Ad Placeholder Image

Ini Dokter Spesialis yang Paham Pengobatan Alopecia

13 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 26 Agustus 2026

Alopecia perlu segera diobati sebelum kebotakan semakin parah dan meluas.

Ini Dokter Spesialis yang Paham Pengobatan AlopeciaIni Dokter Spesialis yang Paham Pengobatan Alopecia

DAFTAR ISI


Rambut sering kali dianggap sebagai mahkota, baik bagi pria maupun wanita. Memiliki rambut yang sehat, lebat, dan berkilau tentu menjadi dambaan setiap orang karena dapat meningkatkan rasa percaya diri. Namun, bagaimana jika rambut yang kamu banggakan perlahan mulai menipis atau bahkan rontok dalam jumlah yang tidak wajar? Secara medis, kehilangan rambut yang berlebihan ini dikenal dengan istilah alopesia.

Rambut rontok sebenarnya adalah siklus alami tubuh. Normalnya, manusia kehilangan sekitar 50 hingga 100 helai rambut per hari. Rambut yang rontok ini akan digantikan oleh rambut baru yang tumbuh dari folikel yang sama. Masalah baru muncul ketika rambut yang rontok tidak seimbang dengan pertumbuhan rambut baru, atau ketika folikel rambut mengalami kerusakan sehingga siklus pertumbuhan rambut terhenti. Kondisi inilah yang memicu kebotakan atau alopesia.

Alopesia bukanlah sebuah penyakit tunggal, melainkan istilah medis umum untuk kondisi kerontokan rambut. Penyebabnya pun sangat beragam, mulai dari faktor keturunan (genetik), perubahan hormon, kondisi autoimun, stres fisik maupun emosional yang ekstrem, hingga efek samping pengobatan tertentu seperti kemoterapi. Dampak dari alopesia tidak hanya sebatas perubahan penampilan fisik, tetapi sering kali membawa beban psikologis yang cukup berat, seperti penurunan harga diri, kecemasan, hingga depresi.

Memahami penyebab dan jenis kerontokan rambut yang kamu alami adalah langkah pertama yang paling krusial sebelum mencoba berbagai macam pengobatan. Nah, mari kita bahas secara tuntas mengenai apa itu alopesia, jenis-jenisnya, gejala, hingga berbagai pilihan penanganan medis yang tersedia!

Apa Itu Alopesia?

Alopesia adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan kondisi kerontokan rambut dari area tubuh yang biasanya ditumbuhi rambut, terutama di kulit kepala. Kerontokan ini bisa terjadi secara bertahap (gradual) selama bertahun-tahun, atau bisa juga terjadi secara tiba-tiba (akut). Alopesia dapat memengaruhi siapa saja, tanpa memandang usia atau jenis kelamin, meskipun beberapa jenis alopesia lebih rentan dialami oleh kelompok tertentu.

Siklus hidup rambut manusia terdiri dari tiga fase utama: fase anagen (fase pertumbuhan yang berlangsung 2-7 tahun), fase katagen (fase transisi singkat selama beberapa minggu), dan fase telogen (fase istirahat di mana rambut akhirnya rontok, berlangsung sekitar 3 bulan). Pada penderita alopesia, siklus ini terganggu. Folikel rambut bisa saja menyusut, meradang, atau bahkan hancur, sehingga rambut tidak dapat tumbuh kembali atau tumbuh dengan kualitas yang sangat tipis dan rapuh.

Penyebab dan Jenis-Jenis Alopesia

Karena penyebabnya sangat bervariasi, alopesia dibagi menjadi beberapa jenis utama. Berikut adalah klasifikasi alopesia yang paling sering ditemui dalam dunia medis:

1. Androgenetic Alopecia (Kebotakan Pola Pria/Wanita)

Ini adalah jenis kerontokan rambut yang paling umum terjadi. Pada pria, kondisi ini dikenal sebagai male pattern baldness, yang ditandai dengan mundurnya garis rambut di dahi (membentuk huruf M) dan penipisan di area mahkota kepala. Pada wanita (female pattern baldness), penipisan biasanya terjadi secara menyeluruh di bagian atas kulit kepala, tanpa garis rambut yang mundur secara signifikan. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan hormon androgen, khususnya Dihydrotestosterone (DHT) yang membuat folikel rambut menyusut.

2. Alopecia Areata

Alopecia areata adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang folikel rambut yang sehat. Serangan ini menyebabkan peradangan yang membuat rambut rontok dan membentuk pitak berbentuk bulat atau oval (seperti koin) di kulit kepala. Pada beberapa kasus, kondisi ini dapat berkembang menjadi alopecia totalis (hilangnya seluruh rambut di kulit kepala) atau alopecia universalis (hilangnya seluruh rambut di tubuh, termasuk alis, bulu mata, dan bulu ketiak).

3. Telogen Effluvium

Jenis alopesia ini terjadi ketika sejumlah besar folikel rambut di kulit kepala secara prematur memasuki fase istirahat (telogen). Akibatnya, rambut rontok secara massal, biasanya terlihat saat menyisir atau mencuci rambut. Telogen effluvium sering kali dipicu oleh stres fisik atau emosional yang parah, seperti melahirkan, operasi besar, penyakit berat (seperti infeksi COVID-19 yang parah), penurunan berat badan drastis, atau kekurangan nutrisi ekstrem.

4. Anagen Effluvium

Anagen effluvium adalah kerontokan rambut yang terjadi sangat cepat pada fase pertumbuhan aktif (anagen). Kondisi ini paling sering diakibatkan oleh perawatan medis yang menggunakan bahan kimia beracun atau radiasi, seperti kemoterapi untuk pengobatan kanker. Rambut biasanya akan tumbuh kembali setelah pengobatan dihentikan.

5. Traction Alopecia

Kerontokan ini murni disebabkan oleh gaya tarik mekanis yang terus-menerus pada akar rambut. Wanita yang sering mengikat rambut terlalu kencang (seperti model ponytail), menggunakan kepang kecil-kecil (cornrows), atau sering memakai ekstensi rambut sangat berisiko mengalami traction alopecia. Jika kebiasaan ini dihentikan lebih awal, rambut dapat tumbuh kembali. Namun jika dibiarkan bertahun-tahun, kerusakan folikel bisa menjadi permanen.

6. Cicatricial Alopecia (Alopesia Parut)

Ini adalah kelompok gangguan rambut yang langka namun berbahaya. Pada cicatricial alopecia, peradangan merusak folikel rambut secara permanen dan menggantinya dengan jaringan parut. Begitu jaringan parut terbentuk, rambut tidak akan pernah bisa tumbuh lagi di area tersebut. Kondisi ini sering kali disertai dengan rasa gatal kronis, nyeri, dan kemerahan di kulit kepala.

Faktor Risiko yang Memperparah Kerontokan Rambut
  1. Riwayat keluarga: Genetika memainkan peran terbesar dalam kebotakan pola pria dan wanita.
  2. Usia: Pertumbuhan rambut melambat secara alami seiring bertambahnya usia.
  3. Perubahan hormon: Sindrom ovarium polikistik (PCOS), menopause, dan masalah tiroid dapat memicu kerontokan.
  4. Kekurangan nutrisi: Diet rendah protein, kekurangan zat besi, zinc, atau vitamin D sangat memengaruhi kesehatan folikel rambut.
  5. Perawatan rambut berlebihan: Penggunaan alat penata rambut bersuhu tinggi (catokan, hair dryer) dan bahan kimia keras (pewarna, bleaching) merusak struktur protein rambut.

Gejala Alopesia yang Perlu Diwaspadai

Kerontokan rambut dapat muncul dengan berbagai cara, tergantung pada apa yang menyebabkannya. Beberapa gejala mungkin muncul secara mendadak, sementara yang lain terjadi sangat lambat hingga hampir tidak disadari pada awalnya. Jika kamu mengalami gejala kerontokan rambut yang parah secara tiba-tiba, sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri guna menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit sistemik yang mendasarinya.

Secara umum, tanda-tanda alopesia meliputi:

  • Penipisan bertahap di bagian atas kepala: Tanda paling umum dari kebotakan genetik seiring bertambahnya usia.
  • Pitak melingkar atau botak setempat: Kulit kepala yang pitak biasanya terasa halus, tidak bersisik, namun terkadang terasa gatal atau nyeri sebelum rambut benar-benar rontok.
  • Rambut rontok segenggam: Terjadi secara tiba-tiba akibat syok fisik atau emosional. Segenggam rambut bisa rontok saat keramas, menyisir, atau bahkan hanya dengan menarik rambut secara perlahan.
  • Kerontokan rambut di seluruh tubuh: Beberapa kondisi dan perawatan medis (seperti kemoterapi) dapat menyebabkan hilangnya rambut di sekujur tubuh, bukan hanya di kepala.
  • Bercak bersisik yang menyebar di kulit kepala: Ini biasanya merupakan tanda infeksi jamur (kurap/tinea capitis). Bisa disertai rambut patah, kemerahan, dan pembengkakan.

Bagaimana Dokter Mendiagnosis Alopesia?

Menentukan penyebab pasti kerontokan rambut terkadang menantang karena banyaknya faktor yang bisa terlibat. Saat kamu berkonsultasi, dokter spesialis kulit (dermatolog) akan memulai dengan menanyakan riwayat kesehatan secara detail, riwayat kebotakan dalam keluarga, pola makan, tingkat stres, hingga obat-obatan atau suplemen yang sedang dikonsumsi.

Beberapa tes yang mungkin dilakukan dokter antara lain:

  • Pull Test (Tes Tarik): Dokter akan menarik perlahan beberapa lusin helai rambut untuk melihat berapa banyak yang terlepas. Ini membantu menentukan tahap proses kerontokan.
  • Tes Darah: Sangat penting untuk memeriksa fungsi kelenjar tiroid (TSH), kadar zat besi (ferritin), kadar vitamin D, dan hormon androgen. Kelainan pada hasil tes darah ini sering kali menjadi penyebab utama telogen effluvium.
  • Trichoscopy: Dokter menggunakan alat khusus seperti mikroskop (dermatoskop) untuk memeriksa kulit kepala dan batang rambut dengan perbesaran tinggi. Alat ini membantu melihat tanda-tanda peradangan atau kelainan pada folikel.
  • Biopsi Kulit Kepala: Jika dicurigai adanya cicatricial alopecia atau infeksi jamur kronis, dokter mungkin akan mengambil sampel kecil dari kulit kepala (biopsi) untuk diperiksa di laboratorium.

Pilihan Pengobatan dan Penanganan Medis

Penting untuk dipahami bahwa tidak semua jenis alopesia bisa disembuhkan secara total. Namun, intervensi medis yang tepat dapat memperlambat laju kerontokan, merangsang folikel yang sedang tertidur, atau menyamarkan kebotakan. Efektivitas pengobatan sangat bergantung pada seberapa dini diagnosis ditegakkan.

1. Obat Topikal (Oles)

Salah satu terapi lini pertama untuk kebotakan pola pria/wanita dan alopecia areata ringan adalah penggunaan obat oles seperti Minoxidil. Cairan atau busa ini dioleskan langsung ke kulit kepala setiap hari. Obat ini bekerja dengan memperlebar pembuluh darah di sekitar folikel rambut, meningkatkan aliran darah, oksigen, dan nutrisi ke akar rambut sehingga memperpanjang fase anagen (pertumbuhan). Hasilnya biasanya baru terlihat setelah pemakaian rutin selama 3 hingga 6 bulan.

2. Obat Oral (Minum)

Untuk kasus kebotakan yang lebih resisten, dokter mungkin akan meresepkan obat oral. Finasteride adalah obat resep yang sangat umum digunakan untuk pria penderita androgenetic alopecia. Obat ini bekerja dengan menghambat enzim yang mengubah testosteron menjadi DHT, hormon yang merusak folikel rambut. Untuk wanita, terapi anti-androgen seperti spironolactone terkadang diresepkan untuk memblokir efek hormon laki-laki pada kulit kepala.

3. Suntikan Kortikosteroid

Pada penderita alopecia areata, dokter spesialis kulit sering kali menyuntikkan kortikosteroid langsung ke area pitak di kulit kepala. Steroid bekerja dengan cara menekan sistem kekebalan tubuh lokal, sehingga menghentikan serangan autoimun pada folikel rambut. Perawatan ini biasanya diulang setiap 4 hingga 6 minggu sekali.

4. Terapi Laser Tingkat Rendah (LLLT)

Terapi menggunakan sinar laser merah (Low-Level Laser Therapy) bertujuan untuk menstimulasi metabolisme sel di dalam folikel rambut. Terapi yang sudah disetujui oleh FDA ini terbukti efektif untuk beberapa orang dalam meningkatkan kepadatan rambut dan mengurangi peradangan folikel.

5. Platelet-Rich Plasma (PRP)

Terapi PRP semakin populer sebagai pengobatan modern untuk alopesia. Prosedur ini melibatkan pengambilan darah pasien, lalu diputar dalam mesin sentrifus untuk memisahkan plasma yang kaya akan trombosit (platelet). Plasma konsentrasi tinggi ini kemudian disuntikkan kembali ke kulit kepala pasien. Trombosit mengandung banyak faktor pertumbuhan (growth factors) yang secara aktif merangsang perbaikan jaringan dan memicu folikel rambut yang tidak aktif menjadi aktif kembali.

6. Operasi Transplantasi Rambut

Bagi pasien yang mengalami kebotakan permanen di area tertentu (terutama androgenetic alopecia stadium lanjut), transplantasi rambut adalah solusi bedah yang efektif. Dokter bedah akan mengambil folikel rambut dari area kepala yang rambutnya masih lebat (biasanya bagian belakang kepala, yang kebal terhadap hormon DHT), lalu menanamkannya (mencangkok) ke area yang botak.

Perawatan Mandiri dan Gaya Hidup

Selain mengandalkan pengobatan medis dari dokter, perubahan gaya hidup dan cara kamu merawat rambut sehari-hari sangat menentukan keberhasilan pengobatan alopesia. Kulit kepala yang sehat adalah fondasi bagi pertumbuhan rambut yang kuat.

  • Gunakan Sampo yang Lembut: Hindari sampo yang mengandung deterjen keras seperti sulfat (SLS/SLES) karena dapat mengikis minyak alami kulit kepala dan membuat rambut rapuh.
  • Hindari Manipulasi Fisik Berlebihan: Kurangi kebiasaan menyisir rambut saat sedang basah (karena rambut lebih rentan patah saat basah). Hindari gaya rambut ketat yang menarik akar rambut.
  • Perhatikan Asupan Gizi: Selain pengobatan medis, kamu mungkin juga perlu beli vitamin atau suplemen rambut yang mengandung biotin, zinc, zat besi, vitamin D, dan asam lemak omega-3. Pastikan kamu mendapat asupan protein yang cukup, karena rambut pada dasarnya terbentuk dari protein keratin.
  • Manajemen Stres: Mengingat stres adalah pemicu utama telogen effluvium dan dapat memperburuk kondisi autoimun, meluangkan waktu untuk meditasi, yoga, atau aktivitas relaksasi sangat dianjurkan.

Dampak Psikologis Alopesia

Sangat penting untuk membahas sisi emosional dari penyakit alopesia. Kehilangan rambut bisa menjadi pengalaman yang sangat traumatis. Banyak penderita alopesia merasa kehilangan identitas diri, mengalami penurunan rasa percaya diri yang drastis, hingga menarik diri dari interaksi sosial. Pada kasus yang parah, kerontokan rambut dapat memicu gangguan kecemasan (anxiety) dan depresi klinis.

Jika kamu atau orang terdekat merasa tertekan secara emosional akibat kerontokan rambut, jangan ragu untuk mencari dukungan. Bergabung dengan kelompok dukungan (support group) penderita alopesia atau berkonsultasi dengan psikolog dapat sangat membantu dalam menerima kondisi dan menemukan strategi koping yang positif.

Studi Mengenai Inhibitor JAK untuk Alopecia Areata

New England Journal of Medicine menerbitkan studi klinis yang signifikan yang menjelaskan bahwa penggunaan obat golongan Janus kinase (JAK) inhibitors, seperti Baricitinib, memberikan harapan baru bagi pasien alopecia areata tingkat parah. Studi tersebut menunjukkan bahwa pasien yang mengonsumsi obat ini mengalami pertumbuhan rambut yang substansial di kulit kepala setelah beberapa bulan terapi, dibandingkan dengan kelompok plasebo.

Terobosan ini sangat relevan karena selama ini pengobatan untuk alopecia areata yang sudah meluas sangat terbatas. Penghambat JAK bekerja dengan mengganggu sinyal peradangan spesifik di dalam tubuh yang memicu sistem imun untuk menyerang folikel rambut, sehingga memberikan peluang bagi rambut untuk tumbuh kembali secara normal.

Dokter di Halodoc yang Bisa Bantu Menangani Alopecia

Apabila kamu mengalami tanda-tanda alopecia seperti di atas, sebaiknya segera hubungi dokter di Halodoc terkait pengobatannya.

Mereka bisa memberikan saran perawatan yang tepat serta meresepkan obat jika dibutuhkan.

Kamu bisa menghubungi dokter spesialis kulit yang sudah memiliki pengalaman lebih dari 8 tahun dan mendapatkan rating yang baik dari para pasien di Halodoc.

Berikut daftar dokternya:

1. dr. Ryski Meilia Novarina Sp.D.V.E

Kamu bisa menghubungi  dr. Ryski Meilia Novarina Sp.D.V.E. Ia merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang pada 2010 dan Universitas Airlangga pada 2016. 

Dokter Ryski saat ini berpraktik di Gresik, Jawa Timur dan tergabung sebagai tergabung sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI).

Berbekal pengalaman selama 13 tahun, dr. Ryski Meilia Novarina Sp.D.V.E memberikan layanan konsultasi di Halodoc seputar cara mengatasi kebotakan alopecia.

Chat dr. Ryski Meilia Novarina Sp.D.V.E mulai dari Rp 55.000,- di Halodoc.

2. dr. Thigita Aga Pandaleke Sp.D.V.E

Dokter Thigita Aga Pandaleke Sp.D.V.E merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi pada 2007 dan 2015..

Saat ini, dokter Thigita Aga Pandaleke Sp.D.V.E sedang menjalani praktik di Manado, Sulawesi Utara. Ia juga tergabung sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI).

Berpengalaman sebagai dokter spesialis kulit selama 16 tahun, dr. Thigita Aga Pandaleke Sp.D.V.E mampu memberikan layanan konsultasi di Halodoc seputar cara mengobati alopecia.

Bukan cuma itu, ia juga dapat memberikan konsultasi seputar kulit sensitif, raum kulit dan gigitan serangga, estetika, kulit anak dan bayi, serta masalah jerawat. 

Chat dr. Thigita Aga Pandaleke Sp.D.V.E dari Rp 60.000,- di Halodoc.

3. dr. Monica Rosalind Kawilarang Sp.D.V.E

Kamu juga bisa menghubungi dokter Monica Rosalind Kawilarang Sp.D.V.E. Ia merupakan alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada 2012 dan Universitas Udayana pada 2020. 

Ia kini berpraktik di Surabaya, Jawa Timur, dan tergabung sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI).

Berbekal pengalaman selama 11 tahun, dr. Monica Rosalind Kawilarang Sp.D.V.E memberikan layanan konsultasi di Halodoc seputar cara menangani alopecia.

Ia juga bisa memberikan solusi terkait penyakit kelamin, kulit anak dan bayi, jerawat, ruam kulit dan gigitan serangga, serta estetika. 

Chat dr. Monica Rosalind Kawilarang Sp.D.V.E mulai dari Rp 60.000,- di Halodoc.

Adapun 10 Cara Mengatasi Kebotakan Dini pada Pria yang biasanya dokter rekomendasikan. 

4. dr. Halim Perdana Kusuma Sp.D.V.E

Rekomendasi selanjutnya adalah dr. Halim Perdana Kusuma Sp.D.V.E. Ia merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara pada 2005 dan Universitas Sebelas Maret Surakarta pada 2021. 

Dokter Halim Perdana Kusuma Sp.D.V.E saat ini berpraktik di Kotabaru Gondokusuman, Yogyakarta, dan tergabung sebagai tergabung sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI).

Dengan pengalaman selama 20 tahun yang ia miliki, dr. Halim Perdana Kusuma Sp.D.V.E memberikan layanan konsultasi di Halodoc perawatan untuk menangani alopecia.

Chat dr. Halim Perdana Kusuma Sp.D.V.E mulai dari Rp 55.000,- di Halodoc.

5. dr. Ardelia Dyah Ayu Puspita Sari Sp.D.V.E

Dokter kulit lain yang bisa kamu hubungi adalah dr. Ardelia Dyah Ayu Puspita Sari Sp.D.V.E. Ia merupakan alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada 2009 dan Universitas Sebelas Maret pada 2019. 

Ia kini berpraktik di Surakarta, Jawa Tengah, dan tergabung sebagai tergabung sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI).

Memiliki pengalaman selama 15 tahun, dr. Ardelia Dyah Ayu Puspita Sari Sp.D.V.E memberikan layanan konsultasi di Halodoc tentang perawatan alopecia.

Chat dr. Ardelia Dyah Ayu Puspita Sari Sp.D.V.E mulai dari Rp 55.000,- di Halodoc.

Itulah berbagai daftar dokter spesialis kulit yang bisa kamu hubungi untuk bertanya seputar cara mengatasi alopecia.

Tak perlu khawatir jika dokter sedang tidak tersedia atau offline

Sebab, kamu tetap bisa membuat janji konsultasi di lain waktu melalui aplikasi Halodoc

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kulit via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kulit terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
American Academy of Dermatology Association. Diakses pada 2024. Hair Loss: Who Gets and Causes.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Hair loss – Symptoms and causes.
National Institutes of Health (NIH) – PubMed. Diakses pada 2024. Alopecia Areata: An Updated Review.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Alopecia Areata: Causes, Symptoms & Treatment.

FAQ

1. Apakah alopesia bisa disembuhkan secara total?

Tergantung pada jenisnya. Telogen effluvium (kerontokan karena stres/pasca melahirkan) biasanya akan sembuh dan rambut tumbuh kembali secara alami. Namun, kebotakan genetik (androgenetic alopecia) dan jaringan parut (cicatricial alopecia) bersifat ireversibel, pengobatan hanya bertujuan untuk memperlambat kerontokan dan mempertahankan rambut yang tersisa.

2. Apakah stres bisa menjadi penyebab utama kebotakan?

Ya, stres fisik atau emosional yang sangat ekstrem dapat memicu kondisi yang disebut telogen effluvium, di mana akar rambut memasuki fase istirahat sebelum waktunya. Namun, kerontokan akibat stres biasanya tidak permanen dan rambut dapat tumbuh kembali setelah pemicu stres tertangani.

3. Apakah aman menggunakan Minoxidil yang dibeli bebas di apotek?

Minoxidil topikal (oles) dengan konsentrasi 2% hingga 5% umumnya aman digunakan untuk kebotakan pola pria/wanita dan bisa didapatkan tanpa resep dokter. Namun, penggunaannya harus rutin. Jika kamu berhenti menggunakannya, kerontokan biasanya akan kembali terjadi dalam beberapa bulan.

4. Kapan waktu yang tepat untuk pergi ke dokter terkait kerontokan rambut?

Kamu harus segera memeriksakan diri ke dokter kulit jika kerontokan rambut terjadi secara mendadak, rontok dalam bentuk pitak/koin, disertai kemerahan, gatal parah, nyeri, rasa terbakar di kulit kepala, atau jika kerontokan terjadi bersamaan dengan gejala sistemik lain seperti kelelahan luar biasa dan perubahan berat badan mendadak.