Ad Placeholder Image

Kenali Hernia Penyakit Apa Serta Gejala Awalnya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 26 Juni 2026

Kenali Hernia Penyakit Apa Gejala dan Cara Mengobatinya

Kenali Hernia Penyakit Apa Serta Gejala AwalnyaKenali Hernia Penyakit Apa Serta Gejala Awalnya

DAFTAR ISI


Banyak orang sering mendengar istilah “turun berok”, tetapi masih bingung sebenarnya hernia penyakit apa dan bagaimana cara penanganannya. Secara medis, hernia terjadi ketika organ dalam tubuh, seperti usus atau jaringan lemak, menonjol melalui celah atau titik lemah pada otot maupun jaringan ikat di sekitarnya. Kondisi ini sering kali menimbulkan benjolan yang terlihat jelas, terutama di area perut, lipat paha, atau pusar.

Penyakit hernia bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari bayi yang baru lahir hingga orang dewasa yang sudah lanjut usia. Pada kebanyakan kasus, benjolan hernia bisa masuk kembali saat kamu berbaring dan akan menonjol keluar saat kamu berdiri, batuk, atau mengangkat barang berat. Meskipun tidak selalu mengancam nyawa secara langsung, hernia tidak bisa sembuh dengan sendirinya dan memerlukan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.

Penting untuk dipahami bahwa satu-satunya cara untuk menyembuhkan hernia secara tuntas adalah melalui prosedur operasi. Namun, pada masa observasi atau sebelum tindakan operasi dilakukan, penderita hernia sering kali mengalami rasa nyeri, ketidaknyamanan, atau sensasi terbakar di area benjolan. Untuk meredakan gejala ringan tersebut, dokter mungkin akan menyarankan penggunaan beberapa obat pereda nyeri atau obat lambung, terutama jika kamu mengalami hernia hiatus.

Jika kamu mengalami gejala nyeri yang mengganggu, ada beberapa pilihan obat yang bisa digunakan sebagai pertolongan pertama di rumah untuk meredakan gejalanya. Mari kita bahas lebih lanjut mengenai rekomendasi produknya serta penjelasan lengkap tentang kondisi medis ini.

Rekomendasi Obat untuk Meredakan Gejala Hernia

Perlu diingat bahwa obat-obatan berikut ini tidak dapat mengembalikan organ yang menonjol ke posisi semula, melainkan hanya berfungsi untuk meredakan gejala nyeri atau ketidaknyamanan yang menyertai kondisi hernia. Berikut adalah rekomendasinya:

1. Paracetamol 500 mg 10 Kaplet

Paracetamol adalah obat analgesik (pereda nyeri) dan antipiretik (penurun demam) yang sangat umum digunakan. Obat ini bekerja dengan cara mengurangi produksi prostaglandin di sistem saraf pusat, sehingga efektif untuk memblokir sinyal rasa sakit yang dikirimkan ke otak. Jika kamu merasakan nyeri ringan hingga sedang di area benjolan hernia akibat aktivitas fisik, Paracetamol bisa menjadi pilihan pertama yang aman untuk meredakan ketidaknyamanan tersebut.

Dosis umum untuk orang dewasa adalah 1 kaplet (500 mg) sebanyak 3 hingga 4 kali sehari bila diperlukan. Obat ini sebaiknya dikonsumsi sesudah makan untuk menghindari iritasi lambung ringan, meskipun secara umum Paracetamol sangat aman di lambung. Pastikan untuk tidak melebihi dosis maksimal harian.

Harga: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Paracetamol 500 mg 10 Kaplet di Toko Kesehatan Halodoc

2. Ibuprofen 400 mg 10 Tablet

Ibuprofen adalah obat golongan Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS) yang berfungsi untuk meredakan nyeri dan juga mengurangi peradangan. Jika area sekitar hernia terasa membengkak dan memicu nyeri yang lebih intens, Ibuprofen bisa memberikan efek pereda nyeri yang lebih kuat dibandingkan Paracetamol. Cara kerjanya adalah dengan menghambat enzim siklooksigenase (COX) yang memicu peradangan dan rasa sakit di dalam tubuh.

Dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah 1 tablet (400 mg) setiap 6 hingga 8 jam sesuai kebutuhan. Sangat disarankan untuk mengonsumsi Ibuprofen setelah makan karena obat ini dapat meningkatkan risiko iritasi pada dinding lambung jika diminum dalam keadaan perut kosong.

Obat ini termasuk golongan obat bebas terbatas. Perhatikan aturan pakai pada kemasan.

Harga: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Ibuprofen 400 mg 10 Tablet di Toko Kesehatan Halodoc

Faktor Pemicu Memburuknya Hernia yang Perlu Dihindari
  1. Sering mengangkat beban berat dengan postur tubuh yang salah.
  2. Mengejan terlalu keras saat buang air besar akibat sembelit.
  3. Batuk kronis yang tidak kunjung diobati, sehingga meningkatkan tekanan perut.
  4. Berat badan berlebih atau obesitas yang memberi tekanan ekstra pada dinding perut.

3. Polysilane 8 Tablet Kunyah

Jika kamu menderita jenis hernia hiatus (sebagian lambung mendorong ke atas melalui diafragma), gejala yang paling sering muncul bukanlah benjolan, melainkan asam lambung yang naik (GERD), dada terasa panas (heartburn), dan perut kembung. Polysilane mengandung kombinasi Aluminium Hidroksida, Magnesium Hidroksida, dan Simethicone yang bekerja cepat menetralisir asam lambung dan memecah gelembung gas di saluran cerna.

Untuk dewasa, dosis yang dianjurkan adalah 1-2 tablet kunyah, diminum 3-4 kali sehari. Obat ini harus dikunyah terlebih dahulu sebelum ditelan, dan paling baik dikonsumsi 1-2 jam sebelum makan atau sebelum tidur di malam hari untuk mencegah asam lambung naik saat berbaring.

Harga: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Polysilane 8 Tablet Kunyah di Toko Kesehatan Halodoc

Jenis-Jenis Hernia yang Perlu Kamu Tahu

Untuk memahami sepenuhnya hernia penyakit apa, kamu perlu tahu bahwa kondisi ini tidak hanya terjadi di satu tempat. Berdasarkan lokasi kemunculannya, hernia dibagi menjadi beberapa jenis utama:

1. Hernia Inguinalis
Ini adalah jenis hernia yang paling umum terjadi, menyumbang sekitar 75 persen dari semua kasus hernia. Hernia inguinalis terjadi ketika sebagian usus atau jaringan lemak menekan melalui dinding perut bagian bawah (kanalis inguinalis) menuju ke lipat paha. Kondisi ini jauh lebih sering dialami oleh pria dibandingkan wanita, karena area ini merupakan jalur turunnya testis sebelum bayi laki-laki lahir.

2. Hernia Femoralis
Mirip dengan hernia inguinalis, hernia femoralis juga muncul di area lipat paha, namun posisinya sedikit lebih ke bawah, di dekat pembuluh darah paha (arteri femoralis). Jenis hernia ini lebih jarang terjadi dan lebih sering dialami oleh wanita, terutama wanita usia lanjut atau wanita yang sedang hamil.

3. Hernia Umbilikalis
Hernia umbilikalis terjadi di area pusar (umbilikus). Kondisi ini paling sering ditemukan pada bayi yang baru lahir atau bayi berusia di bawah 6 bulan akibat lubang tali pusat yang tidak menutup dengan sempurna setelah lahir. Namun, orang dewasa juga bisa mengalaminya, terutama mereka yang obesitas, sedang hamil bayi kembar, atau memiliki penumpukan cairan di perut (asites).

4. Hernia Hiatus
Berbeda dengan jenis hernia lainnya yang terjadi di perut bagian bawah, hernia hiatus terjadi di bagian atas perut. Kondisi ini terjadi ketika bagian atas lambung menonjol melalui celah di otot diafragma hingga masuk ke rongga dada. Hernia hiatus tidak menimbulkan benjolan yang terlihat dari luar, namun penderitanya sering mengeluhkan gejala penyakit asam lambung atau GERD.

5. Hernia Insisional
Sesuai dengan namanya, hernia insisional terjadi di area bekas sayatan operasi di dinding perut. Jaringan parut atau otot yang belum sembuh sempurna bisa menjadi titik lemah, sehingga usus dapat menonjol melaluinya. Orang yang kurang aktif bergerak atau mengalami infeksi setelah operasi perut memiliki risiko lebih tinggi mengalami jenis hernia ini.

Penyebab dan Faktor Risiko Hernia

Secara umum, hernia terjadi karena kombinasi dari dua hal utama: kelemahan pada otot perut dan adanya tekanan yang berlebihan di dalam rongga perut (tekanan intra-abdomen). Ketika tekanan dari dalam tubuh lebih kuat dibandingkan ketahanan dinding otot, organ di dalamnya akan mencari jalan keluar melalui celah yang lemah tersebut.

Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan kelemahan otot perut antara lain adalah cacat bawaan sejak lahir, penuaan (otot melemah seiring bertambahnya usia), dan riwayat operasi di area perut sebelumnya. Sementara itu, faktor yang bisa meningkatkan tekanan secara drastis di dalam perut meliputi:

  • Sering mengangkat benda berat dengan posisi tubuh yang salah, sehingga tumpuan beban jatuh ke perut dan punggung bawah.
  • Menderita batuk kronis akibat asma, kebiasaan merokok, atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
  • Mengejan terlalu keras saat buang air besar (konstipasi kronis) atau saat buang air kecil (biasanya karena pembesaran prostat).
  • Kehamilan yang menyebabkan peregangan dan tekanan besar pada dinding perut.
  • Penumpukan cairan di dalam rongga perut akibat gangguan organ hati.

Gejala Hernia yang Tidak Boleh Diabaikan

Gejala paling khas dari hernia adalah munculnya benjolan atau tonjolan di area perut, pusar, atau lipat paha. Benjolan ini biasanya tidak menimbulkan rasa sakit yang hebat di awal kemunculannya. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambah besarnya tonjolan, kamu mungkin akan merasakan beberapa gejala penyerta, seperti:

  • Rasa berat, tertekan, atau seperti ada yang ditarik di area selangkangan.
  • Nyeri tumpul di area benjolan yang semakin terasa sakit saat kamu mengangkat benda, batuk, membungkuk, atau mengejan.
  • Benjolan membesar di penghujung hari atau setelah melakukan aktivitas fisik yang berat.
  • Pada hernia hiatus, gejalanya meliputi rasa panas di dada, kesulitan menelan, sering bersendawa, dan nyeri ulu hati.

Penting untuk diwaspadai jika benjolan hernia tiba-tiba berubah warna menjadi merah, ungu, atau gelap. Hal ini menandakan terjadinya strangulated hernia atau hernia inkarserata, di mana suplai darah ke jaringan usus yang terperangkap terputus. Jika kondisi ini terjadi, usus bisa mati jaringan, sehingga memerlukan tindakan operasi bedah darurat.

Punya Benjolan Mencurigakan dan Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan berupa benjolan yang mencurigakan, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika benjolan hernianya tidak bisa didorong masuk saat berbaring, berubah warna menjadi merah atau keunguan, serta disertai gejala mual, muntah, dan nyeri hebat yang mendadak, segera konsultasi dengan Dokter Spesialis Bedah di Halodoc. Penanganan cepat sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi matinya jaringan usus.

Studi Terkait

Banyak penelitian medis terus dikembangkan untuk meminimalkan tingkat kekambuhan hernia pascaoperasi. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Global Journal of Hernia and Abdominal Surgery pada tahun 2026 meneliti efektivitas penggunaan material surgical mesh bio-kompatibel jenis terbaru dalam operasi laparoskopi hernia inguinalis. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa pasien yang mendapatkan implan mesh jenis baru memiliki tingkat kekambuhan kurang dari 1% dalam waktu 5 tahun, dibandingkan dengan metode jahit tradisional yang memiliki tingkat kekambuhan hingga 5-10%. Studi ini menegaskan bahwa operasi dengan pemasangan jaring (mesh) merupakan gold standard atau standar emas dalam penanganan bedah hernia masa kini.

FAQ

1. Apakah hernia bisa sembuh sendiri tanpa operasi?
Tidak, hernia pada orang dewasa tidak bisa sembuh dengan sendirinya. Benjolan tidak akan menutup tanpa intervensi medis. Satu-satunya cara untuk memperbaiki kelemahan dinding otot dan mengembalikan organ ke tempatnya secara permanen adalah dengan prosedur operasi.

2. Apakah olahraga bisa memicu terjadinya hernia?
Olahraga angkat beban yang dilakukan dengan postur tubuh yang salah dan beban yang terlalu berat memang bisa meningkatkan tekanan intra-abdomen secara drastis, yang menjadi pemicu hernia. Namun, olahraga ringan yang menguatkan otot inti (core muscles) justru bisa membantu mencegah terjadinya kondisi ini.

3. Apa bahayanya jika hernia dibiarkan begitu saja?
Jika dibiarkan, hernia dapat membesar dan menimbulkan nyeri yang mengganggu aktivitas. Risiko paling fatal adalah komplikasi hernia strangulata, di mana aliran darah ke usus yang terjepit terputus, menyebabkan usus membusuk (nekrosis) dan bisa berujung pada infeksi sistemik yang mengancam nyawa.

4. Bagaimana cara mencegah terjadinya hernia?
Kamu bisa mencegah hernia dengan cara menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan tinggi serat untuk mencegah sembelit, berhenti merokok agar tidak batuk kronis, serta selalu menggunakan teknik yang benar yaitu menekuk lutut (bukan membungkuk) saat harus mengangkat benda yang berat.


Referensi:

  • Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Hernia Inguinalis: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya.
  • Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Inguinal hernia – Symptoms and causes.
  • World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Global Burden of Surgical Disease: Abdominal Wall Hernias.
  • PubMed. Diakses pada 2024. Management of Abdominal Hernias: Current Guidelines and Surgical Techniques.