Ad Placeholder Image

Waspada, Ini Berbagai Hal Penyebab Respiratory Syncytial Virus

4 menit
Ditinjau oleh  dr. Budiyanto, MARS   17 Oktober 2025

Respiratory Syncytial Virus adalah virus yang menyerang hidung, tenggorokan, paru-paru, dan bronkiolus.

Waspada, Ini Berbagai Hal Penyebab Respiratory Syncytial VirusWaspada, Ini Berbagai Hal Penyebab Respiratory Syncytial Virus

DAFTAR ISI

  1. Apa Itu Respiratory Syncytial Virus?
  2. Penyebab Respiratory Syncytial Virus yang Perlu Diwaspadai
  3. Pengobatan Respiratory Syncytial Virus
  4. Cara Mencegah Respiratory Syncytial Virus
  5. Kapan Harus ke Dokter?

Respiratory Syncytial Virus (RSV) adalah salah satu penyebab paling umum infeksi saluran pernapasan, terutama pada bayi, anak kecil, dan lansia. 

Infeksi ini sering kali mirip flu biasa, tetapi pada beberapa orang dapat berkembang menjadi kondisi serius seperti bronkiolitis atau pneumonia.

Oleh sebab itu, penting untuk memahami penyebab, cara penularan, hingga langkah pencegahannya agar bisa lebih waspada dan mencegah komplikasi.

Apa Itu Respiratory Syncytial Virus?

Respiratory Syncytial Virus (RSV) merupakan virus yang menyerang saluran pernapasan atas (seperti hidung dan tenggorokan) serta bagian bawah (paru-paru dan bronkiolus). 

Virus ini bisa menginfeksi siapa pun, namun paling berisiko pada:

  • Bayi berusia di bawah dua tahun, terutama di bawah enam bulan.
  • Anak-anak dengan penyakit jantung atau paru kronis.
  • Lansia berusia di atas 65 tahun.
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.

Pada sebagian besar orang sehat, gejala RSV biasanya mereda dalam 1–2 minggu, namun pada bayi dan lansia bisa berujung pada gangguan pernapasan berat.

Penyebab Respiratory Syncytial Virus yang Perlu Diwaspadai

Penyebab utama infeksi ini tentu adalah virus RSV itu sendiri. 

Namun, ada berbagai cara penularan dan faktor yang membuat seseorang lebih berisiko tertular atau mengalami infeksi berat, seperti:

1. Penularan Melalui Percikan Cairan (Droplet)

RSV menyebar ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara dan mengeluarkan percikan kecil air liur atau lendir yang mengandung virus. 

Orang lain bisa tertular bila menghirup percikan tersebut. Oleh karena itu, berada dalam jarak dekat dengan penderita RSV, terutama di ruangan tertutup, sangat meningkatkan risiko infeksi.

2. Kontak Langsung dengan Penderita atau Benda Terkontaminasi

Selain melalui udara, virus juga dapat menular lewat kontak tidak langsung. 

Misalnya, saat kamu menyentuh tangan, wajah, atau benda yang telah terpapar virus seperti gagang pintu, meja, atau mainan anak. lalu menyentuh hidung atau mulut. 

RSV dapat bertahan di permukaan benda selama beberapa jam, sehingga kebersihan tangan menjadi faktor penting dalam pencegahan.

3. Lingkungan Padat dan Kurang Ventilasi

Tempat seperti sekolah, penitipan anak, rumah sakit, atau panti jompo menjadi lokasi rawan penularan RSV. 

Dalam lingkungan yang padat, virus mudah berpindah dari satu orang ke orang lain. 

Kurangnya sirkulasi udara juga memperpanjang waktu virus bertahan di udara, membuat risiko penularan semakin tinggi.

4. Sistem Kekebalan Tubuh Lemah

Anak kecil, lansia, atau orang dengan penyakit kronis seperti diabetes, gagal jantung, atau gangguan paru-paru lebih mudah terserang RSV karena daya tahan tubuh mereka tidak sekuat orang sehat. 

Begitu juga dengan penderita HIV atau pasien yang sedang menjalani pengobatan imunosupresif, misalnya setelah transplantasi organ.

5. Kurangnya Kebersihan Diri dan Lingkungan

Kebiasaan tidak mencuci tangan setelah beraktivitas, berbagi alat makan, atau jarang membersihkan benda yang sering disentuh dapat mempercepat penyebaran virus. 

Orang yang tidak menutup mulut saat batuk atau bersin juga dapat dengan mudah menularkan virus ke orang sekitar.

6. Perubahan Cuaca dan Musim Dingin

RSV cenderung meningkat pada musim hujan atau dingin. 

Pada waktu ini, orang lebih sering berada di dalam ruangan tertutup, sehingga penularan melalui udara lebih mudah terjadi. 

Selain itu, udara dingin dapat menurunkan daya tahan tubuh, membuat seseorang lebih rentan terinfeksi.

Alami flu? Jangan khawatir, Ini Rekomendasi Obat Flu dan Pilek Dewasa yang Paling Ampuh.

Pengobatan Respiratory Syncytial Virus

Hingga kini belum ada obat spesifik yang dapat menyembuhkan RSV. 

Perawatan dilakukan untuk meredakan gejala dan membantu tubuh melawan infeksi secara alami.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

  • Cukupi istirahat dan cairan tubuh
  • Konsumsi obat pereda gejala. Dokter dapat merekomendasikan obat penurun demam atau pereda nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen, untuk mengurangi ketidaknyamanan
  • Gunakan humidifier atau uap hangat
  • Bersihkan hidung bayi dengan aspirator
  • Perawatan di rumah sakit bila gejala berat

Apabila penderita mengalami sesak berat, dehidrasi, atau kadar oksigen rendah, dokter mungkin akan memberikan oksigen tambahan atau infus cairan.

Baca juga: Kata Dokter: Langkah Pengobatan ISPA yang Tepat.

Cara Mencegah Respiratory Syncytial Virus

Pencegahan RSV sangatlah penting karena virus ini menular dengan mudah. 

Berikut beberapa langkah yang bisa kamu lakukan:

  • Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir minimal 20 detik.
  • Hindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit, terutama bayi dan lansia.
  • Gunakan masker bila kamu sedang pilek atau batuk.
  • Bersihkan permukaan benda seperti meja, mainan, dan gagang pintu secara rutin.
  • Tutup mulut dan hidung saat bersin atau batuk menggunakan tisu atau siku bagian dalam.
  • Hindari kerumunan selama musim flu atau saat banyak kasus infeksi pernapasan terjadi.
  • Konsultasikan vaksin RSV (jika tersedia) untuk kelompok rentan seperti ibu hamil dan lansia.

Kapan Harus ke Dokter?

Sebagian besar infeksi RSV bisa sembuh sendiri dalam waktu sekitar dua minggu. 

Namun, segera periksa ke dokter bila muncul tanda-tanda seperti:

  • Napas cepat, pendek, atau berbunyi “ngik-ngik” (mengi).
  • Bibir atau ujung jari tampak kebiruan.
  • Bayi sulit makan, minum, atau menyusu.
  • Anak tampak lemas, mengantuk terus, atau tidak responsif.
  • Demam tinggi yang tidak kunjung turun.
  • Tanda dehidrasi, seperti mulut kering dan jarang buang air kecil.

Untuk lansia, segera konsultasikan dengan dokter bila gejala RSV menimbulkan sesak berat, batuk terus-menerus, atau memperburuk penyakit kronis seperti gagal jantung dan PPOK.

Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala RSV, jangan ragu untuk segera konsultasi dengan dokter melalui aplikasi Halodoc.

Dokter spesialis di Halodoc mampu memberikan penanganan yang tepat dan sesuai dengan kondisimu.

Tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
CDC. Diakses pada 2025. How RSV Spreads; Respiratory Syncytial Virus (RSV).
Cleveland Clinic. Diakses pada 2025. RSV (Respiratory Syncytial Virus).
Verywell Health. Diakses pada 2025. What Is Respiratory Syncytial Virus (RSV)?.
World Health Organization. Diakses pada 2025. Respiratory syncytial virus (RSV).