
DAFTAR ISI
- Apa Itu Herpes Zoster (Cacar Api)?
- Penyebab Herpes Zoster (Cacar Api)
- Faktor Risiko Herpes Zoster (Cacar Api)
- Gejala Herpes Zoster (Cacar Api)
- Riset Seputar Herpes Zoster
- Rekomendasi Dokter yang Bisa Mengobati Herpes Zoster (Cacar Api)
- Diagnosis Herpes Zoster (Cacar Api)
- Pengobatan Medis untuk Herpes Zoster (Cacar Api)
- Pengobatan Rumahan untuk Herpes Zoster (Cacar Api)
- Pencegahan Herpes Zoster (Cacar Api)
- Komplikasi Herpes Zoster (Cacar Api)
- FAQ
Apa Itu Herpes Zoster (Cacar Api)?
Herpes zoster adalah infeksi pada saraf dan kulit yang disebabkan oleh virus varisela zoster, yaitu virus yang sama dengan penyebab cacar air.
Herpes zoster juga dikenal dengan nama cacar api, cacar ular, atau penyakit dompo.
Saat terjadi, penyakit ini menyebabkan ruam yang sangat nyeri dan menyakitkan.
Penyakit ini sering muncul sebagai satu garis lepuh di sisi kiri atau kanan pada tubuh.
Virus penyebab penyakit ini dapat menetap di sekitar tulang belakang atau dasar dari tulang tengkorak tubuh, bahkan setelah cacar air sembuh.
Setelah bertahun-tahun kemudian, virus dapat kembali aktif sehingga menyebabkan herpes zoster.
Penyebab Herpes Zoster (Cacar Api)
Cacar api disebabkan karena apa?
Penyebab cacar api adalah Varicella Zoster, virus yang juga menjadi penyebab cacar air.
Pada seseorang yang pernah mengalami cacar air, virus ini tidak sepenuhnya hilang, melainkan hanya menjadi tidak aktif.
Setelah tidak aktif, virus berpindah ke saraf di sumsum tulang belakang dan otak, lalu menetap di sana selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala apa pun.
Namun, dalam kondisi tertentu, virus yang “tidur” di sel saraf tersebut dapat aktif kembali.
Ketika aktif, virus memengaruhi sel saraf di kulit, sehingga memunculkan gejala berupa ruam khas herpes zoster pada kulit.
Penyebab aktifnya kembali virus Varicella Zoster belum diketahui, karena tidak semua orang yang pernah menderita cacar air akan mengalami herpes zoster.
Apakah kamu atau orang terdekat Mengidap Cacar Api? Segera Konsultasikan dengan Dokter Ini.
Faktor Risiko Herpes Zoster (Cacar Api)
Seseorang yang pernah terserang cacar air dapat mengembangkan cacar api atau cacar ular.
Kebanyakan orang mengalami penyakit tersebut saat masih anak-anak.
Gangguan ini rentan terjadi karena belum adanya vaksinasi rutin yang dapat melindungi cacar air.
Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena cacar api atau cacar ular ini, yaitu:
- Usia lebih dari 50 tahun, akibat sistem kekebalan tubuh menurun.
- Stres fisik dan emosional, yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menurun.
- Masalah sistem kekebalan tubuh, seperti pada pengidap HIV/AIDS, orang yang menjalani transplantasi organ tubuh, atau kemoterapi.
- Sedang menjalani pengobatan kanker.
- Mengonsumsi obat-obatan tertentu.
Sementara itu, penelitian terkini menemukan bahwa seseorang dapat mengembangkan herpes zoster beberapa hari atau minggu setelah menerima vaksin COVID-19 jenis vaksin mRNA.
Namun, para ahli belum mengetahui mengapa vaksin COVID-19 dapat meningkatkan risiko herpes zoster.
Kemungkinan hal itu bisa terjadi karena perubahan sistem kekebalan yang terjadi setelah mendapatkan vaksin.
Kamu juga harus tahu Pengobatan Cacar Api: Antivirus, Antibiotik, dan Perawatan Rumah.
Gejala Herpes Zoster (Cacar Api)
Gejala dari penyakit akibat virus ini biasanya hanya memengaruhi sebagian kecil dari satu sisi tubuh, sering kali pada pinggang, punggung, atau dada.
Beberapa gejala herpes zoster atau ciri-ciri cacar api yang dapat muncul, antara lain:
- Ruam yang timbul pada satu sisi tubuh sesuai dengan saraf yang terinfeksi.
- Nyeri berupa rasa panas seperti terbakar atau tertusuk benda tajam pada ruam.
- Ruam kulit berupa luka melepuh berisi air yang gatal dan menyerupai bintil cacar air.
- Lepuhan akan mengering dan berubah menjadi koreng dalam beberapa hari.
- Gatal dan mati rasa pada bagian yang terdapat ruam.
- Dapat disertai demam, nyeri kepala, sensitif terhadap cahaya, dan rasa lelah.
- Gejala akan mereda setelah 14-28 hari.
Nyeri biasanya termasuk salah satu gejala awal dari herpes zoster.
Beberapa orang yang mengalaminya dapat merasakan masalah ini menjadi intens.
Penyakit ini juga bisa tertukar dan pengidapnya anggap sebagai gejala gangguan yang memengaruhi jantung, paru-paru, atau ginjal.
Tahapan Gejala
Kebanyakan kasus herpes zoster atau cacar ular bertahan dari 3 sampai 5 minggu.
Setelah virus varicella-zoster awalnya aktif kembali, kulit pengidapnya mungkin:
- Terasa seperti kesemutan atau mati rasa.
- Kulit terasa terbakar.
- Gatal.
Dalam waktu sekitar 5 hari, pengidapnya mungkin melihat ruam merah pada area yang kerap terserang kondisi.
Kemudian, sekelompok kecil lepuh berisi cairan dapat muncul beberapa hari setelahnya pada area yang sama.
Pengidapnya juga mungkin mengalami gejala mirip flu seperti demam, sakit kepala, atau kelelahan.
Selama sekitar 10 hari berikutnya, lepuh akan mengering dan membentuk koreng. Keropeng akan hilang setelah beberapa minggu.
Setelah koreng hilang, beberapa orang terus mengalami rasa sakit.
Kondisi tersebut memiliki nama medis neuralgia postherpetik (PHN).
Riset Seputar Herpes Zoster (Cacar Api)
Dilansir dari penelitian dalam jurnal Viruses pada tahun 2022, herpes zoster lebih sering terjadi pada orang yang berusia tua, orang dengan daya tahan tubuh lemah, atau mereka yang menjalani pengobatan tertentu, seperti kemoterapi.
Penyakit ini dapat menyebabkan gejala seperti ruam kulit yang menyakitkan, nyeri berkepanjangan setelah ruam sembuh (neuralgia pasca-herpes), dan komplikasi serius seperti masalah saraf, mata, hingga organ dalam.
Pengobatan herpes zoster biasanya menggunakan obat antivirus seperti asiklovir untuk mempercepat penyembuhan, serta obat pereda nyeri untuk mengatasi rasa sakit.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya penerimaan vaksin herpes zoster yang tersedia untuk mencegah dan mengurangi komplikasi penyakit ini.
Studi lainnya dari Journal of Applied Nursing and Health berjudul Herpes Zoster in Teenagers: Case Reports. Studi ini meneliti bagaimana penyebaran herpes zoster pada anak usia remaja.
Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa menjaga sistem kekebalan tubuh, mengelola stres, dan menerima vaksin varisela atau vaksin campak dapat menjadi cara efektif untuk mencegah risiko terkena herpes zoster.
Fakta Tentang Herpes Zoster dan Cacar
1. Cacar menjadi penyakit pertama yang berhasil diberantas secara global lewat program vaksinasi intensif yang dimulai pada tahun 1967 oleh WHO.
2. Vaksin cacar pertama kali ditemukan pada tahun 1976 oleh Edward Jenner dan berhasil mengurangi angka kematian yang sangat tinggi.
3. Cacar pernah menjadi wabah mematikan. Pada abad ke 20, diperkirakan sekitar 300 juta kematian terjadi akibat cacar.
4. Cacar sangat menular terutama melalui droplet pernapasan seseorang yang terinfeksi.
5. Walaupun bisa disembuhkan dengan vaksin, cacar bisa menimbulkan komplikasi jangka panjang seperti kebutaan dan kerusakan pada kulit.
6. Herpes zoster muncul pada orang yang pernah terkena cacar air sebelumnya.
7. Herpes zoster bisa memicu komplikasi langka seperti peradangan otak atau gangguan saraf mata yang dapat menyebabkan kebutaan.
Rekomendasi Dokter yang Bisa Mengobati Herpes Zoster (Cacar Api)
Segeralah untuk menghubungi dokter di Halodoc segera apabila muncul gejala yang mirip dengan penyakit herpes zoster.
Nah, berikut beberapa dokter yang sudah memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun yang bisa kamu hubungi untuk pengobatan penyakit cacar apit.
Dokter-dokter ini juga mendapatkan rating yang baik dari para pasien yang sebelumnya mereka tangani.
Ini daftarnya:
1. dr. Dyah Ayu Nirmalasari Sp.D.V.E
Kamu bisa berkonsultasi dengan dr. Dyah Ayu Nirmalasari Sp.D.V.E. Ia merupakan lulusan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2013 dan Universitas Hasanuddin tahun 2022.
Dokter Dyah Ayu Nirmalasari berpraktik di daerah Bima, Nusa Tenggara Barat, dan memiliki pengalaman 10 tahun sebagai Spesialis Kulit dan Kelamin.
Ia juga aktif tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI).
Dengan pengalaman sebagai dokter spesialis kulit selama 10 tahun, dr. Dyah Ayu Nirmalasari Sp.D.V.E mampu memberikan layanan konsultasi di Halodoc terkait perawatan gatal selangkangan.
Chat dr. Dyah Ayu Nirmalasari Sp.D.V.E dari Rp 59.000,- di Halodoc.
Selain itu, khusus pengguna baru bisa dapat cashback Halocoins hingga 50 persen (maksimal Rp 25ribu) saat chat dokter spesialis kulit pakai kode voucher SKINCB. Yuk konsultasi sekarang!
2. dr. Made Martina W. M.Biomed, Sp.D.V.E
Dokter Made Martina W. M.Biomed, Sp.D.V.E. merupakan lulusan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya tahun 2011 dan Universitas Udayana tahun 2017.
Saat ini, dr. Made Martina W. M.Biomed, Sp.D.V.E melaksanakan praktik di Denpasar, Bali, dan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI).
Dengan pengalaman selama 12 tahun, dr. Made Martina W. M.Biomed, Sp.D.V.E menawarkan layanan konsultasi di Halodoc mengenai masalah kulit dan kelamin seperti gatal selangkangan.
Chat dr. Made Martina W. M.Biomed, Sp.D.V.E mulai dari Rp 59.000,- di Halodoc.
3. dr. Dina Febriani Sp.D.V.E
Berikutnya, ada dr. Dina Febriani Sp.D.V.E yang merupakan lulusan Universitas Yarsi Jakarta tahun 2009 dan Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 2023.
Saat ini, ia berpraktik di Pekanbaru, Riau, dan aktif sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI).
Dengan pengalaman selama 14 tahun, dr. Dina Febriani Sp.D.V.E menyediakan layanan konsultasi di Halodoc mengenai masalah kulit dan kelamin seperti gatal selangkangan.
Chat dr. Dina Febriani Sp.D.V.E mulai dari Rp 59.000,- di Halodoc.
4. dr. Frieda Sp.D.V.E
Kamu juga dapat menghubungi dr. Frieda Sp.D.V.E, yang merupakan alumnus Universitas Atma Jaya tahun 2015 dan Universitas Sebelas Maret tahun 2022.
Saat ini, ia berpraktik di Bogor, Jawa Barat, dan aktif sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI).
Dengan pengalaman selama 8 tahun, dr. Frieda Sp.D.V.E menyediakan layanan konsultasi di Halodoc terkait penyakit kulit dan kelamin, termasuk penyakit gatal selangkangan.
Chat dr. Frieda Sp.D.V.E mulai dari Rp 59.000,- di Halodoc.
5. dr. Ryski Meilia Novarina Sp.D.V.E
Rekomendasi terakhir adalah dr. Ryski Meilia Novarina Sp.D.V.E, yang merupakan lulusan Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2010 dan Universitas Airlangga tahun 2016.
Saat ini, dr. Ryski Meilia Novarina Sp.D.V.E aktif berpraktik di Gresik, Jawa Timur, dan merupakan anggota aktif Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI).
Dengan pengalaman selama 13 tahun, dr. Ryski Meilia Novarina Sp.D.V.E menyediakan layanan konsultasi di Halodoc terkait penyakit kelamin dan kulit seperti gatal selangkangan.
Chat dr. Ryski Meilia Novarina Sp.D.V.E mulai dari Rp 59.000,- di Halodoc.
6. dr. Fitri Azizah, Sp.D.V.E

Pertama, kamu bisa menghubungi dr. Fitri Azizah, Sp.D.V.E. Ia merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 2012 dan melanjutkan pendidikan spesialis kulit dan kelamin di universitas yang sama hingga lulus pada 2020.
Dokter Fitri Azizah saat ini berpraktik di Kota Tangerang Selatan, Banten dan tergabung sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) dengan nomor STR FH0001212253701.
Berpengalaman selama 14 tahun, dr. Fitri Azizah, Sp.D.V.E memberikan layanan konsultasi di Halodoc terkait masalah kulit dan kelamin, termasuk jerawat, eksim, penyakit kelamin, hingga gangguan kulit pada anak dan bayi.
Chat dr. Fitri Azizah, Sp.D.V.E mulai dari Rp 149.000,- di Halodoc.
7. dr. Stephen Wirya, Sp.D.V.E

Kamu juga bisa menghubungi dr. Stephen Wirya, Sp.D.V.E yang merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada 2010, Boston University Medical Center pada 2016, serta Universitas Indonesia pada 2018.
Saat ini, dr. Stephen Wirya, Sp.D.V.E berpraktik di Jakarta Selatan, DKI Jakarta dan tergabung sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) dengan nomor STR GS00000185239781.
Memiliki pengalaman selama 15 tahun, ia memberikan layanan konsultasi di Halodoc terkait masalah kulit dan kelamin, termasuk jerawat, kulit sensitif, serta berbagai gangguan pada area genital.
Chat dr. Stephen Wirya, Sp.D.V.E mulai dari Rp 159.000,- di Halodoc.
8. dr. Fiska Rosita, Sp.D.V.E

Kemudian, kamu dapat menghubungi dr. Fiska Rosita, Sp.D.V.E. Ia merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya pada 2012 dan Universitas Sebelas Maret Surakarta pada 2021.
Dokter Fiska Rosita saat ini berpraktik di Bandung, Jawa Barat dan tergabung sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) dengan nomor STR 3321602321138212.
Dengan pengalaman selama 13 tahun, dr. Fiska Rosita, Sp.D.V.E memberikan layanan konsultasi di Halodoc terkait berbagai penyakit kulit dan kelamin.
Chat dr. Fiska Rosita, Sp.D.V.E mulai dari Rp 59.000,- di Halodoc.
9. dr. Ricky Setiawan, Sp.D.V.E

Dokter Ricky Setiawan, Sp.D.V.E juga bisa memberikan konsultasi terkait masalah kulit dan kelamin. Ia merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya pada 2016 dan Universitas Udayana pada 2025.
Kini, ia berpraktik di Tangerang, Banten dan tergabung sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) dengan nomor STR TO00001817435943.
Berbekal pengalaman selama 9 tahun, dr. Ricky Setiawan, Sp.D.V.E dapat memberikan layanan konsultasi di Halodoc terkait gangguan kesehatan kulit dan area genital.
Chat dr. Ricky Setiawan, Sp.D.V.E mulai dari Rp 59.000,- di Halodoc.
10. dr. Ratih Nukana, Sp.D.V.E

Rekomendasi selanjutnya adalah dr. Ratih Nukana, Sp.D.V.E. Ia merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana pada 2016 dan menyelesaikan pendidikan spesialis kulit dan kelamin di universitas yang sama pada 2022.
Saat ini, dr. Ratih Nukana, Sp.D.V.E berpraktik di Badung, Bali dan tergabung sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) dengan nomor STR 5121602323174927.
Dengan pengalaman selama 10 tahun, dr. Ratih Nukana, Sp.D.V.E memberikan layanan konsultasi di Halodoc terkait jerawat, ruam kulit, penyakit kelamin, hingga masalah estetika kulit.
Chat dr. Ratih Nukana, Sp.D.V.E mulai dari Rp 59.000,- di Halodoc.
Itulah berbagai daftar dokter spesialis kulit dan kelamin di Halodoc yang bisa kamu hubungi untuk mendapatkan saran pengobatan terkait gatal selangkangan.
Kamu bisa menghubungi dokter dari mana pun dan kapanpun selama 24 jam. Jika dokter tidak tersedia atau sedang offline, kamu bisa membuat jadwal konsultasi di lain waktu melalui aplikasi Halodoc.
Tenang, privasi kamu terjaga aman menggunakan layanan konsultasi Halodoc.
Tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga.
Tak perlu khawatir jika dokter sedang tidak tersedia atau offline.
Sebab, kamu tetap bisa membuat janji konsultasi di lain waktu melalui aplikasi Halodoc.
Ayo hubungi dokter di Halodoc sekarang juga!
Lantas, apakah Cacar Ular Melingkar Bisa Mematikan? Ini Fakta dan Mitos!
Diagnosis Herpes Zoster (Cacar Api)
Dokter dapat mendiagnosis herpes zoster atau cacar api melalui wawancara mengenai riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik terhadap ruam yang muncul pada kulit pasien.
Sementara itu, pada kasus herpes zoster yang menimbulkan gejala nyeri tetapi tidak menyebabkan ruam, dokter akan melakukan tes laboratorium guna mendukung diagnosis.
Berikut adalah sejumlah pemeriksaan yang dapat dokter lakukan:
Tes Polymerase Chain Reaction (PCR)
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi DNA virus Varicella Zoster pada sampel kulit.
Tes ini adalah pemeriksaan yang paling berguna untuk memastikan kasus dugaan herpes zoster yang terjadi tanpa ruam.
Tes serologi
Tujuannya untuk mendeteksi peningkatan antibodi IgM dan IgG dalam darah.
Jika merasakan gejala herpes zoster tetapi bingung harus memeriksakan kondisi ke dokter apa, kamu bisa membaca artikel: Ke Dokter Spesialis Apa untuk Memeriksakan Penyakit Dompo?
Pengobatan Medis untuk Atasi Herpes Zoster (Cacar Api)
Hingga saat ini, belum ada obat cacar api atau herpes zoster yang spesifik untuk menyembuhkan penyakit ini.
Tetapi, penanganan segera dan tepat membantu mencegah komplikasi dan mempercepat pemulihannya.
Tujuan dari pengobatan penyakit ini untuk mengurangi gejala sampai penyakit ini sembuh dengan sendirinya.
Beberapa langkah pengobatan herpes zoster, antara lain:
1. Antiviral untuk menghentikan perkembangan virus
Obat antivirus seperti acyclovir, valacyclovir, dan famciclovir merupakan lini pertama pengobatan untuk herpes zoster.
Obat cacar api ini bekerja dengan memperlambat replikasi virus Varicella zoster, sehingga mengurangi durasi gejala dan risiko komplikasi.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut terapi antivirus paling efektif jika dimulai dalam 72 jam setelah munculnya ruam.
2. Obat pereda nyeri
Analgesik seperti paracetamol atau ibuprofen, sering diresepkan untuk mengurangi rasa nyeri akibat herpes zoster.
Untuk nyeri yang lebih berat, dokter mungkin memberikan obat cacar api berupa opioid atau obat adjuvan seperti gabapentin dan pregabalin untuk menangani neuralgia pasca herpes.
3. Kortikosteroid untuk mengurangi peradangan
Menurut British Journal of General Practice dalam kasus tertentu, kortikosteroid oral seperti prednison dapat diresepkan untuk mengurangi pembengkakan dan rasa nyeri.
Namun, penggunaannya harus berada di bawah pengawasan dokter. Jadi, pastikan kamu konsultasi dahulu dengan dokter saat hendak menggunakannya, terutama pada pasien dengan kondisi sistem imun yang lemah.
4. Terapi untuk neuralgia pasca herpes (PHN)
Neuralgia pasca herpes adalah komplikasi umum herpes zoster yang menyebabkan nyeri saraf kronis.
Obat-obatan seperti antidepresan trisiklik, lidokain topikal, atau capsaicin patch sering digunakan untuk mengelola gejala ini.
New England Journal of Medicine menyebut bahwa, terapi ini bertujuan mengurangi aktivitas saraf abnormal yang menyebabkan nyeri.
5. Pengobatan topikal untuk ruam kulit
American Academy of Dermatology merekomendasikan penggunaan krim atau gel berbasis lidokain sebagai obat cacar api untuk meredakan rasa nyeri pada ruam kulit.
Krim atau salep salep cacar api di apotik bisa kamu dapatkan dengan resep dokter.
Pengobatan Rumahan untuk Herpes Zoster (Cacar Api)
Selain pengobatan medis, kamu bisa melakukan pengobatan rumahan untuk meredakan gejala herpes zoster, yaitu:
1. Kompres dingin
Kompres dingin pada area yang terkena dapat membantu mengurangi rasa nyeri, kemerahan, dan pembengkakan.
Gunakan kain bersih yang direndam air dingin, lalu tempelkan pada kulit selama 10-15 menit beberapa kali sehari.
2. Gunakan lotion atau krim
Oleskan lotion calamine pada ruam untuk meredakan gatal dan iritasi. Hindari produk berbahan dasar minyak yang bisa membuat kulit sulit bernapas.
Selain itu, pastikan lotion atau krim yang kamu gunakan berdasarkan resep atau rekomendasi dokter.
3. Menjaga kebersihan kulit
Cuci area yang terkena herpes zoster dengan air hangat dan sabun ringan untuk mencegah infeksi sekunder.
Selain itu, hindari menggaruk atau menggosok ruam untuk mengurangi risiko luka terbuka.
4. Mengonsumsi makanan bergizi
Diet kaya vitamin terutama vitamin C dan E, dapat membantu mempercepat proses penyembuhan.
Kamu bisa mengonsumsi makanan seperti buah jeruk, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan ikan berlemak untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh.
Ada banyak pilihan makanan lain yang kaya vitamin C dan E. Simak informasinya pada artikel berikut ini:
- Sumber Vitamin C yang Bagus dari Buah dan Sayur
- 5 Makanan yang Mengandung Vitamin E yang Mudah Didapatkan
5. Kelola stres dengan baik
Stres dapat memperburuk gejala herpes zoster.
Praktikkan teknik relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, atau yoga untuk membantu menenangkan tubuh dan pikiran.
Lalu, bagaimana cara menghilangkan stres yang mudah dan ampuh untuk dilakukan? Simak pada artikel berikut: Ini Cara Menghilangkan Stres yang Mudah dan Ampuh.
6. Istirahat yang cukup
Berikan tubuh waktu untuk pulih dengan tidur yang cukup dan menghindari aktivitas berat.
Kondisi tubuh yang rileks dapat membantu sistem imun melawan infeksi dengan lebih baik.
Pengobatan rumahan ini tidak menggantikan pengobatan medis, tetapi dapat menjadi langkah tambahan untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mempercepat pemulihan.
Pastikan berkonsultasi dengan dokter jika gejala memburuk atau muncul komplikasi.
Cari tahu juga, berikut Ini Pengobatan Herpes Zoster Bisa Dilakukan.
7. Pengobatan antivirus
Obat antivirus seperti Acyclovir, Valacyclovir, dan Famciclovir dapat mengurangi durasi dan tingkat keparahan gejala jika diminum dalam 72 jam sejak munculnya ruam.
8. Penggunaan antihistamin untuk meredakan gatal
Antihistamin seperti Loratadine atau Diphenhydramine dapat membantu mengurangi rasa gatal dan menghindari iritasi akibat garukan berlebihan.
9. Pengobatan alami
Kamu juga bisa melakukan pengobatan alami, seperti kompres dingin untuk meredakan peradangan dan nyeri.
Lidah buaya atau minyak kelapa juga bisa sebagai pelembap alami untuk membantu penyembuhan kulit.
Coba juga oatmeal bath untuk meredakan gatal dan iritasi kulit.
Bisakah Mandi saat Mengidap Herpes Zoster?
Salah satu cara mengobati kondisi ini adalah mandi dengan air dingin.
Sebab, berendam dalam bak air dingin selama kurang lebih 15 menit dapat membantu tubuh untuk meredakan sebagian rasa sakit dan gatal akibat kondisi ini.
Obat Herpes Zoster di Apotek yang Bisa Dicoba
Meskipun resep dokter tetap penting untuk pengobatan yang efektif, beberapa obat dan perawatan dapat membantu meredakan gejala herpes zoster:
- Krim atau salep antivirus topikal
Krim yang mengandung asiklovir membantu mengurangi penyebaran virus pada kulit.
- Obat pereda nyeri
Paracetamol atau ibuprofen dapat membantu mengurangi rasa sakit.
- Kompres dingin
Kompres dingin membantu mengurangi peradangan dan rasa sakit.
- Losion kalamin
Losion kalamin dapat membantu mengurangi gatal.
Pastikan selalu berkonsultasi dengan apoteker atau dokter sebelum menggunakan obat apa pun, terutama jika memiliki kondisi medis lain atau sedang mengonsumsi obat lain.
Perawatan Mandiri di Rumah untuk Meredakan Herpes Zoster
Selain pengobatan medis, ada beberapa langkah perawatan mandiri yang dapat meredakan gejala herpes zoster dan mempercepat penyembuhan:
- Istirahat yang cukup. Istirahat membantu tubuh melawan infeksi virus.
- Kompres dingin. Kompres dingin dapat membantu mengurangi nyeri dan peradangan.
- Mandi oatmeal. Mandi oatmeal dapat membantu meredakan gatal.
- Jaga kebersihan ruam. Bersihkan ruam dengan lembut menggunakan sabun dan air. Hindari menggaruk ruam, karena dapat menyebabkan infeksi.
- Kenakan pakaian longgar. Pakaian longgar dapat membantu mengurangi iritasi pada ruam.
- Hindari stres. Stres dapat memperburuk gejala herpes zoster. Cobalah teknik relaksasi seperti meditasi atau yoga.
Pencegahan Herpes Zoster (Cacar Api)
Sebetulnya, pengobatan yang tepat bisa mencegah komplikasi yang serius.
Oleh karena itu, jika kamu atau orang terdekat mengalami gejalanya, segeralah periksakan diri ke dokter untuk mendapat perawatan yang paling tepat.
Pencegahan dapat melibatkan vaksinasi herpes zoster, terutama untuk mereka yang berusia di atas 50 tahun, yang bertujuan untuk mengurangi tingkat keparahan gejala dan mempercepat proses penyembuhan.
Perlu kamu pahami bahwa vaksin herpes zoster hanya bermanfaat sebagai strategi pencegahan. Hal ini tidak dapat mengobati orang yang saat ini sedang terserang penyakit ini.
Bicaralah dengan dokter tentang pilihan vaksin mana yang tepat untuk kamu dapatkan sesuai dengan kondisi kesehatan.
Namun, virus Varicella zoster tetap dapat menyebar ke orang lain yang belum pernah mengidap cacar atau belum menerima vaksin cacar air.
Bagi mereka yang sudah mengidapnya, ada beberapa upaya yang perlu mereka lakukan untuk meminimalkan risiko penyebaran virus ke orang lain.
Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah penyebaran virus ke orang lain bagi pengidapnya:
- Menutup luka lepuh agar cairan lepuh tidak mengontaminasi benda yang dapat menjadi media penularan.
- Pastikan untuk tidak menyentuh atau menggaruk luka lepuh.
- Rutin mencuci tangan dengan sabun dan air selama minimal 20 detik.
- Menghindari kontak langsung dengan sejumlah kelompok rentan. Mulai dari ibu hamil yang belum pernah cacar air, bayi prematur hingga orang yang memiliki kekebalan tubuh lemah.
Adapun tindakan pencegahan lain yang perlu dilakukan, seperti:
- Konsumsi makanan sehat, tinggi vitamin C dan E untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
- Rutin berolahraga dan cukup tidur.
- Mengelola stres, karena stres dapat memicu reaktivasi virus varicella-zoster.
- Vaksin Zoster (seperti Shingrix) direkomendasikan untuk orang dewasa di atas 50 tahun untuk mengurangi risiko herpes zoster dan komplikasinya.
- Vaksin ini lebih efektif dibandingkan vaksin lama (Zostavax), yang kini jarang digunakan.
Komplikasi Herpes Zoster (Cacar Api)
Herpes zoster bukan hanya menyebabkan ruam kulit yang menyakitkan, tapi juga bisa menimbulkan berbagai komplikasi serius, terutama jika tidak ditangani dengan tepat.
Berikut adalah beberapa komplikasi yang bisa terjadi:
1. Neuralgia Pasca-Herpes (Postherpetic Neuralgia)
Ini merupakan komplikasi paling umum dari herpes zoster. Kondisi ini ditandai dengan rasa nyeri yang sangat tajam dan berlangsung lama, bahkan setelah ruam sembuh. Nyeri bisa bertahan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, dan sering kali mengganggu aktivitas sehari-hari karena saraf yang rusak akibat infeksi virus.
2. Gangguan Penglihatan hingga Kebutaan
Jika infeksi muncul di sekitar area mata (herpes zoster oftalmikus), bisa terjadi peradangan pada saraf mata, kornea, atau retina. Ini dapat menyebabkan nyeri hebat, penglihatan kabur, glaukoma, hingga risiko kebutaan jika tidak segera ditangani oleh dokter spesialis mata.
3. Gangguan Sistem Saraf Pusat dan Tepi
Virus varicella-zoster dapat memicu peradangan otak (ensefalitis), meningitis, atau kerusakan pada saraf pendengaran dan keseimbangan. Akibatnya, kamu bisa mengalami gangguan pendengaran, vertigo, atau kesulitan koordinasi tubuh.
4. Infeksi Sekunder pada Kulit
Luka lepuh akibat herpes zoster bisa menjadi pintu masuk bagi bakteri. Jika kebersihan kulit tidak dijaga dengan baik, bisa terjadi infeksi bakteri sekunder yang menyebabkan luka semakin parah, bernanah, dan meninggalkan bekas luka.
5. Perubahan Warna Kulit
Setelah ruam sembuh, area kulit bekas luka bisa mengalami hipopigmentasi (bercak putih) atau hiperpigmentasi (bercak gelap). Ini disebabkan oleh kerusakan sel-sel pigmen kulit akibat proses peradangan.
6. Gejala Sisa pada Saraf
Beberapa orang mengalami mati rasa, kesemutan, atau gatal berkepanjangan di area bekas ruam. Ini bisa menjadi tanda bahwa saraf masih mengalami iritasi atau belum pulih sepenuhnya setelah infeksi.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera hubungi dokter jika kamu mencurigai terserang herpes zoster dan mengalami gejalanya, terutama jika situasinya seperti:
- Rasa sakit dan ruam yang terjadi di dekat mata. Jika masalah ini tidak diobati, infeksi dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata.
- Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih karena faktor usia meningkatkan risiko komplikasi secara signifikan.
- Memiliki sistem kekebalan yang lemah.
- Ruam yang terjadi menyebar dan menyakitkan.
Jika kamu merasakan gejala kondisi ini tetapi bingung kapan harus memeriksakan kondisi, kamu bisa membaca artikel: Kapan Pengidap Herpes Zoster Perlu Periksa ke Dokter?
Ingat, penanganan yang tepat dan cepat sangat dibutuhkan untuk menentukan langkah pengobatan dan mempercepat proses penyembuhan.
Jangan ragu untuk langsung menghubungi dokter di Halodoc dalam membantu proses penyembuhanmu.

Diperbaharui pada 22 Mei 2026
Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2025. Shingles.
Mayo Clinic. Diakses pada 2025. Shingles.
Healthline. Diakses pada 2025. Shingles: Everything You Should Know; Can a COVID-19 Vaccine Increase Your Risk of Shingles?
NIH. Diakses pada 2025. Can SARS‐CoV‐2 vaccine increase the risk of reactivation of Varicella zoster? A systematic review.
CDC. Diakses pada 2025. Shingles (Herpes Zoster).
Patil A, Goldust M, Wollina U. Diakses pada 2025. Herpes zoster: A Review of Clinical Manifestations and Management.
FAQ
1. Herpes zoster disebabkan oleh apa?
Herpes zoster disebabkan oleh virus Varicella-zoster, yaitu virus yang sama yang menyebabkan cacar air.
Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus ini tetap “tertidur” di dalam tubuh dan dapat kembali aktif bertahun-tahun kemudian, menyebabkan herpes zoster.
2. Apakah herpes zoster dapat menular?
Cacar api apakah menular? Penyakit ini tidak langsung menular ke orang lain sebagai herpes zoster.
Namun, cairan dari lepuhan pada ruam dapat menularkan virus Varicella-zoster kepada seseorang yang belum pernah terkena cacar air atau belum mendapatkan vaksin cacar air.
Orang yang terinfeksi virus ini dapat mengembangkan cacar air, bukan herpes zoster.
3. Berapa lama sembuh dari herpes zoster?
Sebagian besar kasus herpes zoster sembuh dalam jangka waktu 3 hingga 5 minggu.
Gejala seperti ruam umumnya mereda dalam waktu 14-28 hari, tetapi rasa nyeri dapat berlangsung lebih lama, terutama jika terjadi komplikasi seperti neuralgia pasca-herpes.
4. Di mana letak herpes zoster?
Herpes zoster biasanya muncul di satu sisi tubuh, mengikuti jalur saraf yang terinfeksi.
Ruam seringkali terlihat di pinggang, punggung, atau dada, tetapi juga dapat muncul di area wajah, mata, atau leher tergantung saraf mana yang terpengaruh.
5. Bisakah terjadi cacar api pada anak?
cacar api adalah penyakit yang disebabkan oleh virus varisela zoster, yaitu virus yang sama dengan penyebab cacar air.
Ada kemungkinan penyakit ini muncul pada anak yang sebelumnya pernah mengalami cacar air.
Selain itu, anak-anak yang tidak atau belum mendapat vaksin untuk mencegah penyakit cacar air, dan memiliki sistem imun yang lemah, bisa saja mengalami cacar api.
Meski begitu, umumnya cacar api pada anak umumnya lebih jarang terjadi daripada cacar api pada orang dewasa.
6. Apakah herpes zoster bisa kambuh?
Ya, herpes zoster bisa kambuh, meskipun jarang terjadi. Orang yang pernah mengalami herpes zoster masih berisiko terkena penyakit ini lagi di kemudian hari.
7. Apakah vaksin cacar air melindungi dari herpes zoster?
Vaksin cacar air dapat memberikan perlindungan sebagian terhadap herpes zoster.
Orang yang telah divaksinasi cacar air cenderung memiliki risiko lebih rendah terkena herpes zoster dan mengalami gejala yang lebih ringan jika terinfeksi.
Vaksin cacar api umumnya aman. Efek samping yang paling umum adalah nyeri, kemerahan, atau bengkak di tempat suntikan.



