Depresi Postpartum

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Depresi Postpartum 

Depresi postpartum adalah keadaan ketika seorang ibu merasakan rasa sedih, bersalah, dan bentuk umum depresi lainnya dalam jangka waktu yang lama setelah melahirkan.

Hal ini sering dikarenakan karena kelahiran bayi itu sendiri. Kelahiran bayi dapat memberikan dorongan perasaan dan emosi yang kuat, mulai dari kesenangan dan kebahagiaan hingga ketakutan. Lonjakan emosi dari kebahagiaan hingga rasa sedih dan ketakutan ini yang berperan dalam terjadinya depresi postpartum.

 

Faktor Risiko Depresi Postpartum 

Depresi postpartum sering terjadi pada ibu yang baru pertama kali memiliki anak. Namun, tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak selanjutnya. Berikut faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko depresi postpartum, yaitu:

    • Riwayat gangguan depresi sebelumnya.
    • Riwayat gangguan bipolar.
    • Riwayat depresi postpartum pada kehamilan sebelumnya.
    • Mengalami kejadian yang berat dalam satu tahun terakhir yang mengganggu emosi dan psikis.
    • Bayi memiliki kebutuhan khusus atau keadaan khusus.
    • Bayi kembar, atau kehamilan triplet yang membutuhkan perhatian lebih.
    • Kesulitan dalam memberikan ASI.
    • Memiliki permasalahan dengan pasangan.
    • Masalah finansial saat menjelang persalinan.
    • Kehamilan yang tidak diinginkan atau tidak direncanakan.

 

Penyebab Depresi Postpartum

Tidak ada penyebab tunggal yang menyebabkan depresi postpartum. Namun, permasalahan psikis maupun perubahan kondisi fisik memiliki peran dalam depresi postpartum.

  • Perubahan fisik. Setelah persalinan, terdapat perubahan hormon yang sangat besar dalam tubuh perempuan (terutama hormon wanita estrogen dan progesteron). Hormon tubuh lain, seperti yang diproduksi oleh tiroid juga mengalami perubahan sebagai akibat penyesuaian dari perubahan tersebut. Hormon tiroid ini yang salah satunya berperan dalam memberikan perubahan mood setelah melahirkan.
  • Permasalahan psikis. Memiliki bayi (terutama untuk yang pertama kali) sering kali menyebabkan ibu menjadi cemas dan tidak percaya diri dengan kemampuannya merawat bayi baru lahir. Perasaan seperti ini yang berkepanjangan dapat menyebabkan ibu jatuh dalam keadaan depresi.

 

Gejala Depresi Postpartum

Sebelum mencapai depresi postpartum, ada keadaan yang dinamakan baby blues syndrome, yaitu gangguan perubahan mood setelah melahirkan. Depresi post partum memiliki gejala yang mirip dengan baby blues syndrome, dengan durasi yang lebih lama dan intensitas yang lebih berat, seperti:

  • Gangguan perubahan mood.
  • Cemas.
  • Sedih.
  • Sensitif secara emosional terhadap sesuatu.
  • Merasa bersalah.
  • Menangis berlebihan.
  • Penurunan konsentrasi.
  • Gangguan makan.
  • Gangguan tidur, sulit tidur (insomnia) atau terlalu banyak tidur.
  • Menjauh dari keluarga.
  • Kesulitan dalam merawat bayi.

 

Diagnosis Depresi Postpartum 

Diagnosis ditegakkan setelah dokter mengobservasi gejala yang dirasakan oleh ibu melalui sesi wawancara mendalam yang dilakukan oleh dokter. Selama proses observasi dokter mungkin akan melakukan:

    • Memberikan kuesioner untuk diisi, terkait dengan gejala depresi yang dirasakan
    • Pemeriksaan darah untuk mengetahui adakah gangguan hormon yang dapat mendasari keluhan yang timbul.

 

Komplikasi  Depresi Postpartum 

Jika tidak ditangani dengan tepat, depresi post partum dapat mengganggu hubungan antara anak dengan ibu dan menyebabkan permasalahan dalam keluarga.

    • Bagi ibu. Depresi postpartum yang dibiarkan dan tidak diberikan penanganan dapat bertahan hingga bulanan. Hal ini meningkatkan risiko ibu terkena gangguan depresi kronik dan episode depresi mayor lainnya.
    • Bagi ayah. Depresi postpartum dapat menimbulkan efek yang berkepanjangan dalam keluarga. Ibu dengan depresi postpartum dapat meningkatkan risiko depresi pada ayah.
    • Bagi anak. Anak dengan ibu yang mengalami depresi postpartum kemungkinan memiliki gangguan emosi dan perilaku, seperti gangguan makan dan tidur, mudah menangis, dan keterlambatan dalam bicara.

 

Pengobatan Depresi Postpartum

Pengobatan depresi postpartum sering melibatkan psikoterapi atau menggunakan obat-obatan, atau bahkan keduanya.

  • Psikoterapi. Sebuah sesi yang digunakan untuk ibu dan mungkin ayah untuk dapat bertemu dengan psikiater atau psikolog, kemudian membicarakan seluruh masalah yang mendasari terjadinya depresi tersebut. Psikoterapi bertujuan untuk mencari jalan bagaimana menyikapi suatu masalah, sehingga tidak menyebabkan beban bagi ibu.
  • Obat antidepresan. Obat-obatan antidepresan dapat diberikan oleh dokter jika dibutuhkan. Meskipun dapat masuk dalam ASI, obat antidepresan kebanyakan tidak menimbulkan efek samping bagi bayi.

 

Pencegahan Depresi Postpartum

Jika memiliki riwayat gangguan kejiwaan seperti kecemasan atau depresi sebelumnya, segera beritahukan kepada dokter saat melakukan pengecekan rutin kehamilan.

  • Selama kehamilan, Dokter akan mengobservasi gejala dan tanda dari depresi. Selama kehamilan beberapa ibu memiliki kecenderungan untuk memiliki depresi ringan.
  • Setelah bayi lahir. Setelah bayi lahir dokter akan merekomendasikan pemeriksaan rutin untuk mengetahui apakah ada tanda-tanda depresi atau baby blues syndrome.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Kamu harus segera ke dokter apabila mendapati tanda dan gejala dari depresi postpartum. Sangat penting untuk segera menghubungi dokter apabila gejala tidak hilang dalam dua minggu, gejala semakin memburuk, semakin sulit untuk merawat bayi, semakin sulit untuk mengerjakan pekerjaan sehari-hari, dan memiliki pemikiran untuk mencelakai bayi.

Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter pilihan di rumah sakit sesuai domisili kamu di sini.