
- ✅ Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
- ✅ Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada.
- ✅ Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.
Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?
Menyadari pola playing victim, baik pada diri sendiri maupun orang terdekat, bisa terasa membingungkan dan melelahkan secara emosional. Lewat chat dokter, kamu bisa menceritakan keluhan secara privat dan mendapatkan arahan awal, termasuk rujukan ke psikolog atau psikiater bila diperlukan.
Chat dengan dokter Halodoc kapan saja untuk mendapatkan informasi kesehatan mental yang sesuai dengan kondisimu.
Referensi
Ayo Sehat Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Gangguan Kecemasan Umum.
Personality and Individual Differences. Diakses pada 2026. The tendency for interpersonal victimhood: The personality construct and its consequences.
Scientific American. Diakses pada 2026. Unraveling the Mindset of Victimhood.
Psych Central. Diakses pada 2026. Victim Mentality: Signs, Causes, and What to Do.
FAQ
Apa itu playing victim?
Playing victim adalah pola ketika seseorang terus memosisikan diri sebagai korban dan sulit menerima tanggung jawab atas perannya. Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai mentalitas korban.
Apa ciri-ciri orang yang suka playing victim?
Ciri-cirinya antara lain selalu butuh pengakuan atas penderitaannya, merasa paling benar, kurang empati, terus memikirkan kesalahan orang lain, dan sering menyalahkan keadaan.
Apa penyebab seseorang playing victim?
Penyebabnya bisa berupa pengalaman trauma, pengkhianatan, rasa tidak berdaya yang berkepanjangan, atau gaya kelekatan cemas. Pola ini tidak selalu disengaja dan bisa menjadi cara bertahan dari luka emosional.
Apakah playing victim bisa diubah?
Bisa. Kesadaran diri, latihan welas asih, dan dukungan psikoterapi dapat membantu seseorang mengubah pola pikirnya. Konsultasikan dengan psikolog atau psikiater untuk pendampingan yang tepat.




